Tuesday, 3 September 2013

August Haul - Comic Madness

Been a while, eh?

Udah lama banget nggak update blog yang ini *bersih-bersih sarang laba-laba*. Maafkeun, bukannya males baca, dengerin atau nonton, cuma lagi males nulis review #dikeplak.

Anywaypost kali ini bukan soal review, saya akan update hasil hunting saya di toko buku beberapa minggu belakangan. Banyak komik-komik favorit yang rilisnya barengan! >.< Mungkin besok-besok, post semacam ini akan lebih sering bertebaran di sini. 

Kalau novel sih, antara agak guilty kalau mau beli baru karena yang belum kelar masih banyak, apalagi yang belum dibaca, pada numpuk tuh di rak -_-" Belakangan ini lagi suka baca yang pendek-pendek karena lagi excited buat nulis di blog sebelah ;)

Nggak usah banyak cing-cong lagi, langsung aja nih tengokin hasil perburuan saya :D

P1070010 copy
P1070002 copy
P1070003 copy
P1070007 copy


Ada yang lagi koleksi komik yang sama dengan saya? What do you think about it? Atau ada rekomendasi komik keren lainnya? Mind to share? ;)

Sunday, 14 July 2013

Cat, cat, CAT

Jadi semakin ke sini saya makin menggilai semua yang 'berbau' kucing. Mulai belajar bikin ilustrasi kartun kucing (in process of drawing Tama, he has unique yet complicated face contour. Bo is the real living proof, anyway), beli stationary yang bergambar atau berbentuk kucing, beli komik-komik kucing sampai akhirnya baru sadar waktu beli lipstik yang packaging-nya bentuk kucing (kena 'rayuan' produk lucunya Korea nih -_-').

Semuanya terasa impulsive waktu beli, sadar-nggak sadar sih. Karena tiap kali beli barang-barang bertema kucing itu, pikiran pertama bukan "Do I need this?" lagi tapi "I gotta have this!". Serem, yes?

Anyhoo, soal komik-komik kucing, sebelumnya saya nggak terlalu ngebet pengen punya. Ini semua bermula waktu baca "POYO POYO", biasanya di bagian belakang komik kan ada tuh iklan komik-komik lain yang baru rilis maupun yang udah lama. Nah, sialnya di bagian tersebut selalu berisi iklan komik-komik kucing di setiap volume "POYO POYO". Ini hal yang melemahkan hati buat pecinta kucing macam saya, to be honest.

Sebelum (atau sesudah ya? atau barengan?) ngikutin seri "POYO POYO", saya udah beli "Meat 'Q' Family". Ceritanya ya tentang kucing gitu deh, diceritain kucingnya berdialog dalam bahasa manusia tapi nggak ada manusianya. 

MeatQFamily
maaf nih pake kamera HP jadi kurang clear ^^, googling cover-nya ga nemu :(

Kalau "POYO POYO" ada manusianya dan si Poyo (kucing, tokoh utama) nggak bisa ngomong cuma setor muka imut aja. Intinya, si Poyo ini adalah kucing super gendut yang baik hati dan suka menolong. Nggak percaya? Beli aja tuh komiknya dan baca sendiri! :p

iyee, kucingnya bulet, bukan efek kamera. 
Pssstt.. you can watch the anime here for free (it's English subtitled too!)

Semenjak beli-beli komik "POYO-POYO", saya jadi dapet info tentang komik-komik kucing lainnya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Kome si Belang
Volume: 1-5
Di Goodreads sih sampai 5 volume, tapi entah kenapa yang volume #2 nggak tercantum -.-"

Vitamin Cat
Volume: 1-2

Shinagawa Cat Story
Volume: 1-2 
FYI, di Goodreads sih ada 3 seri. Tapi yang beredar cuma 2 seri aja.

Mengenai pernak-pernik lainnya, nggak usah dibahas lah yaa ntar dikira pamer lagi :p So far, saya masih hunting komik Kome karena ini tergolong komik lama (volume #5 terbit tahun 2012 sih). Jadi nyarinya juga udah susah di toko buku, iseng googling juga banyak yang jual di Kaskus (entah second atau masih baru). Belum nyari di semua toko buku Surabaya sih, sejauh ini masih di Petra Togamas aja hehee.

Soal pernik kucing, pasti yang nyantol kali pertama Hello Kitty. However, saya nggak terlalu ngefans sama ikon kucing yang satu ini entah kenapa (kayaknya sih karena udah over-exposed, jadi eneg). Lucu sih, tapi not to be fan of. Sekalinya beli barang Hello Kitty ya make up brush set yang kebetulan ada tulisan Hello Kitty di bagian pegangannya. Yup, you read it right, tulisan. Bukan gambar. Itupun saya beli karena lucu aja brush warna pink, kan jarang tuh ;)

Back to comic, saya kurang tertarik sama karakter kucing yang jadi superhero lah, robot atau karakter lain yang tidak kucing-wi (is that even a word?). I just crave for the cuteness and light story, no need a heavy adventure. It would be another kind of manga character, for me.

So, do you have the same craziness as I do? Tell meh! :3





Saturday, 13 July 2013

A new pretty toy

Hi everyone!

Been a while, eh? ;)

Well, I've been writing on my other blog. It's actually my old fashion blog, I've pimped it up and re-brand into something new, of course something I'd like to have.

So, this is my new pretty toy...



I find it fun to write about any beauty products I've been using (or used) and share it with everyone.

Anyway, I hope you find it useful and you can use the information before you buy certain cosmetic products ;)

Enjoy! :D

Wednesday, 12 June 2013

Mirror

Jadi belakangan saya lagi suka dengerin lagu "Mirror" yang dinyanyiin sama Justin Timberlake. Dibandingkan single pertamanya "Suit & Tie", saya lebih prefer yang ini karena mirip-mirip "Cry Me a River" yang juga jadi favorit saya :D

Biasanya kalau saya suka sama satu lagu, Youtube jadi pelampiasan buat mencari versi-versi lain dari lagu tersebut. Dalam artian, mencari teknik menyanyi yang berbeda dengan penyanyi aslinya. Nah kebetulan waktu saya iseng search cover song penyanyi Youtube favorit saya, yang muncul malah cover-an Boyce Avenue (nggak terlalu ngefans sih, tapi cukup mengikuti kiprahnya hehe). Surprise-nya lagi, Boyce Avenue duet sama Fifth Harmony yang mana mereka ini adalah cewek-cewek jebolan XFactor USA.

Sedikit flashback, dulu pas Ilusia Girls nyanyiin lagu "Impossible" di XFactor dan saya search di Youtube (dengan alasan yang sama seperti di atas). Ternyata Fifth Harmony juga nyanyiin lagu yang sama pas masih manggung di XFactor

Satu hal yang bikin saya merasa takjub sekaligus kecewa adalah kualitas personil Fifth Harmony yang emang nggak diraguin lagi, range suaranya udah sekelas diva. Mereka membawakan lagu "Impossible" dengan karakter suara masing-masing dan karena tiap personil karakternya kuat-kuat jadilah seperti adu suara dalam 1 lagu. Harus saya akui, Ilusia Girls menang di kontrol suara untuk yang satu ini :)

Eh... begitu tau mereka duet sama Boyce Avenue, tentu saya penasaran dong gimana jadinya. Denger bagian awal aja udah merinding, suaranya bening-bening banget dan improvisasinya pas! :D Apalagi pas mereka harmonisasi pake suara 1, rapih banget dan enak didengernya :D



Duh, kok jadi kayak juri talent show nih (atau fans maniak?), maap yaaakkk :D Ya udah deh, daripada dideskripsiin panjang lebar, mendingan langsung klik tombol play di video di atas yeee, sodara-sodara.

Enjoy :D

Friday, 12 April 2013

Don't Judge the Cake by its Price

Pernah penasaran kenapa harga kue tertentu begitu mahal padahal teksturnya terasa familiar dan komentar tentang rasa yang bisa terucap cuma "Enaaaakkk banget!"?

Let me tell you a story...


Photo: sweettampa

Mungkin beberapa waktu belakangan booming Macarons, yang warna serta varian rasanya beragam--dan konon populer di kalangan sosialita di Jakarta. Well, di Surabaya sih udah bisa dibeli di toko-toko kue ternama atau di kafe-kafe tertentu di mall. Tapi itu tidak menjadikan kudapan yang satu ini terbatas pada kalangan sosialita di Surabaya, siapa saja bisa menjangkaunya. Cuma memang, ada harga ada rasa. Pun ukurannya: semakin besar ukuran diameternya, semakin mahal harganya.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkD91jZceOWYQZPZh8t5pFclN-cCAJuvjCFr-_QU6WpyAiM2RxhpayizxUjxWMkMuNvJYJXcZja784LjrKZPRNV-x-sbWXMKmez0l0dF9Rvcma-MeHjmHgdYs4nVnbDoFogeKKB96RuRp6/s1600/cheesecake.jpg"/>

Cheesecake mungkin masih terdengar asing di telinga dan tidak sefamiliar cupcake atau jenis-jenis cake lainnya yang lebih merakyat. Harganya per potong pun tidak bisa dibilang murah, sepotong strawberry cheesecake di Breadtalk berkisar Rp 12.000 (kalau saya tidak salah ingat). Bandingkan dengan brownies yang lebih populer dan bisa mendapatkan berpotong-potong brownies dengan uang sebesar Rp 12.000. Saya belum pernah menemukan sendiri cheesecake di toko kue yang dijual per loyang, bukan per potong. Entah berapa harganya saya nggak berani bayangin.


Photo: tumblr

Molten Lava Cake atau bisa disingkat dengan Lava Cake, kue apa lagi itu? Semakin asing saja namanya. Ya, di Surabaya sendiri saya belum pernah tau tapi mungkin restauran fine dining atau hotel-hotel berbintang menghidangkan dessert yang satu ini dalam menunya. Saya kurang tau kisaran harganya, tapi sekali saji, (umumnya) besarnya tidak lebih dari biskuit Oreo. Yah, sedikit lebih besar lah sekian sentimeter. The point is, kue ini tidak pasaran dan tidak bisa sembarangan dibeli di toko kue atau di kafe. Di Jakarta, setau saya sih kafe yang jual cuma Ninotchka punya Sonia Eryka. Kalau di restauran atau di hotel jangan tanya ya, saya sih nggak meragukan lagi. Kue ini sangat eksklusif, baik dari segi pemasaran maupun saat dihidangkan di hadapan pembeli.



Mungkin suatu saat kalian akan mencicipi kue-kue yang saya sebutkan di atas (atau kue lainnya yang harganya sama mencekiknya) dan berujar, "Ah begini aja kenapa mahal banget!". Because I've been there dan cuma kesan "Enak banget!" yang tersisa di lidah. Well, belakangan saya belajar mencicipi sebenar-benarnya, nggak asal hlep-kunyah-telan aja. Tapi dirasakan teksturnya dan mencoba mencicip rasa yang ditawarkan si kue.

Sampai tibalah saya di fase mengenal pembuatan kuenya itu sendiri. Di sinilah inti dari tulisan kali ini, bahwasanya memang mudah menghakimi sesuatu dari apa yang tampak indera tanpa mengetahui bagaimana proses di baliknya. Well, emang sih pembeli nggak mau tau ya gimana prosesnya pokoknya dia suka rasanya ya dia bayar. But still, I think when I get to know the process, I'm getting to appreciate the cake. Why is it exclusive, or for most of us-why is it damn expensive?

Dulu pernah iseng nyobain resep Macarons dari internet karena tergiur gambarnya yang cantik. Beberapa bahan saya ganti dan hasilnya keras banget nggak seperti yang diharapkan padahal keliatannya gampang. Ternyata oh ternyata, apa yang ada di resep jauh berbeda dengan pembuatan Macarons yang sebenarnya. Salah satu sahabat saya, si Cece, yang ambil kuliah Culinary pun lalu menjelaskan 'kesalahan' saya. Bahwa mengocok adonan Macarons ada tekniknya dan bahwa kecepatan mixer sangat berpengaruh, dan yang terpenting bahan-bahan nggak bisa diganti seenaknya. Well, that's my bad :D

Pun waktu saya bikin Chocochip Cookies (untuk yang ini, kafe-kafe atau bakery tertentu menawarkan cookies jenis ini yang rasanya tiada tara. Itulah kenapa saya masukkan ke dalam kategori ini) dan Molten Lava Cake. Mengikuti resep saja belum tentu sukses, harus ada trial and error. Terutama resep-resep dari luar negeri yang entah kenapa saya curiga tepung aja kayaknya beda rasa #pembelaan Soal takaran pun bisa menjadi perkara besar, karena resep dari luar negeri menggunakan satuan "cup" dan bukan "gram" atau "kilogram" maka ketepatan jumlah bahan bisa berpengaruh pada hasilnya ketika kue matang.

Kalau kata nyokap, "Bikin kue itu nggak seperti memasak. Nggak bisa asal campur atau asal kira-kira-seperti menaburkan garam di masakan, semua harus diperhitungkan karena bahan cair dan bahan kering harus seimbang.". Well, ini juga yang jadi bahan analisis nyokap atau bude saya (yang emang jago bikin kue dan cetakannya sering saya pinjem tapi nggak dibalikin) ketika saya bikin kue gagal. Tepungnya seberapa, gulanya seberapa, mentega seberapa, semuanya ditanyain sampai saya ngaduk adonan atau memanggang berapa lama pun ikut diungkit.

Dan dari sekian resep yang sudah saya coba, saya makin mengerti kenapa beberapa kue tertentu mahal harganya. Bukan, bukan karena bahan dan alat yang digunakan memang khusus, top quality and it costs more. Tapi karena yang dijual sebenarnya bukan kuenya, melainkan skill si pembuat. Bayangin aja, kalau si pembuat Macarons nggak jago dan salah atur kecepatan mixer (or simply 'sotoy' like me), pasti hasilnya Macarons bantet alias gagal.

Begitu juga dengan proses pembuatan cheesecake, lava cake hingga chocochip cookies terenak di dunia. Prosesnya nggak semudah yang ditulis di resep-resep (well, or just like I thought it would be). Coba deh iseng browse resep cheesecake berikut tips pembuatannya, nggak usah muluk pake yang Bahasa Inggris yang lokal aja dan bakal jiper duluan deh sebelum belanja bahan-bahannya saking ribetnya proses yang harus dilalui.

Back to basic, semua kembali pada ide. Manusia penciptanya, manusia pula yang mengendalikannya. Kue hanyalah hasil nyata sebuah ide, balik lagi deh semua ke proses. Siapa yang melalui prosesnya? Ya manusia. Karena manusia yang punya skill, dan bahan serta alat hanya fasilitator. Balik lagi, manusia yang mengendalikan kemampuannya. #kokjadifilsafat

Anyway, it's just a random post after I've read a long explanation of how to bake cheesecake and failed on baking Lava Cake (it turns out to be muffin instead) recently. I just wanna share what I thought and I hope you won't judge a cake by its price (or the taste) only anymore, but think about the skill of the baker also. It's priceless :)

Have a good day! :)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin