Tuesday, 21 August 2012

[RECIPE] Choco Color Pop Cat's Tongue Cookies

Karena makanan serba Rainbow lagi semarak, saya pun jadi pengen bikin Katetong atau Kue Lidah Kucing Rainbow setelah ngiler ngeliat gambarnya di tabloid masak punya nyokap. Tapi, saya agak takut nih kalau makan makanan yang warnanya terlalu mencolok. Alhasil saya ubah variasinya dengan rasa kesukaan saya, coklat. How did I make this? Check this out:
Choco Color Pop Cat's Tongue Cookies
Pada beberapa resep lain yang saya baca, ada juga yang ditambahkan susu, room butter dan tepung maizena. FYI, susu dan room butter fungsinya sama, sebagai penambah kelezatan rasa. Jadi ntar rasanya jadi kayak butter cookies yang khas susunya. Sedangkan tepung maizena fungsinya supaya hasilnya lebih crispy alias renyah. Karena stok bahan-bahan ini nggak saya temukan di rumah, jadi nggak saya pakai dan hasilnya baik-baik saja :)

Takaran margarine pada resep asli yang saya jadikan acuan pun sebenarnya tidak sebanyak itu, hanya 150g. Sisanya adalah room butter, yang dalam kasus saya tidak digunakan. Kalau kata nyokap sih, takaran bahan cair dan bahan bubuk harus tetap seimbang sesuai resep. Misalnya, room butter nggak saya pake, otomatis kuantitas margarine harus bertambah untuk menyesuaikan dengan takaran bahan-bahan lainnya yang tidak mengalami perubahan.

TAMBAHAN PENTING!
1. Durasi memanggang terlama per loyang dalam kasus saya adalah 15 menit, adonan kue ini tergolong cepat matang. Jadi pastikan oven sudah dipanaskan terlebih dahulu supaya durasi memanggang nggak terlalu lama.
2. Pastikan loyang khusus lidah kucing-nya ada banyak yaa. Karena saya memakan waktu 2 jam buat memanggang (padahal mestinya 30 menit aja cukup) karena harus nunggu kuenya kering dulu baru bisa dipindah dari loyang.
3. Olesi loyang dengan mentega/margarine terlebih dahulu sebelum adonan dituang ke atasnya.

If you have any questions, tulis aja di comment atau bisa tweet saya di @demetrianikki. Khusus hasil uji coba resep ini, langsung kirim ke rumah aja ya! ;)


Selamat mencoba :)

Tuesday, 14 August 2012

Dream Catcher

Penulis Alanda Kariza
Penerbit Gagasmedia

Kalau boleh berlebihan, saya mau bilang ini semacam manual tentang bagaimana kita menjalani mimpi kita untuk diwujudkan, which mean you will see the guidelines about how to make your dreams come true. Memang nggak ada jaminan mimpimu bakal terwujud, karena semuanya balik ke diri sendiri. Tetapi, melalui buku ini, saya yang tadinya meraba-raba apa yang harus dilakukan supaya mimpi-mimpi saya terwujud (yes, I know hard work, praying and consistency are basic points) jadi lebih terbuka, lebih aware akan hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan.

Alanda Kariza mungkin sudah menjalani sebagian mimpinya, begitu juga dengan tokoh-tokoh yang ia tuliskan di dalam bukunya. Pembaca bisa menemukan selipan wawancara dengan sosok orang-orang yang sudah menjalani sebagian mimpinya dan sedang menuju ke sana, and that's totally inspiring. Why? Because they're real and common people. Orang-orang ini kenalan Alanda, yang mana beberapa mungkin datang dari dunia entertainment dan sebagian lainnya adalah orang-orang biasa yang berjuang buat mewujudkan mimpinya and they're half through there.

Kalau ingat manual, pasti yang kebayang adalah instruksi 'do this, do that'. But wait a sec, di buku ini nggak melulu berisi tips-tips, pembaca juga bisa menemukan cerita Alanda sendiri. Perjalanannya menuju mimpinya, kisah sehari-hari, yang mana juga dialami anak muda di manapun masa kini. Ceritanya dikorelasikan dengan sub-bab dalam bukunya untuk dijadikan studi kasus yang bisa dipertimbangkan. Mengingat saya anti banget baca self-help book yang 'menggurui' (which totally bore me immediately), saya beli buku ini juga karena ilustrasi di dalamnya (dan juga cover-nya) keren banget! :D Intinya, buku ini memang ditujukan buat kalangan anak muda yang sedang mengejar mimpinya atau mungkin butuh panduan tentang mimpi yang ingin dimiliki. 

Dengan foreword dari Monique Coleman (which is SO great! I can't believe she's a real activist), buku ini berharga selayak kontennya. Saran saya nih, kalau nggak biasa organized hal-hal dalam kehidupan kita, kamu bisa coba isi kolom-kolom yang disediakan di dalam buku ini (atau mungkin bikin sendiri di buku terpisah). Dengan demikian, mungkin kamu bisa terbantu dalam menemukan mimpi dan mewujudkannya.


Have fun reading! :D



Wednesday, 18 April 2012

Beyond My Dreams





Talking about dreams. It's obviously more than one, lots of them that I can't tell you all. And talking about pursuing my dreams is another thing. 

Kalau ditanya siapa tokoh yang menginspirasi dalam mimpi saya saat ini? Jawaban saya, Rachel Berry. Silly? Wait until you read this.



Miss Rachel Berry (pic: hollywoodlife-com)

Salah satu karakter utama dalam TV series "Glee" ini memang yang jadi role model saya dalam meraih mimpi. Dia punya bakat menyanyi yang luar biasa, performing skill yang nggak diragukan lagi, konsisten untuk mengejar mimpinya, fokus dan selalu baik pada semua orang. Meskipun nggak semua orang baik padanya.

Jangan dikira kehidupannya baik-baik aja, di sekolah dia (dulunya) bukan anak populer, sering jadi objek bully dan banyak yang menganggap dia ambisius dan cenderung nerd. But she never takes it personally, she moves on with her dreams. Yah, namanya juga cerita, jadi pasti ada ending yang menentukan nasib si karakter. Through all the ups and downs, akhirnya Rachel berhasil menempati satu langkah pertama yang akan mengantarnya menjadi aktris di Broadway, yaitu masuk ke akademi seni di New York, NYADA. 

Ya, saya tau kalau kehidupan Rachel Berry sebuah rekaan belaka. Tapi dari situ saya banyak belajar, kalau mimpi itu bukan keajaiban yang datang dari langit. Pencapaiannya nggak mudah dan butuh kerja keras, konsistensi serta doa yang tak henti-henti. Dibandingkan Rachel, mungkin lingkungan saya sedikit lebih baik, saya nggak menjadi objek bully atas apa yang saya kerjakan dan teman-teman saya pun mendukung apa yang saya kejar. Meskipun keluarga saya tidak banyak yang tau :]

And then, real life hits me. Saya punya seorang sahabat yang nyaris sama ambisiusnya seperti Rachel. She sets her own goal, she pursuits her dreams and she made it. Knowing her, inspires me to do exactly the same as she did. Even though it's never been easy.

Namanya Rizqy Amelia Zein, atau biasa dipanggil Amel. Dia ini temen saya kuliah, dari awal kenal sampai sekarang Amel adalah sosok yang selalu menginspirasi. Julukan saya buat dia adalah 'portable book reviewer', karena kita nggak pernah tau buku apa aja yang udah pernah dia baca. Bukan, bukan karena dia jarang baca buku, tapi justru sebaliknya. Cakupan range buku yang dia baca kita nggak pernah tau, Amel punya minat di bidang-bidang yang sangat luas dan di luar dugaan. Well, at least, dugaan saya sendiri. That's why I love talking to her, she knows everything.




Amel

Mendekati akhir kuliah, dia pernah bilang pengen jadi dosen di kampus saya. Temen-temen yang denger itu nggak ada yang meragukan dia, karena Amel bisa jadi apa aja. Jadi presiden pun dia bisa, saking pinternya dia. Jaman kuliah aja dia sering jadi tutor dadakan temen-temen saya termasuk saya sendiri bahkan sampai ke adik kelas. Sampai sekarang lagi ngerjain tugas akhir pun saya masih sering nanya-nanya dia dan dengan senang hati dia bantuin. Dengan predikat lulusan tercepat di angkatan saya, IPK tertinggi dan berbagai gelar lainnya, saya sendiri percaya kalau suatu saat mimpinya itu bakal tercapai. And she did.

Sekarang statusnya adalah salah satu staf pengajar honorer di kampus saya. Dulu jaman kuliah, Amel merupakan seksi sibuk. Seksi sibuk dalam berbagai hal, sampai dia dapet sebutan seleb kampus saking susahnya ditemuin. Apalagi sekarang, beh... makin sibuk aja dia. Tapi sibuknya Amel tentu demi terwujudnya mimpinya, itu wujud kerja keras nyata yang pernah saya lihat. 

Suatu hari saya dengar Amel pengen kuliah S2 di luar negri, via beasiswa tentunya. Karena itu merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi dosen tetap di kampus saya. Dia minta saya untuk mendesain Curriculum Vitae-nya yang akan dikirim ke universitas yang dia tuju. Tanpa pikir dua kali, saya ambil tawaran itu. Dan saya ternganga dibuatnya.

Sepanjang masa kuliah, Amel masih suka jalan-jalan bareng sama saya dan sahabat-sahabat saya yang lain. Nonton, makan bareng, you name it! Tapi di balik itu semua, ternyata Amel juga nggak males-malesan buat ngejar apa yang dia impikan. Dari ngerjain desain CV Amel, saya jadi tau kalau ternyata dia udah bikin berbagai penelitian dan ikutan berbagai macam konferensi yang saya dan mungkin juga sahabat-sahabat saya nggak tau selama ini. Baik yang skala nasional maupun internasional, baik yang sendirian maupun bareng beberapa rekannya. Menurut saya itu sangat mengagumkan buat seseorang yang keliatannya santai-santai aja, masih bisa hang out bareng temen-temennya, nonton series di laptop dan main Football Manager. Skill multitasking-nya keren banget dan itu yang bikin saya makin kagum sama Amel. Bayangin aja, beyond all those pressures, she's still having fun.

Selain pinter dan pekerja keras, Amel juga orang yang bisa dibilang religius dan punya interpersonal skill yang tinggi. Khusus yang terakhir, saya bener-bener harus belajar banyak dari dia kayaknya :D Seperti yang udah saya bilang di atas, selain bekerja keras dan konsisten, mengejar mimpi juga perlu doa. Karena semua nggak akan tercapai kalau Tuhan nggak mengijinkan, bukan? Saya emang nggak tau Amel beribadah dan berdoa seperti apa, tapi sepengamat saya, dia nggak cuma konsisten mengejar yang dia mau tapi juga konsisten dengan agamanya. Segala upayanya diusahakan melalui jalan yang lurus, jalan yang mendapat ridha-Nya. Bukan shortcut atau jalan curang yang banyak dosanya. Meskipun sulit, tapi toh Amel berhasil. Karena Tuhan memang mengijinkan, karena Amel memang memohon demikian.

Long story short, kekaguman saya pada Amel terbukti banyak mendorong saya untuk berupaya mengejar mimpi saya. Bahkan untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya pun saya bertekad menyelesaikannya sebelum Amel pergi meninggalkan negara ini.

Ya, Amel berhasil diterima di sebuah universitas di Inggris untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master. Akhir tahun ini dia berangkat, nggak lama, bisa dihitung bulan. Untuk itu saya harus buru-buru menyelesaikan skripsi saya yang beberapa kali bikin saya mundur dan ogah-ogahan saking banyaknya cobaan yang harus dilewatin. Tiap kali dapet cobaan waktu lagi menyelesaikan tugas, saya selalu inget Amel dan ingatan saya selalu me-recall hal-hal yang positif tentang dia. Hal itu bikin saya semangat dan bangkit lagi. Karena saya percaya, Allah hanya ingin menguji, jalan keluarnya pun akan diberikan di kemudian hari asal kita mau mencoba dulu. Amel buktinya.

Cerita tentang Amel kalau diceritakan ulang tanpa mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya mungkin terdengar klise. Seandainya dibukukan pun sudah banyak buku-buku tentang cerita kesuksesan sejenis. Ibarat pepatah, semudah membalikkan telapak tangan. Tapi saya mengalaminya sendiri: susah-sedihnya, rasa syukur-gembiranya. Perjalanan masih panjang, Amel sudah melampaui setengahnya mungkin, saya juga nggak tau. Saya sendiri masih pemula, mengejar untuk jadi seperti Amel itu berat tapi bukan nggak mungkin. Suatu hari, saya juga akan berada di posisi Amel. Suatu hari nanti, insya Allah.

This post is also dedicated for the inspiration beyond my dreams, my bestfriend, Amel :]


Saturday, 24 March 2012

Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan

by Windy Ariestanty
Penerbit GagasMedia

Another traveling book, or the author called it as a travelogue. Buat saya, buku ini lebih dari sebuah jurnal perjalanan, ini lebih seperti buku perenungan.

Windy awalnya saya tahu adalah seorang editor di sebuah penerbit ternama yang sedang naik daun. Tahu-tahu saya baca dia akan mengeluarkan buku perjalanan, iseng saya cari di toko buku dan menemukannya. Berdasarkan review pembaca perdananya, Windy menulis travel journal-nya dengan apik (yaiyalah, secara editor!). Saya pun tertarik memilikinya. Hingga akhirnya kesampaian dan berhasil menuntaskan buku yang sudah menghipnotis saya itu.

Mulai Indochina, Amerika, Eropa bahkan situs wisata lokal juga tak luput dari kisah perjalanan Windy. Saya suka membaca buku perjalanan dan menurut saya Windy menulis bukunya dengan berbeda. Kisahnya, menurut saya sangat personal. Nggak cuma gimana nyampe ke destinasi yang ditargetkan, bujet yang harus dikeluarkan, tips-tips yang bisa dilakukan tetapi juga atmosfer yang dirasakan, turut serta dituangkan dalam tulisannya.

Kalau saya nih, kebetulan saya melahap habis buku ini waktu long weekend. Saya jadi merasa ikutan kepanasan waktu baca tulisan tentang Vietnam dan negara sekitarnya, kaki jadi kedinginan waktu ngikutin perjalanan Windy di Eropa, deg-degan waktu kejebak macet dan harus ngejar jadwal kereta, sampai ikutan euphoria waktu berhasil sampai di Point Zero di Paris dan yang jadi favorit saya adalah sebuah surat yang ditujukan pada seseorang yang diidolakan Windy. Sebuah surat rindu yang menyentuh dan mengingatkan saya pada almarhum kakek saya yang kurang lebih posisinya sama seperti idola Windy tersebut :] Mau tau siapa idola seorang Windy Ariestanty? Baca sendiri ya! ;]

Saran saya sih, buat yang mau traveling ke Indochina, Eropa (terutama Jerman, Paris, Prague) dan Amerika, buku ini layak banget buat dijadiin pedoman. 

Saya jadi makin semangat nih nabung buat jalan-jalan! :D

Saturday, 3 March 2012

Konon katanya kita ini negara ber-Tuhan

Konon katanya negara kita ini negara dengan pemeluk agama mayoritas tertinggi, yang mana juga dapat diartikan memiliki kepercayaan akan Tuhan pada derajat yang sangat tinggi. Di mana konsekuensi kepercayaan atau keimanan adalah ketakwaan, yang diartikan dengan mengamalkan peraturan yang ditetapkan suatu agama. Dan sekali lagi, hal ini memiliki konsekuensi di mana dosa dan pahala memainkan perannya.

Beberapa waktu terakhir saya banyak bersinggungan dengan media, dalam artian saya lebih sering baca surat kabar, menonton program berita di TV, dan sesekali cek timeline di twitter yang belakangan kebanyakan dipenuhi tweet dari akun berita. Ada yang bilang, kalau mau menatap masa depan dengan optimis, berhenti nonton TV atau baca koran. Alternatifnya adalah baca berita di twitter atau di internet, I think it's just the same. Toh di twitter, stasiun-stasiun TV atau perusahaan surat kabar itu juga punya akun dan mereka secara periodik meng-update berita yang juga ditayangkan di TV atau diterbitkan di media cetak. 

I'm not gonna tell you about which media you should pick, but I'm gonna tell you something worse than that. Yes, it's sensitive. Yes, it's about God and His creation, human.

Dari berita saya seperti melihat sebuah paradoks. Kalau nggak salah, Indonesia ini negara dengan pemeluk agama Islam tertinggi, bahkan melebihi negara asalnya, Saudi Arabia. Saya juga tau kok kalau ada istilah "Islam KTP", toh itu nggak mempengaruhi persepsi saya karena negara ini masih menjadi negara pengekspor jamaah haji terbesar di dunia. Bahkan mau berangkat aja harus nunggu bertahun-tahun, bayangin aja mau ibadah aja harus ngantri. Well, still, Indonesia, is a country with a high degree of religious people I think.

Di masyarakat di sekeliling saya pun saya masih melihat aura religiusitas itu, ibu-ibu yang rajin pengajian, masjid yang aktif berkegiatan, remaja-remaja putri yang semakin lama semakin banyak yang mengenakan jilbab. Bukankah itu merupakan representasi masyarakat yang religius? Bukan?

Saya tahu beberapa kota mulai mengarah ke titik di mana kota tersebut akan menjadi sangat urban, metropolis, modern. Tapi apakah lalu meninggalkan etika yang diajarin agama? Sekolah-sekolah berbasis agama saat ini merupakan sekolah bergengsi yang biayanya jutaan dan banyak tuh orangtua yang bersaing buat nyekolahin anaknya di situ. Tapi apa iya ilmunya kepake? 


photo by Cassandra Niki

Yang pertama, kasus pembantaian orangutan di kebun kelapa sawit di Kalimantan. Saya nggak tau siapa yang harus disalahin, pemilik perusahaan kelapa sawit, pengelola kebun, atau pelaku pembantaian. Saya nggak tau, tapi Tuhan tau. Setau saya orangutan itu binatang paling kalem yang pernah saya tau, saya nggak pernah denger tuh ada orangutan menyerang rumah penduduk atau orangutan memakan hasil panen warga desa. Ibaratnya orang yang kita kenal paling sabar deh, pernah kena marah orang yang sabarnya selangit nggak? If you have, then it might be a worst mistake you've ever done. Hewan apapun deh, kalau teritorinya terganggu/terancam, pasti mereka akan menyerang dan mempertahankannya. Jadi kalau sampai ini hewan paling 'sabar' melakukan serangan, pastinya pihak tersebut udah parah banget mengganggu mereka. Trus kita mau rebutan sama hewan gitu? Sekarang yang makhluk tertinggi itu siapa sih sebenernya?

photo by alamendah

Kedua, terakhir saya denger ada penembakan harimau Sumatra. Demi Tuhan ya, ini harimau udah langka banget pake ditembakin segala. Alesannya karena menyerang area penduduk, klise tau ga?! Berita semacam ini udah sering banget saya denger dan kayak nggak ada upaya perbaikan karena terus terjadi. Let me tell you once again, hewan nggak akan menyerang selama nggak berada dalam kondisi terancam. Hewan paling sensitif sama teritori kekuasaannya, you should know that better if you live near the forests or any animal's habitats. Apalagi ini harimau, hewan buas berdarah dingin yang suka berburu dan paling anti wilayah kekuasaannya diganggu. Udah semestinya kan kita saling menghargai 'wilayah kekuasaan' masing-masing. Hey, hewan juga makhluk Tuhan, aren't they?

photo by pinewswire

Ketiga, membunuh sepertinya menjadi jalan penyelesaian masalah. I still don't get it. Mungkin orang yang dianggap membuat masalah akan lenyap (setelah dibunuh), but don't you know that there're consequences for everything? Tuhan siapa yang menghalalkan pembunuhan untuk menyelesaikan masalah? Kadang masyarakat kita terlalu sensitif untuk hal-hal yang tidak perlu, ditambah lagi tayangan TV yang seperti 'mengajarkan' etika/cara-cara yang nggak baik dalam menyelesaikan masalah atau dalam menjalankan hidup. Well, I'm not Mario Teguh or Oprah or Aa Gym or even Mama Dedeh. Saya melihatnya dari perspektif seorang siswa yang melihat kenyataan dan membandingkannya dengan ilmu agama yang pernah saya dapat sewaktu sekolah. Sekolah saya emang bukan sekolah agama yang mahal, cuma sekolah negeri kok. Tapi di sana saya diajarkan mana yang benar dan mana yang nggak. Ya, menurut agama dan saya yakin nggak ada agama manapun yang mengajarkan pembunuhan sebagai jalan keluar penyelesaian masalah. Dengan catatan, agama yang legal di negara ini.

Keempat, so does with the rape cases. Dilakukan oleh pacar sendiri, orang yang nggak dikenal, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Berdasarkan ilmu agama yang pernah saya pelajari waktu sekolah dulu, dari kasus ini saya bisa melihat bahwa kiamat memang sudah dekat. These people, tidakkah menyadari bahwa apa yang dilakukan akan membawa konsekuensi, nggak cuma pada dirinya sendiri tapi juga pihak yang jadi korban? Terlepas dari agama, bukankah negara kita adalah negara dengan tingkat 'tepa slira' yang kental? Di mana tata krama dijunjung tinggi dan keluarga merupakan pihak utama yang bertanggung jawab akan proses pembelajarannya. Atau budaya ini sudah bergeser?

photo by danshenplus

Kelima, manipulasi bahan makanan. Ya ikan dan tahu diformalin, bahan baku basi/expired masih dipakai, penggantian bahan baku dengan bahan yang berbahaya/penyalahgunaan bahan baku, penambahan zat berbahaya pada bahan makanan... Kalau melihat berita yang demikian, saya jadi berpikir, makan apa ya yang nggak berbahaya? Karena kelihatannya semua makanan yang kita makan sehari-hari mengandung zat berbahaya. Ya martabak, ya pempek, ya gorengan, bahkan beras yang jadi konsumsi sehari-hari pun jadi sasaran manipulasi bahan makanan. Mestinya nih, selain ada informasi dari pihak ilmuwan yang menerangkan bahaya zat-zat yang nggak pada tempatnya tersebut, juga ada keterangan dari tokoh agama. Kan ceritanya negara kita ini negara ber-Tuhan, mestinya masyarakat kita takut dong dengan konsekuensi tindakan yang salah, mestinya dosa jadi pertimbangan seseorang buat melakukan suatu tindakan. Kalau emang masyarakat kita adalah masyarakat yang ber-Tuhan, semestinya segala tindakan selalu menengok pada dosa dan pahala. Am I right?

Sebuah celetukan pernah saya denger dari nyokap ketika kasus Kebun Binatang Surabaya lagi panas-panasnya, yang mana korbannya adalah hewan-hewan di sana yang mati satu per satu. "Orang-orang ini dosa lho ya, yang ditanganin ini kan bernyawa." begitu kurang lebih komentar nyokap waktu itu. Nyokap sejujurnya bukan aktivis pemerhati binatang, tapi beliau tau betul hal seperti apa yang sedang dihadapi di sini.

Nyawa. Hidup. Ya, kadang itu yang luput dari perhatian kita. Tindakan yang dilakukan terkadang nggak mempertimbangkan aspek ini, kepentingan orang lain. Bukankah manusia itu makhluk sosial? Mana buktinya kalau manusia memperhatikan kepentingan pihak lain? 

Baik itu makhluk lain ciptaan Tuhan (hewan, tumbuhan) atau manusia sendiri, manusia masih luput bahwa nyawa itu mahal harganya. Mahal dalam arti memiliki konsekuensi yang tinggi ketika seseorang bertanggung jawab terhadapnya. Nggak sepantasnya manusia menentukan nilai sebuah nyawa, kita kan bukan pencipta, kita nggak akan bisa menaksir harganya. Terlalu tinggi dan nggak akan terbeli. Bahkan undang-undang hukum yang mengatur tindakan yang sampai menghilangkan nyawa orang lain pun masih nggak mampu menggambarkan perkiraan harga sebuah nyawa. Konsekuensinya sangat besar, harganya sangat mahal. Manusia tau apa.

Naif saya bilang kalau ada manusia yang berani-beraninya mematok harga sebuah nyawa, playing God. Mungkin Tuhan di atas sana cuma tertawa sinis melihat manusia yang sok-sokan ngasih harga atas sesuatu yang dibuat-Nya. Orangutan atau harimau dianggap menganggu, dibantai aja, habis perkara. Berapa nyawa yang melayang? Sanggupkah manusia membayarnya di kehidupan berikutnya? I doubt it.

Negara kita memang masih terus berkembang, berbagai perubahan memang terus berlangsung. Kemajuan teknologi dan bisnis datang dan pergi di negara ini. Tekanan ekonomi tak terelakkan, kriminalitas di mana-mana, tapi negara tetap harus terus bergerak maju. That's the fact, unfortunately. Ready or not. Tapi apakah dengan begitu melupakan etika sederhana yang diajarkan agama? Melepaskan predikat negara timur yang menjunjung tata krama? We used to be a peace country, because we are eastern. Mungkin kita kalah maju dibanding negara barat, tapi kehidupan selalu tenang dan damai, kan?

photo by webtechman

I think what matters here is education. Baik itu dari segi agama, moral maupun ilmu pengetahuan. Bergantung pada pemerintah? Mau sampai kapan? Educate your self! Beruntunglah sekarang ada internet, perpustakaan meng-update koleksi mereka, akses informasi di mana-mana. Don't waste your time being uneducated. Pendidikan itu nggak cuma ngerti persamaan aljabar, mengerti konsep ekonomi atau mahir berbagai bahasa asing. It is more than that, way more. Banyak hal yang nggak diajarkan di sekolah, hal-hal yang bahkan lebih aplikatif di kehidupan sehari-hari. 

Kalau nalar saya sih, semakin banyak belajar, banyak membaca, the more you educate your self, semakin banyak perspektif yang kita tau, semakin tinggi rasa apresiasi kita terhadap sesama, semakin terbuka wawasan dan pikiran kita which means nggak akan gampang tersinggung, tau bagaimana memperlakukan sesama makhluk Tuhan, tau batasan-batasan yang boleh dilakukan sebagai manusia yang beradab, dan tau pentingnya kedamaian dalam kehidupan.

Saya memang besar dalam keluarga yang cukup religius, saya diajarkan batasan dosa dan peraihan pahala. Tapi saya juga cukup sadar bahwa pada kenyataannya dosa dan pahala akan mengalami situasi yang lebih kompleks. Not only black and white, but also grey. Di mana hal ini akan menjadi lebih sederhana ketika saya tetap berpegang pada kedua hal dasar tersebut. Strict? Nggak juga kok, agama yang saya anut cukup fleksibel dalam mengatur kehidupan umat-Nya. 

I'm not a saint, I'm human. Tempatnya salah dan dosa, right? Khilaf yang dijadikan alasan mungkin masih masuk akal kalau cuma sesekali terjadi, tapi gimana jadinya kalau hilang akal dan menghabiskan 23 nyawa berturut-turut. Apa itu masih disebut khilaf?

Balik lagi ke tulisan saya di atas, konon katanya negara kita ini mewajibkan rakyatnya untuk memeluk suatu agama, untuk memiliki Tuhan dalam hidupnya. Menurut saya, kewajiban ini perlu dikaji ulang, masih banyak masyarakat kita yang nggak mau memiliki Tuhan. Atau nggak percaya mungkin? Who knows.

photo by wikipedia

Nggak perlu lah tau ilmu agama yang terlalu mendalam bak pemuka agama buat paham arti dosa dan pahala. It's simple, really. Karena dua hal ini semestinya diajarkan sejak kecil, tentang salah dan benar. Easy right? Everyone had it when you were a little kid. Percuma juga kalau pendidikan setinggi langit tapi etika nol, yang ada penyalahgunaan ilmu melulu. Atau sebaliknya, agama boleh khatam tapi pendidikan bener-bener buta, jadinya malah pembodohan dan akhirnya terbelakang. Live your life in a balance way, ibaratnya mobil yang sedang melaju pendidikan itu pedal gas, maka agama adalah pedal rem dan kopling yang akan menyesuaikan dan mengendalikan laju kendaraan.

Educate your self and be humane, my friend :]

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin