Monday, 4 August 2008

Quality Time

I've been back on-line for the first time in forever and trust me it made me healthier these days :D Well, I wasn't going anywhere actually, just sitting around in front of TV or my notebook and wrote some stories or continued the old ones. You know, common things people have in a holiday (except the writing part), lots of sleeping, day-dreaming, drawing etc. But this holiday, I spent almost all my time with my family. Surely I don't enjoy doing the household things, but I did love when I hang-out with my mom. We did gardening, shopping, baked some cookies and cake and we even visited my grandmother. It's just all fun! I also have fun with my little brother, he loves playing DinerDash2 or The Scruffs or any games in my notebook. It makes us close to each other. Oww, FYI, I don't live with my parents about 5 days a week because I live in another city, so that my brother seems like miss me so much, that's why he likes to spend some time with me :]. There's one day when I gotta help him doing his art project. Well, I gotta admit that I'm good at drawing so I offered him a sketch for his project then he can do it by his own in a different paper. He finished drawing but he had no enough time for coloring, I offered my help again. Well, in my days (long way a go for God's sake!), I did all my projects by my own. My parents didn't even care about it, I mean, they just supported everything that I need (such as money or the materials) but not help me doing the project. So, lucky you my dear brotha! We did coloring till my fingers felt like dying and my eyes going to turn down a.k.a I need to sleep soon. However, I enjoy coloring with my little brother because somehow it reminds me to a moment in my past when I gotta drawing yet coloring a lot :] (that moment successfully makes me proud with the way I am today). But, I also got bad things in this holiday. Shit happens, yanno. I lost my lovely little bunny, Milo. He's gone forever and I got a bad grave for almost a week. And my mother deleted all -yes, ALL- of Milo's pics on her gallery and I was so shocked and sad to know the fact that I can't see his face anymore. I'm still feel a grave a lil bit right now, but still, I try to let him go :[ And I spent my time almost a week doing nothing in hospital, because my grandma got sick and since everyone's busy with their job and everything then I'm the one who has no duty to do finally got a duty to take care my grandma in hospital. Well, eventually it's like make me -seriously- realize that we're all going to be old and so weak and in the end, nobody will save us but God. I got a spiritual talks again since I did it soooo rarely these last months because of the damn hectic days that successfully break me down. Anyway, this off-line thing I did because I just wanna test my self whether I deadly addicted to internet. FYI, I'm still on-line in a time which I supposedly not going on-line so that I can be focused and everything. But now, shit changes and I proudly tell ya that I can live without internet for almost a month but I guess I can't help it for more than that :] It's just I can't live without hanging my life on Google, it's like my everything right now. Well, that's it. There're sooo much quality times I've got from my holiday and I'm getting some good experience and got my besties's times back :] It's just dead relieving, you know. So, I'm back now and I'm ready to rock this cyber world again. Beware, folks!

The Chronicles of Ibu & Anak II: Lost Together

Seperti biasa, in the end of the day, saya selalu mengecek pengeluaran harian saya. Maklum anak kos, jadi duit mingguan yang dibelanjakan harus dikontrol kalau nggak mau ngemis-ngemis minta traktiran temen di kampus hehe. Saya pun mencatat rincian pembelian saya hari itu, mulai pembelanjaan pertama sampai pulang ke tempat kos. Singkatnya, uang saya lenyap sebesar Rp 55000! Oh God!! Saya mencoba calm down dan berpikir dengan kepala dingin, saya keluarkan semua ingatan saya sedetail-detailnya tentang pengeluaran hari itu. Dan hasilnya saya sama sekali tidak membeli atau membayar apapun dengan pecahan uang 50ribuan. Akhirnya saya sms si ibu--maksud saya mbak Anty, karena seharian itu saya jalan sama dia di kampus. Saya tanya apa waktu lunch tadi saya bayar dia pake duit 50rbuan, soalnya katanya dia mau bayar lunch pake duit 50ribuan jadi saya bayarnya ngikut dia. Meski saya inget banget kalo bayar ke dia pake duit pas (soto sama aqua gelas, totalnya 5500). Trus saya juga mau mastiin kalo saya belum bayar fotokopian slide mata kuliah MPD setelah lunch. Dan ya, saya memang belum bayar yang itu hehe.

Oke, saya sempat merasa sedang mengalami de javu karena kemudian mbak Anty membalas sms saya dan isinya mengabarkan bahwa duitnya di dompet (juga) ilang 50000. Great! Dulu isi flashdisk kami 'diculik' bareng dan sekarang duit pun ilang bareng, nominalnya sama pula! (meski punya saya gedean dikit). Dia juga cerita kalo itu duit setoran pulsa (maklum bakul pulsa) yang mau disetorin hari itu. Trus saya pun mengingatkan bahwa tadi lunch dia bayar pake duit 50ribuan dan dia bilang kalo hari itu dia bawa duit 100.000 dalam pecahan 50ribuan sebanyak dua lembar. And what about me? ME TOO, for God's sake!

Kami berdua pun bertanya-tanya ke mana gerangan itu si goban. Mengingat seharian tadi saya tidak melepas sling bag saya sama sekali, karena tingginya tingkat mobile saya hari itu (behh...sok sibuk banget!). Kecuali, yah, waktu mau shalat dzuhur di perpustakaan bareng si Temi. Saya sempat melepas tas saya dan menitipkannya ke si ibu--maksudnya mbak Anty--yang menunggu bareng beberapa orang teman di wi-fi zone di dalam perpus. Ceritanya hari itu kami berencana belajar Statistik bareng di wi-fi zone, karena Senin ada ujian mata kuliah itu (it was Friday anyway). Tapi kenapa yang ilang cuma punya saya dan ibu, sedangkan di dompet si Temi juga ada duit 50ribuan. Duh, ilang di mana coba?!

Saya pun mengirim sms ke si Temi, sekedar memastikan kalo tadi saya memberi dia duit 1000an buat bayar parkir di GM soalnya dia nggak ada duit kecil. Saya sih masih ingat jelas kalau duit yang saya kasih itu duit seribuan. Dan jawaban Temi pun memperjelas ingatan saya bahwa saya tidak salah ngluarin duit.

Ok, sementara saya masih mengingat-ingat ke mana gerangan itu duit, si Afni sms. Menanyakan tentang tugas review jurnal Psikologi Sosial dan ujung-ujungnya saya curhat kalo duit saya dan ibu ilang. Afni berasumsi mungkin duitnya jatuh, tapi kemudian dia berkata 'masa jatuhnya barengan?'. Jadi, delete that option! Berikutnya Afni menyarankan saya untuk mengikhlaskan saja duit itu dan dia juga bilang semoga saya mendapatkan gantinya yang lebih baik. Then I got introspected my self, mungkin selama ini saya kurang beramal. Yah, akhir-akhir ini mungkin jarang karena banyaknya pengeluaran yang saya keluarkan (on-line shopping fever!). Jadi saya pun pelan-pelan mengikhlaskan si goban, meski sejujurnya saya masih NGGAK PERCAYA duit itu lenyap dari dompet saya. Something makes no sense for me is, kok bisa ilang sementara dompet itu selalu di dalam tas dan tas selalu tergantung manis di badan saya. Karena memiliki nasib yang sama dan sama-sama masih nggak percaya duit kita ilang, saya dan ibu saling meratapi nasib lewat sms. Bahkan ketika di puncak kegilaan kami, saya bilang, "Masa duitnya bisa jalan sendiri keluar dari dompet?". It's just...unbelievable for me.

Well, isu tentang kehilangan emang lagi santer di kampus, sampe ada pemberitahuan yang ditempel di mading segala. Tapi saya nggak nyangka kalo harus masuk list 'the victims' juga, berdua bareng si ibu pula! Lagipula kebanyakan yang hilang adalah barang-barang elektronik, mulai handphone, charger sampai laptop. Belakangan saya baru baca kalau kehilangan itu juga meliputi duit dalam jumlah besar. What a great lost!

Akhirnya, saya pun bilang ke mbak Anty kalo saya batal ikut nonton Wanted di XXI sama Puspa dan Temi setelah UAS selesai (on Wednesday actually). And you know what, she said she will pay the ticket for me and she even offered a hand if I need some money, dia bilang 'jangan sampe terlantar bu!'. Aww...that's the sweet of youuuu!!! Tapi lalu saya bilang ke si ibu yang udah kayak fairy godmother saya sendiri itu (I know, something wrong with that sentence behind) kalo saya masih ada uang cadangan (sebenarnya uang tabungan buat beli Kodak Coolpix!). But still, saya nggak bisa nonton Wanted yang kerennya setengah mati itu! Seandainya si goban masih ada, surely I can do anything with that BIG money!

Akhir-akhir ini saya baru menyadari, duet kehilangan saya dengan mbak Anty punya kesamaan dengan duet penculikan isi flashdisk kami; selalu ada si Temi juga di situ. Oh no, bukannya saya accused dia, dia kan lagi shalat bareng saya waktu tas saya dititipin. Well, mungkin si Temi cuma kebetulan ikutan nongol ketika duet ibu dan anak ini sedang apes *piss yo!*.

Dan akhirnya, saya relakan juga itu duit sambil berdoa (bareng si ibu!), semoga yang nerima duit itu bener-bener lagi ngebutuhin. I didn't accuse anyone because it might've been my mistake, tapi yang jelas duit itu pasti ada yang nemuin atau at least ada yang nerima. Lucky you!

The Chronicles of Ibu & Anak I: Feel like Death

Hari itu saya sedang meeting dengan teman-teman sekelompok saya di kelas Psikologi Perkembangan I, ada satu tugas akhir yang harus diselesaikan sebelum minggu tenang UAS dimulai. Meeting dilaksanakan di ruang serbaguna yang berada di perpustakaan Unair kampus B. Yah, yang di samping kampus saya itu. Dengan bermodalkan laptop Compaq punya mbak Anty, tugas pun in process.

Setelah edit sana-sini dari hasil 'berburu' di internet, tugas pun selesai. Rencananya sih mau diprint sekalian di rental perpus, supaya nggak jadi beban. Flashdisk mbak Anty pun ditancapkan untuk memindahkan file tugas ke benda mungil itu. Dan mendadak kematian serasa begitu dekat di depan mata sodara-sodara! Ketika icon flashdisk diklik, tidak ditemukan apa-apa kecuali layar putih bersih terbentang di depan mata. Flashdisk yang biasanya berserakan folder-folder, gambar dan slide kuliah tiba-tiba melompong sepi. Ke manakah gerangan makhluk-makhluk digital itu pergi?

"Mungkin gara-gara nancep di laptop Tammy tadi. Laptop Tammy nggak bisa baca folder-foldernya." ujar ibu -- maksud saya mbak Anty panik. Logika saya protes, mana ada laptop nggak bisa baca folder? Kecuali laptop itu belum lahir ketika folder belum dilahirkan, yang berarti impossible! Sedangkan laptop Tammy termasuk laptop borjuis idaman mahasiswa (just like me!), Apple. Laptop mahal itu mana mungkin nggak bisa baca folder, yang punya sih masih mungkin *peace yo!*. Tiba-tiba jantung saya berdegup kencang, bukan, bukan karena Justin Timberlake minta saya jadi pacarnya. Tapi flashdisk saya tadi juga nancep di laptop si Temi! (baca: Temi, huruf e dibaca seperti pada telur) Bergegas saya ikutan nancepin flashdisk untuk memastikan bahwa folder-folder yang berjejer rapi di flashdisk saya masih berdiam di tempatnya.

Dan.........OH MY GOD! Dunia pun mendadak terasa gelap. Rasanya seperti menunggu giliran untuk lompat harimau ketika pelajaran olahraga SMP *I'm sooo terrible at it!* atau mendengar berita bahwa Zac Efron jadian sama Vanessa Hudgens. I was deadly shocked. At least saya tidak mengalami de javu dengan melihat layar putih melompong di hadapan saya untuk kedua kalinya, sejumlah master aplikasi hasil 'mancing' dari Puspa masih ada di flashdisk saya. Lalu ke manakah gerangan folder-folder berharga yang saya cintai lebih dari Snowy?

Satu hal yang pop-up di benak saya dan ibu -- maksud saya mbak Anty, virus. AVG Scanner pun ditugaskan untuk memberantas virus apapun yang telah merenggut nyawa kami berdua itu *behh...hiperbol!*. Ketika melihat scanning process AVG, folder-folder itu masih terbaca. Sungguh aneh bin ajaib! Lalu di manakah si virus menyandera anak-anak malang itu? Tidak ada yang tau.

Hasil scan menyatakan bahwa flashdisk saya dan mbak Anty terserang virus ganas bernama Trojan. Saya benar-benar tidak menyangka virus itu akan sedemikian sadis merenggut kehidupan saya. Bergegas ibu menghubungi bapak --emm...maksudnya mbak Anty menghubungi mas Ridzki yang kuliah IT, menanyakan bagaimana mengembalikan anak-anak kami yang disandera Bang Trojan itu. Dengan raut lemah mbak Anty berkata lirih, "Katanya kalo kena Trojan nggak bisa balik." NO!!!!!!!!! What could be worse?? Ngliat folder-folder ilang aja uda stres, ditambah dengan vonis mereka nggak bisa balik, mendadak rasanya saya juga ikutan disandera Bang Trojan.

Saya juga nggak berdiam diri, saya coba tanya ke Adi --teman saya yang kuliah IT. Apa file ilang kena Trojan bisa balik lagi, katanya file yang 'hidden' itu bisa dilihat di ACDSee. Tapi laptop mbak Anty nggak ada ACDSee-nya, pas nelpon mas Ridzki buat nanya di mana ACDSee-nya (FYI, laptopnya sebenernya punya mas Ridzki hehe), eh sinyal telepon malah drop. SIALAN! Tiba-tiba Pak Ting (a.k.a Trian) dan Meru (My Fam!!) melintas di depan kami. Langsung bagaikan melihat sosok abang penjual bakso, saya pun langsung berseru, "Bang, bang, baksonya satu mangkok ya!" Hehe of course I'm kidding, saya panggil si Pak Ting karena setahu saya dia punya skill di bidang beginian *hehe*. Ketika dilihat isi flashdisk yang menganga kosong, Pak Ting berkata bijak, "Maaf bu, nyawa anak ibu tidak bisa terselamatkan." Huaaaaaaaa...!!! Kata-kata itu begitu tajam seperti pedang bermata dua milik...milik...ah bodo amat milik siapa! Rasanya seperti ditusuk pedang dua kali. I'm dying!!!

Di sms, Adi bilang bisa pake file recovery juga kalo nggak ada ACDSee. Tapi saya nggak pernah liat itu yang namanya file recovery, jadi saya tunggu sampai ada yang bisa benerin flashdisk saya dan ibu --maksudnya mbak Anty. "Coba Meru," Pak Ting melemparkan tugas ke cowok di sampingnya (ya si Meru maksudnya!), Pak Ting pun menjelaskan duduk perkaranya (halah!) pada Meru. Meru pun mengklik-klik beberapa tempat untuk memeriksa kondisi anak kami -- maksudnya sistem flashdisknya. Saya pun nggak bisa berhenti memohon supaya folder-folder saya bisa kembali ke rumahnya seperti sedia kala.

Mendadak angin sepoi-sepoi bertiup di sekeliling saya, awan kelam beranjak pergi dan matahari tersenyum kembali. Meru bilang, "Masih bisa dikembaliin kok." ALHAMDULILLAH! Meru seperti dokter yang mengatakan bahwa anak saya yang kena penyakit kronis masih punya harapan hidup. God damn relieving!

Meru pun akhirnya mengambil alih semuanya. Flashdisk saya dan mbak Anty pun bergantian nancep ke laptop Meru yang udah senior *hehe piss!*. Dia bilang, "Kalo nancep ke laptopku nggak apa-apa.". Malang nian nasib Compaq mbak Anty, tertular virus mematikan *lebay bo!* bernama Trojan. Saking leganya, saya dan mbak Anty sampe nawarin reward ke Meru.

Ibu : "Meru mau apa?"
Saya : "Gratis edit foto seumur hidup deh..." *ga mau rugi hehe*

Tapi si Meru cuma senyam-senyum doank *bingung kali mau jawab apa, takut kita nggak mampu. Jalan-jalan keliling Eropa. Mampus!!*. Si Meru malah bilang sambil senyum malu-malu *apa malu-maluin ya?* "Ajarin ngedit foto aja deh.". Menurut saya, itu lebih susah daripada ngedit foto yang lighting-nya pelit setengah mati. Tak lama kemudian, semua folder di dalam flashdisk saya berikut file-file di dalamnya sudah kembali seperti semula. Nggak tau gimana Meru berhasil melumpuhkan Bang Trojan (sebenernya tau, cuma males nulisnya soalnya terlalu ribet dan berbau mekanistik. Boooring!), jangan-jangan Meru adalah reinkarnasi Si Pitung dari Betawi ahaha. However, rasanya saya bisa merasakan nafas kehidupan saya seperti sedia kala. Tidak ada lagi bayang-bayang sang pencabut nyawa di depan mata, yang ada cuma dunia yang maya ini :]. Thanks a lot to Meru, it's never been enough I know :D

Untuk mensyukuri kembalinya anak-anak kami, kami pun merayakannya dengan makan bakso deket kampus *like dream comes true or what? :]*. Gara-gara itu virus, saya dan mbak Anty sampai nggak sempat lunch. Tanpa terasa hari semakin sore dan waktu lunch pun kelewat jauh karena jam udah menunjukkan pukul 5 sore. Pulang makan, Meru bahkan sempet insist buat bayar baksonya sendiri, tapi ditolak sama si ibu. It's all paid by mbak Anty. Yay!! That's the sweet of youu, sis :]

Akhir kata, saya mengajukan perkara ini ke pengadilan untuk ditindaklanjuti. Karena ini sudah menyangkut nyawa orang lain, nggak cuma satu tapi dua nyawa sekaligus! Tersangka sekaligus pelaku utamanya sudah jelas bin obvious, saudara Temi dengan barang bukti berupa laptop Apple warna hitam yang logo apelnya udah kegigit separuh. Mungkin perlu dipertanyakan kenapa si Temi nggak beli yang apelnya masih utuh, apa pengaruh ke harga laptopnya juga ya?

Terdakwa dijerat pidana untuk melemparkan laptopnya ke kolam renang di belakang rumahnya *ide mbak Anty* dengan gaya lempar lembing sesuai prosedur pelemparan lembing di kitab Olah Raga anak SMP *it's mine!*. Hukuman ini belum ditambah dengan guilty pleasure tak terkira yang diberikan kepada terdakwa :]] *just joking!*

P.S.: thanks a lot (again) to Meru, this post is dedicated to you, Fam :D
P.S.S.: terakhir, laptop Temi sudah memakan korban baru, Puzpa, yang juga belakangan diketahui sebagai 'teman' dekatnya.

Friday, 20 June 2008

Live in a box full of Friends

It's funny at first because I didn't know that I deserve, that I deserve to get what they give me. I've never been in a condition when so much love fallen for you. I've never been in a place when somebody really needs you, when somebody do really care about you. Honestly I've never been in such a wonderful place like that.



It's all happened last year. I met lots of various kinda people. I left a bunch but then I got millions. It's interesting and contains lots of fun to know them all. I just realized that people's characteristic is an interesting thing to learn about. I start to open my self, knowing people more and more, being kinda friendly and always trying to be warm to the new people I just knew. Because honestly, I'm even worse than a Vampire.



Then time goes by and I finally know who I can going out with and I got shocked by some girls who -let me tell you- just found to be my true friends. I used to live in a place where sunlight couldn't come through. I'm afraid of light--spotlight, I hate being in the middle of the crowd, I was crazy of being lonely, I avoid everybody just so they don't need to know the real me cause I'm so shy of people. Now, the light is like my new bestfriend. The warm feeling my friend's gave makes me comfortable with the way I am. Makes me do the same to other people, share the warm feeling.

I know now that it's okay to be this way, it's fun to be warm and opened, it's fine for the light shining on me. And in this new way, I even got something I never guess it would happen before. Something beautiful and of course fun. Perhaps, I need to thank to the circumtances which have already put me on this. And let me say, all hail my lovely friends and angels. You're the puzzle pieces who built me up into one full body of soul.

Wednesday, 4 June 2008

My Father's Daughter

Ini bukan kisah anak adopsi atau semacamnya. Tentang saya? Ya, ini tentang saya tentunya. Saya anak adopsi? Oh tidak, saya tidak bermaksud demikian. I'm gonna write something that might be my father's point of view about me all this time.

Well, saya adalah anak sulung dari 3 bersaudara, kedua adik saya semuanya laki-laki. Sejak kecil saya kurang suka bermain di luar bersama anak tetangga, jadilah saya bermain di rumah sendirian. Tapi, kebanyakan waktu saya dihabiskan dengan bermain bersama 2 sepupu cowok saya. Main tembak-tembakan pake stik bambu, mobil-mobilan, sampe trik-trik aneh cowok seperti bersiul (yang kata sepupu saya cuma cowok yang bisa) saya tahu. Jadilah saya cewek tomboy jauh sebelum kedua adik cowok saya lahir.

Karena keseringan main sama cowok itulah saya jadi kurang tertarik main masak-masakan pake daun seperti anak cewek kebanyakan. Bisa dibilang saya jijik melihatnya hehe. Sampai-sampai ketika anak tetangga mengajak saya main masak-masakan, saya menolak bermain dan menyuruhnya pulang. Saya lebih suka main power rangers (I'm ranger pink! I love ranger red :]) atau polisi-polisian di sekolah. Dulu di TK saya suka banget main karate-karatean sama anak-anak cowok. Untungnya saya nggak sendiri, ada beberapa temen cewek saya yang juga ikutan. Sejak itulah saya bercita-cita jadi polisi (haha nggak nyambung dan nggak beralasan banget!) dan bukannya dokter seperti anak (cewek) kebanyakan. Polisi di mata saya saat itu keren banget; bawa pistol, tembak-tembakan, kejar-kejaran pake mobil, bertarung, pokoknya keren abis!! (gara-gara film polisi Amerika hehe). Namanya juga anak kecil, masih belum ngerti kalo jadi polisi harus kuat mental, badan proporsional dan disiplin tinggi. Jauh banget sama keadaan saya sekarang; udah males, takut hantu (apa hubungannya??) dan perut berlipat hehe.

Oke, langsung aja. Ini kok kelihatannya jadi nggak nyambung sama judulnya. Dari pengalaman saya sejak kecil itu, I wasn't really close to my mother. Kalo disuruh milih: membantu Mama di dapur atau bantuin Papa bersihin motor, saya akan pilih bantuin bokap. Saya nggak tahu kenapa (kayaknya sih males), saya lebih suka bantuin bokap utak-atik mesin motor meskipun saya nggak tahu nama-nama bagian motor yang diutak-atik, minimal saya jadi tahu nama alat-alat yang dipake benerin. Jadi, kalo disuruh nyebutin bumbu dapur, mending saya disuruh nyebutin macam-macam tang dan kawan-kawannya deh.

Menginjak remaja, saya mulai ketagihan main komputer. Hal ini semakin menjauhkan saya dari yang namanya dapur. Ketakutan saya akan kecipratan minyak pas menggoreng telur lebih besar dibandingkan kesetrum waktu nyolokin kabel di belakang CPU. Ini juga yang merupakan faktor utama saya menjauhkan diri dari dapur; takut kecipratan minyak. Sampe sekitar SMP saya cuma bisa masak air, goreng telur, sama masak mi instan :D. Begitu SMA kemampuan saya meningkat, saya udah berani goreng ayam, nugget dan sosis, sesekali kentang goreng beku haha. Singkatnya, saya udah lulus menggoreng makanan instan. Yah, setidaknya ada peningkatan daripada nggak sama sekali kan?

Saya sih enjoy aja meski dibilang udah SMA tapi nggak bisa masak, toh kemampuan memasak nggak diujikan pas UNAS kok. Jadi, bisa masak atau nggak ya bodo amat. Yang penting rapot saya nggak kebakaran dan bisa main internet sepuasnya (iya, saya tau nggak nyambung).

Papa saya juga nggak menunjukkan tanda-tanda kecemasan kalo anak perempuannya nggak bisa masak. Beliau emang dasarnya nggak terlalu banyak komen sama hal-hal remeh, bokap menganut prinsip go with the flow yang gue banget haha! Sampai suatu ketika mesin jahit baru nyokap rusak dan bokap didaulat untuk ngebenerin. Saya pun ikut nimbrung sambil ngeliatin bokap ngutak-atik bagian dalam mesin jahit modern yang mungil punya nyokap itu, just like the old times :]. Tiba-tiba, pas mesin jahitnya udah bener lagi, bokap pengen ngetes mesinnya jalan ato nggak. "Ini masukin benangnya mulai mana ya?" tanya bokap ke saya. Saya pura-pura ikutan nyari di mana benang harus disangkutin, karena jujur saya nggak ngerti apa-apa. Tak lama kemudian, adik saya yang paling gede ikutan nimbrung dan mendapat pertanyaan yang sama seperti sebelumnya dari bokap. Dalam sekejap, benang pun berhasil nyangkut di tempatnya di tangan adik saya yang cowok itu. Nggak butuh waktu lama, set... set... set... dan benang pun merentang indah di antara sangkutan-sangkutannya yang estafet di bagian dalam mesin jahit nyokap. Rasanya bener-bener kalah telak dari adik saya nih!

Kejadian itu seolah berhasil menyentil saya. Memang soal komputer rusak, tape rusak ato TV buram bisa saya benerin (ini tukang servis ato apa sih?). Tapi mesin jahit yang notabene adalah 'barang cewek' malah saya nggak ngerti. Bahkan adik saya yang cowok aja tau masukin benang di mesin jahit! Saya, kakaknya yang cewek nggak tau. Kakak macam apa saya ini! Huhuhuhu

Sejak saat itu saya mulai berbenah (berat nih bahasanyaaaa!!). Mungkin bokap juga khawatir sebenarnya, anak gadisnya kok malah lebih pinter meracik kode HTML daripada bumbu masakan. Jadilah saya iseng-iseng nyobain resep-resep simple yang ada di majalah remaja. Yah, cemilan-cemilan yang sederhana banget. Kayak kreasi konyaku atau kreasi milkshake coklat. Pokoknya yang gampang banget sampe chef terkenal aja males bikinnya. Hasilnya sih emang buat konsumsi pribadi alias nggak dibuat dalam skala besar alias cuma buat saya seorang. Lagipula anggota keluarga saya yang lain juga nggak minta bagian kok hehe. Kayaknya mereka nggak mau menanggung resiko haha.

Lulus SMA, saya udah bisa bikin olahan macaroni dan telur yang bikin kedua adik saya ketagihan (bahkan adik saya yang paling gede udah bisa bikin sendiri, padahal waktu itu dia masih SD!!).

Dan baru-baru ini saya udah nyobain resep-resep sederhana (masih dari majalah, beberapa dari internet) yang mungkin bikin Papa saya tersenyum lega bahwa ternyata anak gadisnya normal. Saya udah bisa bikin nasi goreng (cuma pake bawang+kecap+garam, nyokap masih nggak percaya kelezatannya padahal saya udah bolak-balik bikin), chocolate cookies dan yang paling saya banggakan karena udah berhasil bikin berkali-kali dan hasilnya jadi favorit orang serumah; Pancake. Bahkan bokap ikut nyobain! Adik saya yang paling kecil paling suka nungguin saya pas bikin Pancake (bukan apa-apa, dia nggak sabar nungguin yang udah mateng soalnya!). Saya juga nggak ngandalin mi instan lagi kalo nggak ada lauk buat makan, karena saya udah bisa bikin nasi goreng sendiri :]. Bahkan meski nyokap meragukan rasanya.

Well, Dad, I successfully prove it to you that I'm your proud little girl.


PS: saya masih berangan jadi polisi, tapi tanpa harus latihan fisik dan boleh bangun siang.





LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin