Showing posts with label Contemplation. Show all posts
Showing posts with label Contemplation. Show all posts

Wednesday, 18 April 2012

Beyond My Dreams





Talking about dreams. It's obviously more than one, lots of them that I can't tell you all. And talking about pursuing my dreams is another thing. 

Kalau ditanya siapa tokoh yang menginspirasi dalam mimpi saya saat ini? Jawaban saya, Rachel Berry. Silly? Wait until you read this.



Miss Rachel Berry (pic: hollywoodlife-com)

Salah satu karakter utama dalam TV series "Glee" ini memang yang jadi role model saya dalam meraih mimpi. Dia punya bakat menyanyi yang luar biasa, performing skill yang nggak diragukan lagi, konsisten untuk mengejar mimpinya, fokus dan selalu baik pada semua orang. Meskipun nggak semua orang baik padanya.

Jangan dikira kehidupannya baik-baik aja, di sekolah dia (dulunya) bukan anak populer, sering jadi objek bully dan banyak yang menganggap dia ambisius dan cenderung nerd. But she never takes it personally, she moves on with her dreams. Yah, namanya juga cerita, jadi pasti ada ending yang menentukan nasib si karakter. Through all the ups and downs, akhirnya Rachel berhasil menempati satu langkah pertama yang akan mengantarnya menjadi aktris di Broadway, yaitu masuk ke akademi seni di New York, NYADA. 

Ya, saya tau kalau kehidupan Rachel Berry sebuah rekaan belaka. Tapi dari situ saya banyak belajar, kalau mimpi itu bukan keajaiban yang datang dari langit. Pencapaiannya nggak mudah dan butuh kerja keras, konsistensi serta doa yang tak henti-henti. Dibandingkan Rachel, mungkin lingkungan saya sedikit lebih baik, saya nggak menjadi objek bully atas apa yang saya kerjakan dan teman-teman saya pun mendukung apa yang saya kejar. Meskipun keluarga saya tidak banyak yang tau :]

And then, real life hits me. Saya punya seorang sahabat yang nyaris sama ambisiusnya seperti Rachel. She sets her own goal, she pursuits her dreams and she made it. Knowing her, inspires me to do exactly the same as she did. Even though it's never been easy.

Namanya Rizqy Amelia Zein, atau biasa dipanggil Amel. Dia ini temen saya kuliah, dari awal kenal sampai sekarang Amel adalah sosok yang selalu menginspirasi. Julukan saya buat dia adalah 'portable book reviewer', karena kita nggak pernah tau buku apa aja yang udah pernah dia baca. Bukan, bukan karena dia jarang baca buku, tapi justru sebaliknya. Cakupan range buku yang dia baca kita nggak pernah tau, Amel punya minat di bidang-bidang yang sangat luas dan di luar dugaan. Well, at least, dugaan saya sendiri. That's why I love talking to her, she knows everything.




Amel

Mendekati akhir kuliah, dia pernah bilang pengen jadi dosen di kampus saya. Temen-temen yang denger itu nggak ada yang meragukan dia, karena Amel bisa jadi apa aja. Jadi presiden pun dia bisa, saking pinternya dia. Jaman kuliah aja dia sering jadi tutor dadakan temen-temen saya termasuk saya sendiri bahkan sampai ke adik kelas. Sampai sekarang lagi ngerjain tugas akhir pun saya masih sering nanya-nanya dia dan dengan senang hati dia bantuin. Dengan predikat lulusan tercepat di angkatan saya, IPK tertinggi dan berbagai gelar lainnya, saya sendiri percaya kalau suatu saat mimpinya itu bakal tercapai. And she did.

Sekarang statusnya adalah salah satu staf pengajar honorer di kampus saya. Dulu jaman kuliah, Amel merupakan seksi sibuk. Seksi sibuk dalam berbagai hal, sampai dia dapet sebutan seleb kampus saking susahnya ditemuin. Apalagi sekarang, beh... makin sibuk aja dia. Tapi sibuknya Amel tentu demi terwujudnya mimpinya, itu wujud kerja keras nyata yang pernah saya lihat. 

Suatu hari saya dengar Amel pengen kuliah S2 di luar negri, via beasiswa tentunya. Karena itu merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi dosen tetap di kampus saya. Dia minta saya untuk mendesain Curriculum Vitae-nya yang akan dikirim ke universitas yang dia tuju. Tanpa pikir dua kali, saya ambil tawaran itu. Dan saya ternganga dibuatnya.

Sepanjang masa kuliah, Amel masih suka jalan-jalan bareng sama saya dan sahabat-sahabat saya yang lain. Nonton, makan bareng, you name it! Tapi di balik itu semua, ternyata Amel juga nggak males-malesan buat ngejar apa yang dia impikan. Dari ngerjain desain CV Amel, saya jadi tau kalau ternyata dia udah bikin berbagai penelitian dan ikutan berbagai macam konferensi yang saya dan mungkin juga sahabat-sahabat saya nggak tau selama ini. Baik yang skala nasional maupun internasional, baik yang sendirian maupun bareng beberapa rekannya. Menurut saya itu sangat mengagumkan buat seseorang yang keliatannya santai-santai aja, masih bisa hang out bareng temen-temennya, nonton series di laptop dan main Football Manager. Skill multitasking-nya keren banget dan itu yang bikin saya makin kagum sama Amel. Bayangin aja, beyond all those pressures, she's still having fun.

Selain pinter dan pekerja keras, Amel juga orang yang bisa dibilang religius dan punya interpersonal skill yang tinggi. Khusus yang terakhir, saya bener-bener harus belajar banyak dari dia kayaknya :D Seperti yang udah saya bilang di atas, selain bekerja keras dan konsisten, mengejar mimpi juga perlu doa. Karena semua nggak akan tercapai kalau Tuhan nggak mengijinkan, bukan? Saya emang nggak tau Amel beribadah dan berdoa seperti apa, tapi sepengamat saya, dia nggak cuma konsisten mengejar yang dia mau tapi juga konsisten dengan agamanya. Segala upayanya diusahakan melalui jalan yang lurus, jalan yang mendapat ridha-Nya. Bukan shortcut atau jalan curang yang banyak dosanya. Meskipun sulit, tapi toh Amel berhasil. Karena Tuhan memang mengijinkan, karena Amel memang memohon demikian.

Long story short, kekaguman saya pada Amel terbukti banyak mendorong saya untuk berupaya mengejar mimpi saya. Bahkan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya pun saya bertekad menyelesaikannya sebelum Amel pergi meninggalkan negara ini.

Ya, Amel berhasil diterima di sebuah universitas di Inggris untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master. Akhir tahun ini dia berangkat, nggak lama, bisa dihitung bulan. Untuk itu saya harus buru-buru menyelesaikan skripsi saya yang beberapa kali bikin saya mundur dan ogah-ogahan saking banyaknya cobaan yang harus dilewatin. Tiap kali dapet cobaan waktu lagi menyelesaikan tugas, saya selalu inget Amel dan ingatan saya selalu me-recall hal-hal yang positif tentang dia. Hal itu bikin saya semangat dan bangkit lagi. Karena saya percaya, Allah hanya ingin menguji, jalan keluarnya pun akan diberikan di kemudian hari asal kita mau mencoba dulu. Amel buktinya.

Cerita tentang Amel kalau diceritakan ulang tanpa mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya mungkin terdengar klise. Seandainya dibukukan pun sudah banyak buku-buku tentang cerita kesuksesan sejenis. Ibarat pepatah, semudah membalikkan telapak tangan. Tapi saya mengalaminya sendiri: susah-sedihnya, rasa syukur-gembiranya. Perjalanan masih panjang, Amel sudah melampaui setengahnya mungkin, saya juga nggak tau. Saya sendiri masih pemula, mengejar untuk jadi seperti Amel itu berat tapi bukan nggak mungkin. Suatu hari, saya juga akan berada di posisi Amel. Suatu hari nanti, insya Allah.

This post is also dedicated for the inspiration beyond my dreams, my bestfriend, Amel :]


Saturday, 3 March 2012

Konon katanya kita ini negara ber-Tuhan

Konon katanya negara kita ini negara dengan pemeluk agama mayoritas tertinggi, yang mana juga dapat diartikan memiliki kepercayaan akan Tuhan pada derajat yang sangat tinggi. Di mana konsekuensi kepercayaan atau keimanan adalah ketakwaan, yang diartikan dengan mengamalkan peraturan yang ditetapkan suatu agama. Dan sekali lagi, hal ini memiliki konsekuensi di mana dosa dan pahala memainkan perannya.

Beberapa waktu terakhir saya banyak bersinggungan dengan media, dalam artian saya lebih sering baca surat kabar, menonton program berita di TV, dan sesekali cek timeline di twitter yang belakangan kebanyakan dipenuhi tweet dari akun berita. Ada yang bilang, kalau mau menatap masa depan dengan optimis, berhenti nonton TV atau baca koran. Alternatifnya adalah baca berita di twitter atau di internet, I think it's just the same. Toh di twitter, stasiun-stasiun TV atau perusahaan surat kabar itu juga punya akun dan mereka secara periodik meng-update berita yang juga ditayangkan di TV atau diterbitkan di media cetak. 

I'm not gonna tell you about which media you should pick, but I'm gonna tell you something worse than that. Yes, it's sensitive. Yes, it's about God and His creation, human.

Dari berita saya seperti melihat sebuah paradoks. Kalau nggak salah, Indonesia ini negara dengan pemeluk agama Islam tertinggi, bahkan melebihi negara asalnya, Saudi Arabia. Saya juga tau kok kalau ada istilah "Islam KTP", toh itu nggak mempengaruhi persepsi saya karena negara ini masih menjadi negara pengekspor jamaah haji terbesar di dunia. Bahkan mau berangkat aja harus nunggu bertahun-tahun, bayangin aja mau ibadah aja harus ngantri. Well, still, Indonesia, is a country with a high degree of religious people I think.

Di masyarakat di sekeliling saya pun saya masih melihat aura religiusitas itu, ibu-ibu yang rajin pengajian, masjid yang aktif berkegiatan, remaja-remaja putri yang semakin lama semakin banyak yang mengenakan jilbab. Bukankah itu merupakan representasi masyarakat yang religius? Bukan?

Saya tahu beberapa kota mulai mengarah ke titik di mana kota tersebut akan menjadi sangat urban, metropolis, modern. Tapi apakah lalu meninggalkan etika yang diajarin agama? Sekolah-sekolah berbasis agama saat ini merupakan sekolah bergengsi yang biayanya jutaan dan banyak tuh orangtua yang bersaing buat nyekolahin anaknya di situ. Tapi apa iya ilmunya kepake? 


photo by Cassandra Niki

Yang pertama, kasus pembantaian orangutan di kebun kelapa sawit di Kalimantan. Saya nggak tau siapa yang harus disalahin, pemilik perusahaan kelapa sawit, pengelola kebun, atau pelaku pembantaian. Saya nggak tau, tapi Tuhan tau. Setau saya orangutan itu binatang paling kalem yang pernah saya tau, saya nggak pernah denger tuh ada orangutan menyerang rumah penduduk atau orangutan memakan hasil panen warga desa. Ibaratnya orang yang kita kenal paling sabar deh, pernah kena marah orang yang sabarnya selangit nggak? If you have, then it might be a worst mistake you've ever done. Hewan apapun deh, kalau teritorinya terganggu/terancam, pasti mereka akan menyerang dan mempertahankannya. Jadi kalau sampai ini hewan paling 'sabar' melakukan serangan, pastinya pihak tersebut udah parah banget mengganggu mereka. Trus kita mau rebutan sama hewan gitu? Sekarang yang makhluk tertinggi itu siapa sih sebenernya?

photo by alamendah

Kedua, terakhir saya denger ada penembakan harimau Sumatra. Demi Tuhan ya, ini harimau udah langka banget pake ditembakin segala. Alesannya karena menyerang area penduduk, klise tau ga?! Berita semacam ini udah sering banget saya denger dan kayak nggak ada upaya perbaikan karena terus terjadi. Let me tell you once again, hewan nggak akan menyerang selama nggak berada dalam kondisi terancam. Hewan paling sensitif sama teritori kekuasaannya, you should know that better if you live near the forests or any animal's habitats. Apalagi ini harimau, hewan buas berdarah dingin yang suka berburu dan paling anti wilayah kekuasaannya diganggu. Udah semestinya kan kita saling menghargai 'wilayah kekuasaan' masing-masing. Hey, hewan juga makhluk Tuhan, aren't they?

photo by pinewswire

Ketiga, membunuh sepertinya menjadi jalan penyelesaian masalah. I still don't get it. Mungkin orang yang dianggap membuat masalah akan lenyap (setelah dibunuh), but don't you know that there're consequences for everything? Tuhan siapa yang menghalalkan pembunuhan untuk menyelesaikan masalah? Kadang masyarakat kita terlalu sensitif untuk hal-hal yang tidak perlu, ditambah lagi tayangan TV yang seperti 'mengajarkan' etika/cara-cara yang nggak baik dalam menyelesaikan masalah atau dalam menjalankan hidup. Well, I'm not Mario Teguh or Oprah or Aa Gym or even Mama Dedeh. Saya melihatnya dari perspektif seorang siswa yang melihat kenyataan dan membandingkannya dengan ilmu agama yang pernah saya dapat sewaktu sekolah. Sekolah saya emang bukan sekolah agama yang mahal, cuma sekolah negeri kok. Tapi di sana saya diajarkan mana yang benar dan mana yang nggak. Ya, menurut agama dan saya yakin nggak ada agama manapun yang mengajarkan pembunuhan sebagai jalan keluar penyelesaian masalah. Dengan catatan, agama yang legal di negara ini.

Keempat, so does with the rape cases. Dilakukan oleh pacar sendiri, orang yang nggak dikenal, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Berdasarkan ilmu agama yang pernah saya pelajari waktu sekolah dulu, dari kasus ini saya bisa melihat bahwa kiamat memang sudah dekat. These people, tidakkah menyadari bahwa apa yang dilakukan akan membawa konsekuensi, nggak cuma pada dirinya sendiri tapi juga pihak yang jadi korban? Terlepas dari agama, bukankah negara kita adalah negara dengan tingkat 'tepa slira' yang kental? Di mana tata krama dijunjung tinggi dan keluarga merupakan pihak utama yang bertanggung jawab akan proses pembelajarannya. Atau budaya ini sudah bergeser?

photo by danshenplus

Kelima, manipulasi bahan makanan. Ya ikan dan tahu diformalin, bahan baku basi/expired masih dipakai, penggantian bahan baku dengan bahan yang berbahaya/penyalahgunaan bahan baku, penambahan zat berbahaya pada bahan makanan... Kalau melihat berita yang demikian, saya jadi berpikir, makan apa ya yang nggak berbahaya? Karena kelihatannya semua makanan yang kita makan sehari-hari mengandung zat berbahaya. Ya martabak, ya pempek, ya gorengan, bahkan beras yang jadi konsumsi sehari-hari pun jadi sasaran manipulasi bahan makanan. Mestinya nih, selain ada informasi dari pihak ilmuwan yang menerangkan bahaya zat-zat yang nggak pada tempatnya tersebut, juga ada keterangan dari tokoh agama. Kan ceritanya negara kita ini negara ber-Tuhan, mestinya masyarakat kita takut dong dengan konsekuensi tindakan yang salah, mestinya dosa jadi pertimbangan seseorang buat melakukan suatu tindakan. Kalau emang masyarakat kita adalah masyarakat yang ber-Tuhan, semestinya segala tindakan selalu menengok pada dosa dan pahala. Am I right?

Sebuah celetukan pernah saya denger dari nyokap ketika kasus Kebun Binatang Surabaya lagi panas-panasnya, yang mana korbannya adalah hewan-hewan di sana yang mati satu per satu. "Orang-orang ini dosa lho ya, yang ditanganin ini kan bernyawa." begitu kurang lebih komentar nyokap waktu itu. Nyokap sejujurnya bukan aktivis pemerhati binatang, tapi beliau tau betul hal seperti apa yang sedang dihadapi di sini.

Nyawa. Hidup. Ya, kadang itu yang luput dari perhatian kita. Tindakan yang dilakukan terkadang nggak mempertimbangkan aspek ini, kepentingan orang lain. Bukankah manusia itu makhluk sosial? Mana buktinya kalau manusia memperhatikan kepentingan pihak lain? 

Baik itu makhluk lain ciptaan Tuhan (hewan, tumbuhan) atau manusia sendiri, manusia masih luput bahwa nyawa itu mahal harganya. Mahal dalam arti memiliki konsekuensi yang tinggi ketika seseorang bertanggung jawab terhadapnya. Nggak sepantasnya manusia menentukan nilai sebuah nyawa, kita kan bukan pencipta, kita nggak akan bisa menaksir harganya. Terlalu tinggi dan nggak akan terbeli. Bahkan undang-undang hukum yang mengatur tindakan yang sampai menghilangkan nyawa orang lain pun masih nggak mampu menggambarkan perkiraan harga sebuah nyawa. Konsekuensinya sangat besar, harganya sangat mahal. Manusia tau apa.

Naif saya bilang kalau ada manusia yang berani-beraninya mematok harga sebuah nyawa, playing God. Mungkin Tuhan di atas sana cuma tertawa sinis melihat manusia yang sok-sokan ngasih harga atas sesuatu yang dibuat-Nya. Orangutan atau harimau dianggap menganggu, dibantai aja, habis perkara. Berapa nyawa yang melayang? Sanggupkah manusia membayarnya di kehidupan berikutnya? I doubt it.

Negara kita memang masih terus berkembang, berbagai perubahan memang terus berlangsung. Kemajuan teknologi dan bisnis datang dan pergi di negara ini. Tekanan ekonomi tak terelakkan, kriminalitas di mana-mana, tapi negara tetap harus terus bergerak maju. That's the fact, unfortunately. Ready or not. Tapi apakah dengan begitu melupakan etika sederhana yang diajarkan agama? Melepaskan predikat negara timur yang menjunjung tata krama? We used to be a peace country, because we are eastern. Mungkin kita kalah maju dibanding negara barat, tapi kehidupan selalu tenang dan damai, kan?

photo by webtechman

I think what matters here is education. Baik itu dari segi agama, moral maupun ilmu pengetahuan. Bergantung pada pemerintah? Mau sampai kapan? Educate your self! Beruntunglah sekarang ada internet, perpustakaan meng-update koleksi mereka, akses informasi di mana-mana. Don't waste your time being uneducated. Pendidikan itu nggak cuma ngerti persamaan aljabar, mengerti konsep ekonomi atau mahir berbagai bahasa asing. It is more than that, way more. Banyak hal yang nggak diajarkan di sekolah, hal-hal yang bahkan lebih aplikatif di kehidupan sehari-hari. 

Kalau nalar saya sih, semakin banyak belajar, banyak membaca, the more you educate your self, semakin banyak perspektif yang kita tau, semakin tinggi rasa apresiasi kita terhadap sesama, semakin terbuka wawasan dan pikiran kita which means nggak akan gampang tersinggung, tau bagaimana memperlakukan sesama makhluk Tuhan, tau batasan-batasan yang boleh dilakukan sebagai manusia yang beradab, dan tau pentingnya kedamaian dalam kehidupan.

Saya memang besar dalam keluarga yang cukup religius, saya diajarkan batasan dosa dan peraihan pahala. Tapi saya juga cukup sadar bahwa pada kenyataannya dosa dan pahala akan mengalami situasi yang lebih kompleks. Not only black and white, but also grey. Di mana hal ini akan menjadi lebih sederhana ketika saya tetap berpegang pada kedua hal dasar tersebut. Strict? Nggak juga kok, agama yang saya anut cukup fleksibel dalam mengatur kehidupan umat-Nya. 

I'm not a saint, I'm human. Tempatnya salah dan dosa, right? Khilaf yang dijadikan alasan mungkin masih masuk akal kalau cuma sesekali terjadi, tapi gimana jadinya kalau hilang akal dan menghabiskan 23 nyawa berturut-turut. Apa itu masih disebut khilaf?

Balik lagi ke tulisan saya di atas, konon katanya negara kita ini mewajibkan rakyatnya untuk memeluk suatu agama, untuk memiliki Tuhan dalam hidupnya. Menurut saya, kewajiban ini perlu dikaji ulang, masih banyak masyarakat kita yang nggak mau memiliki Tuhan. Atau nggak percaya mungkin? Who knows.

photo by wikipedia

Nggak perlu lah tau ilmu agama yang terlalu mendalam bak pemuka agama buat paham arti dosa dan pahala. It's simple, really. Karena dua hal ini semestinya diajarkan sejak kecil, tentang salah dan benar. Easy right? Everyone had it when you were a little kid. Percuma juga kalau pendidikan setinggi langit tapi etika nol, yang ada penyalahgunaan ilmu melulu. Atau sebaliknya, agama boleh khatam tapi pendidikan bener-bener buta, jadinya malah pembodohan dan akhirnya terbelakang. Live your life in a balance way, ibaratnya mobil yang sedang melaju pendidikan itu pedal gas, maka agama adalah pedal rem dan kopling yang akan menyesuaikan dan mengendalikan laju kendaraan.

Educate your self and be humane, my friend :]

Tuesday, 13 July 2010

Learning from the bad things


Sudah lama rasanya nggak nulis sesuatu yang serius, yang isinya bukan cerita jalan-jalan saya atau curhat tentang hari-hari saya yang kayak pejabat: sibuk sana-sini -____-"

Mungkin karena waktu nggak ngijinin saya buat nulis tema yang seperti itu, saya disuruh senang-senang dulu. Belajar nanti. Well, thanks time, now it's my turn to learn again :]

Life goes up and down
, saya bersyukur masih bisa belajar dari situ. Belakangan saya dihadapkan pada situasi-situasi yang menuntut saya buat belajar darinya. Mulai perasaan ditusuk dari belakang gara-gara ada yang main gerilya, ngadepin orang yang keras kepala dan susah ditebak maunya apa, berada di kondisi di mana saya harus tetep berusaha ngelakuin segalanya sendiri meski yang mau bantuin banyak, dealing with new people, menghargai perbedaan (di level yang sangat, sangat, sangat tinggi) sampai menyadari bahwa posisi saya sebagai anak yang bergantung pada orangtua sudah hampir selesai. Masalah. 

Kelihatannya emang seperti itu, saya pun menilainya demikian ketika situasi itu datang pertama kali. Namun, semakin ke sini, mereka jadi bahan renungan saya. Saya, yang melihat sesuatunya secara visual pun melihat hal-hal tersebut sebagai bercak tinta dan kehidupan saya sebagai kertas hitam polos. Kenapa hitam? Karena saya suka warna hitam, warna pada bercak tinta akan kelihatan lebih menonjol dengan latar hitam :] Kalau warnanya menonjol, tentu mudah diingat kan? Bercak tintanya akan jadi pegangan saya buat menjalani hidup beberapa tahun ke depan.



Masih dengan analogi bercak tinta, kalau hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas tidak hadir dalam hidup saya, maka kertas hitam saya hanya akan dihiasi warna abu-abu saja. Monoton. Nggak ada warnanya, membosankan dan saya nggak akan belajar apapun. Makanya saya bersyukur bisa dapet yang warna-warni. God still care about me :]

Mengeluh, bisa jadi hal mudah pertama yang akan dilakukan ketika permasalahan datang. Instead of whining, biasanya saya menyebut nama-Nya, dengan harapan saya selalu di bawah lindungan-Nya dan mendapat kemudahan dalam melewati batu kerikil tadi. Beruntung saya dikelilingi orang-orang yang membantu saya untuk selalu ingat pada-Nya. Saya jadi semakin merasa bahwa Dia Yang Maha Melihat ada untuk memastikan saya baik-baik saja. Alhamdulillah.



Dari sini saya pun akhirnya belajar, bahwa pada dasarnya manusia itu sendirian. Terlepas dari predikat makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Manusia tetap seorang diri, menjalani kehidupannya sendirian. Tanggung jawab, bekerja keras, perasaan... itu semua milik manusia sendiri. Tidak bisa dibagi dan yah, itu semua kehidupan. Kehidupan nggak bisa dibagi, manusia adalah pemilik mutlak kehidupannya. Ia sendiri yang menentukan bagaimana ia akan hidup. 

Hal ini bikin saya sadar, bahwa tanggung jawab saya sebagai seorang dewasa sudah hampir tiba. Masa depan saya sudah di depan mata, sebentar lagi saya sudah tidak boleh bergantung pada orangtua. Teman-teman yang saya miliki sekarang merupakan kembang kehidupan saya, mereka memberikan support non-material yang saya butuhkan. Tetapi itu nggak akan berpengaruh apa-apa pada tanggung jawab saya sebagai seorang dewasa. Saya bertanggung jawab pada Allah dan diri saya sendiri, dan mungkin juga orangtua. Sayalah penentu tunggal dalam segala keputusan di kehidupan saya.

Tanggung jawab ini terasa berat, sejujurnya. Saya bisa jadi sosok yang sangat individualis bila saya mau, saya punya kecenderungan ke arah itu. Dan tanggung jawab ini bisa terpenuhi dengan sempurna bila saya disheartened, jadi individualis sejati. Tetapi, saya memutuskan untuk nggak jadi vampir lagi bagi orang-orang yang saya sayangi. Saya nggak mau kembali ke dunia yang gelap lagi, saya nggak mau menyia-nyiakan usaha mereka yang sudah membuka mata saya; menyadarkan saya untuk 'it's ok to be like this'. Saya udah nyaman di sini.



Tapi kadang, beberapa hal mendorong saya buat kembali ke sana. Kembali ke masa saya masih jadi vampir jahat yang nggak peduli sama orang lain, anti-sosial. Saya cuma bisa nangis aja sama Yang Di Atas kalau udah gitu.

Peran. Semakin ke sini saya jadi notice sama yang satu ini. Status seseorang dalam kehidupan saya sekarang ini nggak berarti apa-apa, yang saya perhatikan adalah perannya. Beberapa orang berperan melebihi yang seharusnya, sementara di sisi lain sejumlah orang nggak melakukan porsi perannya dengan baik. Peran, bagi saya adalah bertindak dan berperilaku pada suatu situasi di mana saya membutuhkan keberadaan peran tersebut. Keberadaannya saja buat saya sudah sangat membantu, untuk beberapa kasus. Saya sudah tidak peduli status orang itu apa, saya hanya peduli pada perannya. Oleh karena itu, cerita sama orang asing, buat saya lebih nyaman dibanding sama sahabat sendiri ;]



Beberapa hal, akhir-akhir ini bikin saya semakin ingin segera melakukan hal yang saya suka. For the rest of my life. Doing art and/or writing, everyday. Saya pengen cepet-cepet nyemplung di dunia yang bener-bener saya sukai dan cintai setengah mati, seni dan menulis.



Di dunia seni, dari dulu saya pengen pekerjaan yang mengandalkan kreatifitas. Because that's where I put my love in. Mengolah sesuatu, menciptakan sesuatu dan menunjukkannya pada publik. It's a fun thing to do for me, saya suka sesuatu yang warna-warni, yang sifatnya visual, yang kegiatannya mendesain. Saya tau apa yang harus saya kerjakan, atau bisa jadi apa saya nanti. I know it, very well. Tapi cukup saya dan Allah saja yang tau, ini rahasia besar saya dengan-Nya :]

Menulis, sudah jadi habit in a daily basis. Menuangkan sesuatu dalam tulisan mungkin udah kayak kebutuhan buat saya. Tapi mencatat bahan kuliah atau bikin paper nggak termasuk yaa ;] Menulis sesuatu yang saya suka, jadinya bisa panjang banget dan saya pun nyadar akan hal ini makanya saya alihin ke sesuatu yang menuntut tulisan panjang buat jadi suatu produk. Still, ini rahasia besar saya sama Yang Di Atas. Nanti kalau sudah nggak jadi rahasia, pasti saya kabarin ;] Saya suka menulis (basically anything), dan blog adalah media yang tepat untuk itu :D



Daaaannn, bisa saya simpulkan, saya belajar banyak. Masalah, buat saya sekarang ini, merupakan media buat belajar. Saya berusaha keras untuk mencamkan itu di kepala saya setiap kali hal buruk datang, karena kecenderungan kita adalah untuk mengeluh atau got a bad temper immediately. Saya berusaha mengendalikan temper saya yang gampang jadi jelek, di mana kecenderungannya adalah bertahan lama. Biasanya, saya akan menghindar dari sumber masalahnya sejenak, menuangkan apapun itu yang ada di dalam kepala dan hati; rasa marah, nangis, ngumpat... Tapi nggak di depan sumber masalah. 

Crying is fine, asal nggak berlebihan. Saya menangis menghadap Allah, dan pada-Nya saya berbicara dan meminta pertolongan. Sesudahnya biasanya temper saya membaik dan emosi saya kembali normal meski nggak seperti sebelumnya. After cooling down, saya baru kembali seolah nggak terjadi apa-apa. Ini penting, karena masalah harus dihadapi dengan kepala dingin supaya jalan keluarnya bisa ditemukan. Di sinilah 'tangan-tangan yang tidak terlihat' itu memainkan perannya, di sini saya cuma bisa pasrah dan mengerahkan kemampuan yang saya punya :]

Saya berdoa, semoga hasil belajar saya yang kemarin-kemarin itu bisa jadi support yang cukup dalam menghadapi masa depan saya yang udah di depan mata. Saya tau saya sedang 'didorong', saya sadar. Saya pun mengalami krisis di mana saya harus mempertahankan mimpi dan passion saya atau menyerah pada keadaan. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya bukan tipikal orang yang menyerah pada keadaan. Saya mengikuti apa yang jadi passion saya, saya punya interest yang cukup banyak. Itu bisa jadi pegangan saya dalam menjalani masa depan saya nanti. Saya sedang 'didorong', saya ngerasain kok. Makanya saya berdoa sama Yang Maha Kuasa biar diberi kekuatan dan kemudahan untuk stay on track dan bisa menjalani apa yang menjadi passion saya selama ini. Insya Allah.



Well, kehidupan ini mungkin saya bilang punya manusia itu sendiri, tapi tetap yang mengatur adalah Sang Pencipta sekalipun kita yang menentukan ke mana akan melangkah. God always has a plan for us, saya mempercayainya. Biarkan waktu berjalan perlahan mengantarkan saya ke sana, biar kehidupan memberikan kesempatan buat saya untuk belajar dan jadi lebih baik. Insya Allah.

Sunday, 6 December 2009

I need a friend

I always bring mirror everywhere I go. No, not literally. This mirror I use so that find out which one is right and which one is wrong. So, I know how to treat people like the way I treat my self.

I used to be sick of people who always telling me what to do, telling me the right thing to do with my life. But then I realized maybe I need to be open to other's opinions. Oh yeah, I got it right but then I'm back to sick of it again.

Mostly I see parent's roles around me, I don't know, they're full of superego and I keep the words in mind. No matter what. I learn and trying to put everything on its path. I really try. After all, I do recognize the bad things and I try to always avoid them.

But, apparently the superego won't last that long. I hate to see this phase again, the phase where I lost my trust to certain roles. I just don't get it, where those superegos when they act like the ones the superego has told me wrong? Where the heck those stuffs has gone??

I'm sick. I'm sick. I'm fed up with people keeping their image or whatever. Oh I'm bloody fed up with an ignorant. You throw me away, you know that?! Then, don't be upset if you find nobody next to you after that. It's all your fault and I'm not the one who walked away. It's you.

Getting older, I think, I'm gonna get better experiences. You know, being wiser and face everything as a grown-up. But then, the more I grow up, the more I see people acting like a fuckin little kids. I'm wondering, where're the adults gone? Are they still exist or I'm the only one now? Nevermind.

Kids don't talk their problems, kids don't tell your fault, kids have silent habit when they get mad. I don't wanna meet anymore kids, I wanna have real grown-up friends. A friend who simply stand by me, talk to me and just save my ass. You get the point.

Pardon me for this rude post, I just wanna spill my thoughts before I'm going insane. This human stuffs is a complicated deal. Really. The more I get here, the more I find less people to trust to. I simply need a friend. Just a little tiny friend. You know what friend is. Is that too much to ask?

Don't make me lose my trust to you. My trust is a whole things you have in me, mate.

This shit reminds me of a Paramore's song, Ignorance. That song describes my condition in a better way. It's like I'm the one who wrote that song, but I really don't wanna have someone to give that song. Really. If I could write a song, then I'd write You've got a friend. It way better to write and to give :]

If I'm a bad person, you don't like me
Well, I guess I'll make my own way
It's a circle, a mean cycle
I can't excite you anymore

Where's your gavel? Your jury?
What's my offense this time?
You're not a judge but if you're gonna judge me
Well, sentence me to another life

Don't wanna hear your sad songs
I don't wanna feel your pain
When you swear it's all my fault
'Cause you know we're not the same
No, we're not the same, oh, we're not the same

We're the friends who stuck together
We wrote our names in blood
But I guess you can't accept that the change is good
It's good, it's good

Well, you treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
I guess I'll go, I best be on my way out

You treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
I guess I'll go, I best be on my way out

Ignorance is your new best friend
Ignorance is your new best friend

This is the best thing that could've happened
Any longer and I wouldn't have made it
It's not a war, no, it's not a rapture
I'm just a person but you can't take it

The same tricks that, that once fooled me
They won't get you anywhere
I'm not the same kid from your memory
Well, now I can fend for myself

Don't wanna hear your sad songs
I don't wanna feel your pain
When you swear it's all my fault
'Cause you know we're not the same
No, we're not the same, oh, we're not the same

Yeah, we used to stick together
We wrote our names in blood
But I guess you can't accept that the change is good
It's good, it's good

Well, you treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
Well, I guess I'll go, I best be on my way out

You treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
Well, I guess I'll go, I best be on my way out

Ignorance is your new best friend
Ignorance is your new best friend
Ignorance is your new best friend
Ignorance is your new best friend

Well, you treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
Well, I guess I'll go, I best be on my way out

You treat me just like another stranger
Well, it's nice to meet you, sir
I guess I'll go, I best be on my way out

Saturday, 12 September 2009

A Point of View

I told you on the couple last post that several problems haunting my life like crazy and now, I think, I got a lesson from it.

Kejadian akhir-akhir ini (selain prestasi akademik terakhir yang tidak progresif) membuat saya banyak merenung, yes I told you before. Dan sekarang semakin membuat saya merenung lebih lama dan lebih dalam. Banyak hal yang membuat saya tidak habis pikir kenapa bisa terjadi, bukan pada saya atau bahkan kehidupan saya. Yang saya tanyakan adalah kenapa bisa terjadi pada X atau dalam situasi Y atau apalah yang secara tidak langsung masih berkaitan dengan saya tapi saya tidak menduga prediksi saya bisa tepat. In negative way.

Bingung? Baiklah, saya langsung pada intinya saja. I'm gonna talk about friends. Honestly, I've never got friends-thingy like this before. Permasalahan dengan seorang teman akan selesai dengan kata 'maaf' dan bahkan masalahnya pun sangat ringan sampai mudah dilupakan hanya dalam beberapa menit setelah baikan. Yang saya hadapi akhir-akhir ini sudah merupakan sebuah dinamika sungguhan dalam kelompok masyarakat dan saya sedikit terkejut karenanya.

Saya tidak akan membahas permasalahan apa tepatnya yang sedang saya hadapi, karena itu tidak penting. What matter is the way I see the problems and what lessons I got from them. Because I'm talking about friends, so the lesson is certainly based on that topic.

1. Teman sejati is a true friend a.k.a bestfriend
Sosok teman sejati sangat sulit dicari, someone who will stay there when you reach the lowest point in your life. Seseorang yang akan menjagamu ketika bersama maupun tidak. Seorang saudara yang akan menutupi keburukan saudaranya di hadapan orang lain, mengutip Hadis Riwayat Muslim dari Abu Hurairah: "Barangsiapa yang menutupi aib saudara muslimnya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia maupun di akhirat" :]

2. Mulut terkadang lebih tajam dari mata pedang

Keep it silent if it's necessary. Dengan adanya ujian-ujian ini saya jadi sadar kalau akhir-akhir ini saya tidak diam lagi seperti dulu, which become a reminder for me to come back to the path I should be. Apa yang keluar dari mulut ini, terkadang bisa menghancurkan seseorang dan mengubah sudut pandang pemikirannya. Bisa baik, tapi juga bisa buruk. So, you'd better THINK first before you say something, THINK about the EFFECT to your self, to the people you talk with, to other people who heard it accidentally or to the people you talk about.

3. Blend means blend, not grouping with your own kind
Ketika kita berada bersama dengan orang lain, dalam skala besar (forum misalnya), then appreciate people around you with not buzzing alone with your best fellas or whatsoever. Bayangkan kalau kamu yang berada sendirian di tengah orang-orang yang sudah saling mengenal dan nggak ngerti apa yang mereka bicarakan karena kamu nggak pernah/jarang bersama mereka. Males banget kan? Mau nimbrung, iya kalo yang dibahas itu topik untuk umum. Kalau masalah pribadi? Jadi rikuh sendiri kan. Jadi kesampingkan dulu 'masalah'-mu dengan sahabat dan membaurlah dengan membahas topik bersama yang lebih umum (and of course more fun!).

4. Bestfriends ain't a tissue paper
They're not used, they're accompany and support you no matter what. Biasanya ini menyangkut masalah akademis: kuliah, sekolah de el el. Kalo lagi butuh, dibaik-baikin kayak tuan putri, eh .. giliran lagi berantem langsung deh didepak gitu aja kayak nggak pernah kenal. Nggak hanya pada sahabat/teman, we are human, we are social creature. Bertemanlah bukan karena kamu butuh seseorang di saat-saat tertentu, tapi bertemanlah karena kamu butuh seorang teman dalam hidupmu.

5. Backstabber is a coward
Bentuknya macam-macam, mulai menghasut sampai ngomongin di belakang. Tapi pada intinya, backstabber adalah musuh tersembunyi yang berwajah teman. This is more dangerous because they know you inside and out and they can break you down just like that! Why I named them coward? Karena mereka bilang suka tapi aslinya benci abis, karena mereka nggak berani bilang benci di depan orangnya langsung dan beraninya cuma menghasut orang-orang di sekitarnya dan malah ngejelek-jelekin di belakang orangnya. Backstabber juga punya nama lain, si muka dua. Kasihan ya, nggak punya muka pasti sampe beli dua biji.

6. Honesty will keep your friendship longer
Katakan sejujurnya dan langsung pada orangnya, nggak perlu ngedumel di belakang dan jadinya malah bergosip. Bukankah itu gunanya teman? Tempat pengkritik dan pemberi saran? Teman yang paling dekat dengan kita, yang bisa menilai kita luar dalam, yang bisa komplain tanpa kita merasa tersinggung karena kita percaya itu untuk kebaikan kita juga. Like I said on the #5, ngomongin temen sendiri di belakang sama aja kayak backstabber. Communicate it if you don't like and they will smile because you make her/his life better.


Dan saya rasa, kesimpulan dari permasalahan beruntun yang saya hadapi belakangan adalah selalu mencari hikmah dan pelajaran yang coba ditunjukkan oleh Tuhan. By introspection :]

Karena ujian-ujian itu intinya adalah untuk membuat hidup kita lebih berkualitas dan lebih bermakna, tentunya supaya kita menjadi lebih baik di masa depan. Trust me, every problems you gotta deal with your besties is the best way to know them. It will increase the quality of your friendship :]




P.S.: and I couldn't say anything than billion litter of thanks to the One who give me life so I got a best gift in my birthday :]

Thursday, 21 May 2009

Generasi Fenomena

Era Friendster baru saja berlalu. Jaman di mana salah satu social network paling digemari di Indonesia itu menjadi tujuan pertama remaja dan orang dewasa ketika online. Tak lama kemudian MySpace menyusup, tapi sayangnya tidak segempar Friendster. Friendster benar-benar menjadi suatu fenomena saat itu. Saya sendiri join pertama kali karena penasaran, itu saya masih kelas 3 SMP. Tapi setelah itu jarang online karena saya lebih suka download wallpaper di Google dibanding kirim-kirim testimonial (lagipula temennya belum banyak).


Menginjak SMA, saya mulai aktif online di Friendster (mulai dari sini, kita sebut saja FS). Karena ajakan teman yang ternyata doyan kirim-kirim testi. Dan ternyata saya dapat manfaat dengan punya FS setelah mengira punya FS cuma ajang nampangin foto (waktu itu saya pake fotonya Ashlee Simpson), saya bisa ngobrol bareng sahabat-sahabat saya sejak SMP yang sudah terpisah ke mana-mana itu. Jadi nggak perlu repot surat-suratan segala. Irit dan efektif :D

Member
yang sering online FS bakal cepet dapet temen banyak, selain add friends juga approve friend request. Pokoknya berusaha jadi seleb Friendster deh, kenal nggak kenal jadiin temen aja. Trus di jaman ada limit friends, sampai bikin lebih dari 1 account (untungnya saya nggak sampe ikutan bikin). Whoa, sumpah narsis abis!

Friendster
kini teronggok tak berdaya ditinggal para membernya (khususnya di Indonesia), setelah virus Facebook menyergap kalangan penggila social network. Yah, nemu yang baru, yang lama dibuang.
Awalnya saya pengen nyoba join Facebook karena ada Green Application-nya. Waktu itu di antara temen-temen saya, yang punya baru saya seorang (sekitar awal tahun 2008). Jadilah temen-temen saya terdiri dari: kalau nggak profil majalah impor ya bule-bule yang nggak saya kenal atau seleb Indonesia (yang pertama kali saya temuin adalah account Facebook-nya Ari Tulang) dan seseorang dari tim Artistik CosmoGIRL Indonesia. Lama-lama saya merasa Facebook isinya widget mulu, nggak ada bedanya sama FS. Tapi saya tetap bertahan karena ada beberapa account teman yang saya suka (mayoritas majalah remaja gitu).

Karena kesepian, saya pun mengemis sama temen-temen saya di kampus dan di Friendster buat join di Facebook. Tapi upaya saya itu mental gitu aja, kebanyakan alasan yang dikemukakan adalah karena enak main di FS atau males bikin account lain lagi (karena masih sepi peminatnya). Seiring berjalannya waktu, beberapa temen saya di MySpace ada yang mulai bikin dan hal itu membuat saya tetap bertahan sampai menjelang akhir 2008.

Tidak lama memang saya join karena setelah itu semua data yang ada di halaman profil saya hapus dan hanya berisi tulisan yang intinya menyuruh untuk mengunjungi blog saya atau account saya di situs lain. Status waktu itu juga belum seheboh sekarang yang gonta-ganti tiap sepersekian menit. Saya cuma ganti status tiap kali online, nggak bolak-balik per menit. Intinya, saya menutup account saya di Facebook (waktu itu belum tahu caranya Deactivate).

Di awal 2009, mendadak Facebook is the new Friendster. Semua orang latah bikin Facebook, bahkan harus saya akui fenomena ini melebihi hebohnya Friendster jaman dulu itu. Mbak-mbak kantoran di bemo aja ngobrolin Facebook kok. Apa saya malu karena nggak punya Facebook? Nggak sama sekali, karena saya tahu ini cuma fenomena yang sifatnya temporal. Hanya sebagai tren sesaat di kalangan 'social networker' *istilah apaan tuh, ngarang abis*

Sekarang kedudukan seperti berputar balik, saya yang dulunya ngemis-ngemis dan berharap booming Facebook bakal menyergap teman-teman saya malah menjadi pihak yang diharapkan join di Facebook, atau lebih tepatnya: kembali ke dunia per-Facebook-an (Deactivate memungkinkan member untuk login kembali dengan e-mail yang sama). Saya sampe nulis di FS kalo saya udah nggak join di Facebook lagi dan bahkan nulis "I don't have Facebook" karena saya udah bosan menjawab pertayaan 'Punya FB nggak?' (FB: Facebook).

Dalam hati saya cuma tertawa kecut dan berkata "Males, salah sendiri kenapa dulu nggak bikin." kalau ada temen deket yang nanya. Atau kadang kalo saya lagi baik, "Nggak punya, saya kan gaptek." atau, "Facebook itu apa sih?"

Booming Facebook lama-lama juga merambah dunia telekomunikasi secara luas. Maksudnya, sekarang provider handphone kalo promosi internet pake embel-embel 'Facebook, Messenger, browsing'. Dulu, mana ada promosi 'Friendster, MiRC, Google'?! Trus HP yang dipake buat internet (dalam iklan) juga bukan HP standart yang kebanyakan dimiliki masyarakat. Modelnya masing-masing pegang Blackberry (BB) dengan silikon pelindung yang warna-warni. Saya kok merasa dibodohi ya somehow.
Lama-lama munculah fenomena Blackberry di kalangan selebritis. Di sinetron-sinetron, aktris dan aktornya pada pegang BB yang warna silikonnya beda-beda. Fenomena ini merambah ke kalangan atas dan jadi gengsi tersendiri. Nggak punya BB, nggak eksis.

Produsen ponsel juga nggak mau kalah, demi mengikuti pasar, dikeluarinlah handphone dengan ukuran segede BB yang fiturnya tetap seperti HP standar (high-end). Padahal seharusnya, jaman udah makin modern, bukannya segalanya lebih mini dan lebih praktis. Eh, ini handphone malah meledak segede konsol Playstation.

Kedua fenomena yang hampir bersamaan ini (Facebook dan Blackberry) jadi berita tersendiri di sejumlah media massa. Ada yang meliput sekumpulan ibu-ibu arisan yang semuanya pegang BB atau polling mengenai kegiatan apa yang dilakukan kalo lagi online FB. What a blast!

Kalau keuntungan Facebook bagi saya adalah karena ada Green Application-nya (ok, sepele banget), kalau BB karena bisa internet cepet (salah satu keuntungan provider yang ngasih service khusus) dan bisa mobile browsing atau ngecek e-mail kapan aja tanpa perlu repot-repot buka laptop. Tapi kebutuhan mobile itu pun masih bisa diakomodasi si Shiro, jadi ya nggak perlu-perlu amat. HP saya yang superjadul masih berfungsi sesuai tugasnya (telpon dan SMS). Foto-foto? Dulunya saya ngincer HP yang fitur kamera berkualitas tinggi, tapi sebentar lagi saya punya kamera sendiri jadi nggak perlu lah.

Kadang beberapa fitur dalam satu paket belum tentu berguna, sifatnya perseptual. Mungkin buat kalangan bussiness man yang mobile-nya super tinggi, BB merupakan pengganti organizer atau bahkan menggeser fungsi communicator (HP kelas eksekutif). Facebook bagi on-line shop, bisa jadi media networking yang sangat luas dan menguntungkan ;] Sekali lagi, sifatnya subjektif dan perseptual.

Ini cuma opini saya saja, nggak ada maksud apa-apa. Kalau menurut saya Facebook dan BB cuma fenomena, mungkin menurut beberapa orang itu adalah kebutuhan hidup. Tergantung dari sudut mana orang itu memandang sesuatu, ya kan? You may share your opinion, critics, or anything (no ethnic, religion, and race contents please). I'm open to them :]



P.S.
: it doesn't mean that I'm gonna be a Social Psychologist or what, note that!
P.S.S.: I heard, some people start feeling bored with Facebook, do you?

Monday, 6 April 2009

When silence is still golden

If you put me in a circle of random people, I'll be the one who stands quitely. Basically, I'm not a talkative person. I used to think that people who always know what to say, look confident talking in front of thousands guests and friendly to a new friend is the best idol I should follow. But then, life for once again changes my perception. When too many talkings felt overwhelmed, then it's better to stay quite.

When I look back several moments in the past, I will find my self trying to be a person I put as my idol--the best idol. But now, that moment is no longer continue. I think it's a proud feeling to be just who you are, and I'm proud to be a quite girl like my secondary's teacher used to call me.

Quite is being silence and silence itself has two different reasons. You can be silent because you don't know, or you can keep quite because that's the right thing to do instead of talk shits. In my opinion, being silence is more than just listening what people saying and more than watching people doing things. It's quite common for people today to speak their minds, this condition is applied to me as well. I support democracy or everything related to a freedom to say opinions. But then, I think this democracy thing also gives people freedom to not saying what their minds. Not because the not knowing or there's a tyrant tells them so, but it's because silence is the best way to not making anything become worse than it has been.

I do lots of thinking in my head (until I get insomnia) and it's one of the reason why I'm categorized as a quite person besides I'm a shy girl. And I become quieter when I'm assured that some events is better when I just keep my mouth shut and watch what happened and then I'm gonna say a lil thing in the end of that event. Just to suggest something or critize it.

On the other hand, I'd prefer keep my words when I made a mistake by let the words spread out. This reason is stronger to transform me to be just my self than another reasons. I try to be nice by talking friendly but the feedback I got is people telling me to just keep my unimportant words inside. It hurts however, but makes me stronger somehow. And once again it reminds me why I should be proud for being a quite girl.

When people asking my comment or opinion about something, I'd rather say simple and common things. It's better for me to write or tell my opinion by my will. I will have an analyzing description and critics because I think about it before. I need to think everything (or plan it) before it comes out from my mouth. That's why there ain't many words I say when I talk to people because there're so many things I think don't need to come out, it's better stay in my brain.

I know there's a rule about when you can keep silence and when you have to say something immediately. That rule ain't wrong, I obey that because it's related with my life however. I can't be just still when my right is being abused. I will fight my rights no matter what.

So I think the old phrase 'Silence is golden' is still happening right now, especially these days. Too many shout outs will make everything looks complicated and turns bad. I'm proud for being a quite girl.



Saturday, 24 January 2009

Dream on, dream on!

Masih dalam semarak pelantikan Presiden Amerika, Barrack H. Obama, saya mau sedikit berbagi cerita. Terlepas dari bagaimana latar belakang dan bagaimana gaya berpolitik Obama, saya mau mengambil sisi positif dari kemunculan Obama di permukaan periode ini.


Tentu banyak yang udah tahu kalau Obama pernah mengenyam pendidikan di SD Menteng 01 Jakarta, mendadak teman-teman kecil Obama waktu itu jadi sering masuk TV menjelang election dan inagurasi untuk dimintai komentar mengenai kawan lama mereka itu. Nah, hal inilah yang menarik buat saya. Bukan mengenai apa yang diceritakan teman-teman masa kecil Obama itu tetapi bahwa pepatah gapailah cita-cita setinggi langit itu ternyata memang nyata.

Well, mungkin dulunya Obama nggak pernah bercita-cita jadi presiden negara adidaya itu but let see it again, miracle is always there waiting for us to come and chance never stay away from anybody. Setiap orang punya chance yang sama dan tinggal bagaimana kita menyikapinya. Obama adalah salah satu orang yang menyikapi kesempatan di hadapannya dengan bersikap optimis dan bekerja keras.

Alright, now I'm not gonna talk about those shits anymore. I'm not here for campaign or give some good words or whatever.
And this is what I'm gonna talk about. Did anyone see it from the childhood's story of Obama when he lived in Indonesia (yang cuma 2 tahun itu) which the media has been exposed? That nothing impossible in this world? Well, that's what I see from that memorable life story of Obama.

Pastinya teman-teman kecil Obama di SD Menteng itu nggak bakal nyangka kalau temen mereka yang aneh dulu itu sekarang memegang kekuasaan di negara superpower, Amerika. Ini nih yang bikin saya sadar kalau kata impossible itu rasanya nggak usah diciptakan saking useless-nya. Ini juga yang membuat saya sadar kalau teman-teman yang kelihatan sepele di sekeliling kita itu suatu saat bisa jadi somebody, termasuk kita sendiri.

Mungkin dulu waktu kecil, waktu main sama temen-temen segeng kita suka ngayal kalo gede mau jadi apa. Ada yang pengen jadi dokter (basic banget!), polisi (lebih basic lagi!!), atau pramugari. Atau mungkin juga ada yang pengen jadi diplomat (kayak saya hehe). Well, meskipun sudah terlambat (karena saya udah setua ini), tapi saya jadi menghargai impian-impian yang meluncur dari mulut anak kecil meskipun kedengarannya remeh itu. Karena mimpi itu suatu saat bisa jadi kenyataan, dengan kerja keras dan ikhtiar tentunya.

Dari dulu saya selalu berpikir bahwa Amerika itu negara mimpi, you can be anything in America. Anything. Nggak bakal ada yang menghalangi impian kita untuk jadi kenyataan, mau jadi dancer kek, mau jadi pelukis, mau jadi fashion designer, mau jadi... apapun. Karena negara itu seperti memberi kesempatan dan fasilitas bagi warganya untuk mewujudkan mimpinya. Sedangkan di negara kita, mungkin ada doktrin bahwa mimpi itu hanya untuk pengangguran. Well, Andrea Hirata bisa ke Perancis itu berangkat dari mimpi lho. Seolah ada peraturan tak tertulis yang mengatakan bahwa jangan pernah bermimpi yang tidak-tidak. Mimpi itu hak setiap manusia, kita bebas mengimpikan apa saja. Termasuk keliling dunia gratis :]


Mimpi, impian, merupakan harapan di mana harapan itu bisa juga berarti doa. Dan sebuah doa pasti ditujukan pada Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, di Amerika, anak-anaknya selalu ditanamkan untuk percaya pada mimpi mereka. Believe in your dreams. Saya akan tanamkan itu juga buat anak saya kelak karena nggak ada yang membahagiakan di dunia ini selain mimpi yang terkabul.

Saya nggak akan membahas bagaimana kondisi negara ini sehingga menyebabkan mimpi-mimpi anak-anak Indonesia sirna begitu saja. Karena kita semua tahu bagaimana tanggapan negara ini tentang mimpi warganya.

Well, I think that's it. Jangan pernah meremehkan teman-teman yang ada di sekelilingmu. Siapa tahu salah satu dari mereka nantinya adalah astronot pertama Indonesia. Dream on, people!

P.S.: ada yang mau tanda tangan saya sekarang? :]

Friday, 16 January 2009

Are we still in modern age?

It takes young victims until we all know that we are no more in modern age. I thought we were actually.

Seorang ayah mencium pipi putra kecilnya yang terbaring kaku di lengannya. Pria itu menangis pilu, tidak hanya satu orang putranya yang pergi dari kehidupannya. Tapi masih ada dua orang lagi yang sudah terbungkus kain kafan di dekat kakinya. Saya pun bisa merasakan bagaimana perasaan seorang ayah yang kehilangan 3 putranya sekaligus, di mana anak-anak itu masih sangat muda dan masa depan mereka masih begitu panjang.


Children, that's why it's getting wrong and worse.
Perang antar dua negara ini semakin menggelikan ketika yang menjadi korban adalah pihak yang lemah dan tidak berdosa, yang tidak tahu apa-apa tentang pertentangan konyol yang terjadi di negara mereka.


Women, in the other hand,
menjadi salah satu faktor kenapa semua ini menjadi semakin salah. Karena wanita-wanita ini berada di pihak yang salah. Pembela negara, mungkin itu yang mereka tanamkan di kepala masing-masing. But where's your conscience, girls? Don't you feel sorry about everything that happened to the kids, to the human in the same gender with you? I know they don't have a choice, but still, it's going wrong and worse when they get involved.

Jaman perang, saya pikir istilah itu cuma berlaku di masa lampau. Di mana kehidupan masih begitu primitif dan minim teknologi. Tapi ternyata pemikiran saya itu salah, masih ada negara yang memperebutkan wilayahnya sehingga masyarakat mereka pun berada dalam kondisi jaman perang, seakan berkontradiksi dengan jaman yang sudah melahirkan robot ini. Somehow it sounds riddiculous to me.

Bukannya seharusnya dengan kemajuan teknologi yang sekarang ini, semuanya bisa diselesaikan tanpa ada kekerasan dan korban berjatuhan? Bukannya perang perebutan wilayah dengan senjata berat dan serdadu di seluruh negeri itu produk lama peradaban?

Satu lagi yang menggelikan. Pihak yang seharusnya bisa menjadi perantara, yang seharusnya bisa mendinginkan kedua kepala itu, yang seharusnya berfungsi sesuai namanya, malah seolah mangkir dari kewajibannya. Saya hanya geleng kepala, selama setir itu masih tertanam di dasbor, mereka tidak akan bertindak apa-apa. Padahal seluruh body terdiri dari bermacam-macam bagian, kenapa kalah dengan satu setir yang sudah hampir tumbang?

This fact, this incident, makes me realize. That one violence's just gonna trigger another violence. No matter what the purpose, no matter who the victims are.

Well, this war is kinda too long. It's been years since the war had been declared. And don't they think how to finish this soon? Don't they ever think about listening to their kind friends outside? And don't the arrogant man think that war is sooo last year? Oh right, that's why they called arrogant.

It's like global warming still not enough being our problem. And this case, I feel like we ain't in millennium age or whatever. I feel like living in the time when my TV was black and white and had a bad sound and I wore vintage stuff.

This arogancy thing reminds me to a world war era once again, when there was a cold-hearted human who run a country and did genocide to anyone he thought useless. I think that kinda man had already gone to hell or something. Are they come back for the new version or what? Well honestly, they're not human I think.

Then it makes me proud of my country once again. Meskipun banyak masalah yang muncul di negara kita, yang tak kunjung usai dan semakin ruwet. Meskipun banyak yang menjelek-jelekkan citra negara ini, tapi setidaknya kita sudah merdeka. Kita punya teritori yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan di masa lalu dan jangan sampai negara kita yang kaya raya ini jatuh miskin.

Mungkin kita bukan negara adidaya, bukan negara penghasil teknologi canggih, bukan negara yang jadi tempat berhutang negara lain, tapi setidaknya kita punya persatuan itu. Punya kemampuan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas negara, sekalipun juga pernah ada konflik internal dan sempat kehilangan beberapa wilayah negara.

Well, saya pikir, manusia modern itu manusia yang bertindak dengan akal dan pikiran serta didukung dengan nuraninya. Bukan ototnya. Bukannya pola pikir 'let's war!' itu pola pikir barbar yang primitif. Sekali lagi, produk jaman purba. Saya pikir, orang-orang yang well-educated itu tentunya bisa berpikir dengan kepala dingin dan mencari jalan keluar sebuah masalah secara rasional.

Logikanya, perkembangan rasio manusia seharusnya akan membawa kita ke peradaban yang lebih damai dan jauh dari kekerasan.

So, I'm still wondering, can we still call this century as millenium age or we're back to the world war era with Blackberry?

Monday, 17 November 2008

I confused

Manusia ditakdirkan memiliki kapasitas otak yang sama. Menurut teori, di dalam otak terdapat dua jenis penyimpanan memori (STM dan LTM). FYI, LTM atau Long Term Memory merupakan bagian otak yang mampu memuat beragam informasi yang tidak terbatas jumlahnya. Jadi, menurut teori, seharusnya ungkapan 'Waduh udah lupa, itu kan udah lama banget' atau 'Sorry, aku kebiasaan nih suka lupa' tidak berlaku atau istilahnya makes no sense. Kecuali kalau emang informasi itu bersifat temporary dan nggak terlalu penting, kemungkinan bisa masuk ke STM atau Short Term Memory yang kapasitas penyimpanannya memang terbatas (cuma 7 unit).

Berangkat dari pengetahuan tersebut, saya jadi melihat sebuah fenomena di mana seseorang yang bolak balik menanyakan hal yang sama (bukan karena pikun atau udah tua). Seperti 'Gimana, Mbak, caranya main game ini nih?' padahal saya udah 3 kali menjelaskan dan dia selalu nanya hal yang sama tiap kali mau main game itu. Yang saya bingungkan, kenapa dia bertanya pada saya lebih dari sekali? Oke, mungkin wajar dan bisa dimaklumi ketika seseorang banyak bertanya ketika dalam proses pembelajaran. Dalam artian, ketika saya menjelaskan, ia bisa kok banyak bertanya atau mengulangi instruksi saya sambil praktek. Seriously, it will help you memorize everything by doing it while people telling you what to do. Tapi apa jadinya kalau bertanya itu berlangsung beberapa kali di mana sebelumnya saya menganggap pemahaman itu sudah didapatkan? Sometimes, it sucks. Well, kejadian tersebut mungkin ada kaitannya juga dengan metode pembelajaran tiap-tiap orang yang bisa berbeda-beda.

Saya bingung, kenapa sesuatu yang dianggap penting dan kerap dibutuhkan or say, it's kinda technical thing bisa dilupakan begitu saja. Bokap saya selalu mengajarkan untuk menggunakan logika dalam melakukan sesuatu dan di sisi lain, nyokap saya memberikan anjuran untuk melihat keadaan dengan rasa simpati dan empati. Dua elemen ini selalu berperang di dalam kepala saya. Oke, akan saya jelaskan lebih lanjut.

Berpikir logis berarti juga menggunakan nalar untuk menyelesaikan masalah. Sekarang saya tahu alasan kenapa bokap saya tidak pernah membiarkan saya selalu minta tolong untuk mengerjakan apa yang saya tidak bisa, terutama masalah teknis. Misalnya, ketika bokap meminta saya untuk mematikan keran air di taman depan yang baru aja dipasang.

Saya : Pa, muter kerannya ke kanan atau ke kiri?
Bokap : Matiin keran ke kanan atau ke kiri?

Bukannya bokap males jawab, tapi sejak kecil pertanyaan saya selalu dibalikkan seperti itu oleh bokap supaya saya bisa mencari jalan keluar sendiri berdasarkan logika dan nalar saya. And finally I use to see things in a rational way, in order to solve problems.

In the other hand, nyokap selalu mengambil alih apapun yang saya katakan 'I can't do it'. Misalnya nih, ketika saya nggak bisa (nggak berani sebenernya hehe) membuka tutup oven ketika nyokap minta tolong ngecek kue panggangannya udah mateng atau belum.

Saya : Ma, gimana nih bukanya? *tangan udah megang lap buat membuka tutup oven yang panas*
Nyokap : (beberapa saat kemudian) Sini lapnya.

See, she takes over my problems and finishes it just like that. Mungkin maksudnya supaya saya bisa belajar dari apa yang nyokap lakuin (social learning), tapi jadinya sampe sekarang saya lebih memilih mengoles adonan dengan putih telur daripada harus membuka tutup oven. Karena kalau saya membuka tutup oven bisa memakan waktu seribu tahun lamanya karena saking hati-hatinya takut tangan kena panas oven, sehingga nyokap memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Cara orang menyelesaikan masalah emang berbeda-beda dan saya sangat menghargai perbedaan itu meskipun ada juga yang sedikit konyol.

Then something makes me more confused is the fact that we are social man. Kalau, menurut teori yang tentunya sudah dibuktikan dengan sejumlah penelitian yang melototin dan mempelajari tentang karakteristik otak manusia, otak kita ini bisa mengingat informasi dalam jumlah besar yang dalam hal ini disimpan di dalam LTM. Dan informasi yang disimpan di dalam LTM itu tentunya bernilai penting dan berharga sehingga membuahkan kesan dan akhirnya nyantol di ruang-ruang penyimpanan file di LTM room. Lalu ungkapan 'aku ini orangnya pelupa, makanya aku ditakdirkan sama dia yang suka mengingatkan', apakah masih terdengar masuk akal? Lantas apa yang bersarang di dalam LTM buat 'orang-orang pelupa'?

Karena sejatinya otak manusia ini mampu mengingat apa saja, mengingat besarnya kapasitas memori yang dimiliki LTM. Terlepas dari 'kita ini makhluk sosial' dan 'teori memori', saya juga mau menyebutkan faktor lain. Kemauan. Kadang, meskipun suatu hal dirasa penting dan bernilai, tapi ada juga orang yang mengabaikannya begitu saja dan menganggap orang lain bisa membantunya nanti dengan mengingatkannya. Kalau memang penting, kenapa tidak ada usaha atau lebih tepatnya kemauan yang diikuti usaha untuk mengingatnya? Dalam artian, menyimpan informasi tersebut ke dalam memori (LTM) dengan sejumlah cara (visualized or verbalized). Hmm... a will and a tendency to ignore things.

Terlalu banyak pikiran memang menyesakkan kepala. But hey, bukan itu masalahnya kalau dipikir-pikir. Yang menyesakkan kepala itu bukan pikirannya, melainkan banyaknya 'file' yang aktif melakukan proses kognisi di otak. Kalau pintar meng-on dan off-kan 'file-file' mana yang mau diproses, tentunya ungkapan 'lagi banyak pikiran' nggak akan terucapkan *halah*.

Posting ini bukan dimaksudkan untuk mengkritik (kalau ada yang merasa dikritik ya cepat berubah hehe), ini cuma sebuah wacana hasil proses kognisi di kepala saya and I just wanna share. Seriously, this is the first time I write something called 'boring-hard-topic' which contains theory like this. I feel like I wrote a scientific journal or something. Of course, in a fun way ahaha.


P.S.: call me selfish or whatever, I don't give a damn.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin