Wednesday, 15 October 2008

Stop Thinking

Pernah saya browsing alias cuci mata ke sebuah bookstore yang cukup well-known di Surabaya (one of my favorite). Waktu lagi melintas di rak bagian buku-buku inspirative, saya melihat sebuah buku yang menarik perhatian saya. Dalam buku itu dikatakan bahwa kita disarankan untuk jangan pernah berhenti berpikir. Sekalipun kita sedang tidur. Karena kita tidak pernah tahu ide-ide atau pemikiran brilian macam apa yang akan keluar dari hasil kerja otak kita. Sebagai penulis (well, especially a novel author), otomatis saya sependapat dengan si penulis buku itu. Tulisan yang lahir dari hasil koordinasi kerja otak dan kelihaian jemari tangan saya bisa eksis karena adanya proses berpikir. Namun pengalaman saya yang satu ini mengubah totally pendapat saya itu. Until one night. Situasi kuliah sedang sooo hectic sampai pulang kuliah saya selalu menjelang petang. Well, mungkin bagi sebagian orang itu hal yang wajar. Apalagi status sebagai mahasiswa, tidak ada batasan waktu untuk urusan kuliah (am I right?). Tapi bagi saya, I need a time, in one day, to give my self a rest and I can enjoy my me-time. Dan biasanya itu saya lakukan di malam hari, usai jam 'sekolah'. Saya pun memutuskan membeli sebotol jasmine tea (or any instant tea) setiap pulang kuliah malam. Just an excuse so that my body will be a lil bit relaxed then I can sleep tight till the next morning. But plan just a plan, God decides. I've never have a good quality sleep after all. Mata memang terpejam rapat, badan pun relaxed tapi otak saya terus memunculkan ide-ide yang seolah mengalir deras seperti air terjun. Saya bahkan menyalakan aromatheraphy healing set dengan aroma-aroma essential oil yang lembut supaya saya bisa terlelap perlahan. Oh God, it failed. Mungkin lampunya perlu dimatikan, pikir saya suatu malam. Namun setelah kamar saya gelap, pikiran-pikiran horor tentang sosok putih atau bayangan putih yang berdiri di samping tempat tidur saya terus menghantui dan ujung-ujungnya saya tidak bisa tidur. So, turn off the light is not the solution. Bukannya saya phobia gelap, saya tidur dengan lampu mati di rumah saya sendiri. Lagipula, menjelang tidur biasanya saya sambil membaca novel atau mendengarkan MP3 sehingga terkadang malas bangun (soalnya uda PW di kasur) untuk sekedar mematikan lampu yang saklarnya terletak di dekat meja belajar itu. Pernah saya baca di majalah, kalau sedang sulit tidur sebaiknya bangun dan melakukan aktifitas yang melelahkan. Say, walking around your house (inside not outside okay) or a lil excercise like push-up or sit up but I'd prefer none of those two options. I get up and sit on my study chair and grab a chocolate bar and of course eat it immediately. I ussually still sit till I stop thinking and it takes a long time. Quite long till I guess I lost almost 75% of my sleeping time. Momen di mana saya meraih chocolate bar itu hampir selalu sama, ketika saat itu tiba biasanya mendekati pukul 12 malam atau lebih dari setengah 12 malam. Saya tidak tahu apa sebabnya. Saya tidak pernah mau melihat jam di handphone yang selalu stuck di samping bantal saya (because I need the alarm to wake me up in the morning) karena itu akan membuat saya semakin guilty and sad melihat waktu tidur saya yang berkurang drastis. Sampai saat ini pun hal itu masih sering terjadi (tapi tanpa momen: grab a chocobar), di mana di tengah malam saya bangun karena tidak bisa tidur dan hanya bisa duduk di depan meja belajar dan terdiam sampai merasa mengantuk. Kadang saya ambil novel atau komik karena biasanya saya merasa mengantuk bila membaca di rentang jam tidur. But still, it didn't help a lot. Saya masih harus struggling sampai benar-benar tertidur atau at least saya berada dalam kondisi tidak sadar supaya body and soul saya bisa istirahat sejenak. Saya pun mendadak mengidap insomnia. Writing board di dekat tempat tidur saya pun jadi tempat pelampiasan. Board itu penuh call-out yang isinya tangisan saya yang nggak bisa tidur juga. Otak saya justru bekerja aktif di kala saya ingin otak saya berhenti bekerja. If you wonder, ide-ide yang terus mengalir dan pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepala saya itu bermacam-macam. Mulai desain FS yang baru, kelanjutan plot cerita dalam novel yang sedang saya tulis, apa yang ingin saya googling besok, gimana kabar Senja sahabat saya sejak TK, kira-kira gimana biar kelinci kecil nggak rawan mati, sampai mendadak menemukan cara atau penyelesaian masalah yang tadinya saya capek mikirinnya. Semua itu pop-up di kepala saya ketika mata saya ingin terpejam sekitar 8 jam dan badan saya ingin diistirahatkan dari aktifitas saya yang melelahkan. Saya nggak mau nyari-nyari tips tidur yang baik karena saya udah bosan sama semua tips yang pernah saya baca di majalah. Karena kunci masalah tidur saya ada pada kontrol saya sendiri, untuk menghentikan kerja otak yang bersarang di tengkorak saya. Berhenti berpikir, for at least 8 hours. Alhasil, saya tidak pernah punya kualitas tidur yang baik. Cirinya, saya selalu mengantuk di kelas paginya dan ketika bangun saya merasa waktu tidur saya kurang. Sekalipun saya tidur jam 9 malam, tapi rasanya saya masih ingin tidur sampai jam 10 pagi kalau perlu. Still not enough, for me. Akibatnya, I feel like I do a revenge when I'm at home. Kualitas tidur saya di rumah jauh lebih berkualitas meskipun kadang juga mengalami masalah yang sama. Kecenderungan saya bila di rumah adalah sleep late dan bangun agak siang. Saya biasa tidur pukul 1 atau 2 pagi dan bangun sekitar pukul 8. Dan saya tidur nyenyak sekali. I've never ask for more time to sleep or get back to my bed even when my mother yelling me to wake up. Kualitas tidur ini fortunately tidak mempengaruhi kondisi mood saya setiap harinya. Saya bukan orang yang moody. Mood saya ditentukan oleh adanya satu pikiran yang menjadi beban di kepala saya. Ya, satu pikiran. Hanya satu dan tidak lebih. And anyway, itu sangat jarang terjadi karena saya tidak suka membawa-bawa masalah ke mana-mana. Enakan juga bawa duit, biar bisa dibelanjain buku atau baju haha. Suatu malam, di kala insomnia saya lagi kumat. Saya manfaatkan sekalian over-production otak saya ini. Saya tulis sebuah prosa di diary saya sampai menggambar kartun-kartun jelek di writing board saya (it's full now!). Dan kalau saya baca lagi prosa buatan saya itu atau gambar kartun jelek saya, saya jadi ketawa sendiri mengingat betapa depressed-nya saya kala insomnia sedang melanda. Saya pun jadi merasa berada dalam sebuah game komputer, di mana saya bisa memutuskan untuk 'quit' atau kembali ke 'game resume'. Saya berlomba dengan otak saya sendiri. Apakah saya bisa tidur dengan kepala kosong alias tidak memikirkan apa-apa atau terus gelisah di atas tempat tidur because my thoughts and ideas are scattered everywhere. Saya pun jadi punya trik sendiri supaya bisa lekas tidur ketika godaan untuk 'back to the resume'. Saya akan mengatakan pada otak saya; think about nothing. Karena otak saya tidak bisa menemukan dan memvisualisasikan objek apa itu 'nothing', sehingga tidak ada lagi bayangan-bayangan yang bermunculan di pikiran saya dan akhirnya saya pun bisa terlelap. Sweet dreams.

Monday, 13 October 2008

Pop Sausage

Kalau kamu pikir itu aliran musik baru, kamu salah. Saya sengaja bikin judul itu soalnya ini ada hubungannya dengan snack teman nonton film, apalagi kalau bukan pop corn. Ada yang nggak tau apa itu pop corn? Ke laut aja.

Well, kemarin itu saya baru selesai lunch dan adik saya yang paling kecil minta dibikinin sosis goreng tepung. Jadilah saya memotong-motong sosis sapi jadi kecil-kecil dan pipih kemudian mengaduknya ke dalam adonan tepung (hasil 3 macam campuran tepung dan sedikit air). Saya melakukan semuanya persis seperti yang biasa dilakukan nyokap saya, ya, semuanya termasuk perlengkapan yang digunakan. Soalnya hanya itu yang saya tahu haha.

Sosis sudah terbalur adonan tepung dengan sempurna, tinggallah saatnya saya mencemplungkannya ke dalam penggorengan. Karena males membungkuk ngambil wajan yang biasa dipake menggoreng, jadinya saya pake teflon medium yang ada di samping kompor. 'Mungkin habis dipake menggoreng ayam crispy tadi pagi' pikir saya waktu itu. Tanpa firasat apa-apa, saya panaskan itu wajan yang udah berisi minyak lumayan banyak (soalnya kalo mau goreng ayam crispy minyaknya harus banyak, kata nyokap saya sih gitu hehe). Trus pas udah panas saya masukkan sosis berbalut adonan tepung satu per satu dan nggak lama kemudian saya lihat udah banyak yang matang (gorengan kelihatan kecoklatan = tanda udah matang, yang ini kebangetan lah kalo sampe nggak ngerti!). Saya pun ngambil capitan makanan yang biasa dipake nyokap buat meniriskan kalo lagi menggoreng ayam goreng crispy dari wajan (udah saya bilang, persis kayak nyokap sampe ke peralatannya!). Waktu meniriskan satu sosis goreng ke saringan, mendadak sosis itu meletus kayak pop corn. Saya pikir, mungkin karena ada bagian yang menggembung. Biasanya telur dadar juga sering kayak gitu, jadi saya mah biasa aja. Sosis kedua yang saya tiriskan ke saringan, lebih parah. Dia malah seolah mental waktu nyampe di saringan, diikuti satu sosis lagi yang bahkan belum saya angkat dari wajan alias itu sosis keluar sendiri dari penggorengan! Refleks saya menjauh dari wajan sekitar 2 atau 3 mil gitu lah, untuk menyelamatkan nyawa saya yang cuma sebiji ini. Ledakan dari sosis-sosis di dalam wajan masih berlangsung, sosis-sosis goreng itu seolah pop-out (saya nggak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia, sorry) persis kayak pop corn.

Mengingat saya lebih takut kecipratan minyak goreng dibanding kesetrum pas nancepin kabel, jadinya buru-buru saya matiin kompornya dan berlari (anehnya) ke bokap yang lagi baca koran di ruang tamu (nyokap lagi tidur). Sementara adik saya yang minta digorengin sosis lagi ngisi TTS di majalah Mentari yang baru dibelinya pagi tadi.

"Pa, sosisnya meledak." kata saya yang sukses mengejutkan bokap yang lagi serius baca kolom ekonomi di Jawa Pos.
"Hah?" mungkin bokap mendengarnya seolah kompornya yang meledak melihat muka saya yang panik kayak habis ngelihat kebakaran.
"Sosisnya meletup, Pa. Gimana donk?" saya berkata lagi.
"Ya dikecilin kompornya." ujar bokap tenang sambil kembali membaca koran di tangannya.
"Udah, dimatiin malah."
"Ya sekarang udah nggak." kata bokap dengan isyarat supaya saya kembali ke dapur, melihat kondisi sosis goreng tepung pesanan adik saya.
Saya pun berjalan kembali ke dapur, "Kamu nggoreng kok pake capitan?" seru bokap dari ruang tamu.
"Mama biasanya pake capitan kalo ambil gorengan." jawab saya dari dapur.
Ya, saya tadi lari dari dapur dengan tangan masih menggenggam capitan makanan yang saya pakai buat meniriskan gorengan dari wajan. Fool me!

Hebatnya, apa yang dikatakan bokap 100% benar. Sosis-sosis goreng yang sekarang semuanya benar-benar matang itu diam di penggorengan, yang di saringan juga udah nggak meletus. Nggak ada lagi yang meletus-letus apalagi sampai meloncat keluar penggorengan. Buru-buru saya tiriskan sisa sosis yang masih ada di wajan dan langsung memindahkannya ke piring adik saya.

Setelah kejadian itu, saya jadi bertanya-tanya; yang salah itu wajannya? minyaknya? adonannya? atau sosisnya? karena jelas ini bukan human error alias bukan salah saya. (haha) Adonan saya bikin seperti biasa, sosis juga sosis yang biasa nangkring di kulkas, kalau wajan...nggak deh rasanya. Minyak? mungkin juga, tapi minyak model apa yang bikin sosis sampai jadi pindah orientasi jadi pop corn? Any idea?

Monday, 6 October 2008

Berbeda

Satu kekosongan mengisi Lebaran saya tahun ini. Sekitar 10 hari menjelang Lebaran—tepat sehari sebelum saya berulang tahun, saya kehilangan orang yang saya sayangi, orang yang telah merawat saya ketika saya kecil. Orang yang selalu menyayangi saya layaknya ibu saya sendiri, eyang putri saya. Idul Fitri 1429 H terasa sangat berbeda, kehilangan satu orang yang dicintai banyak orang membuat perbedaan itu muncul ke permukaan. Hari pertama Lebaran, di mana biasanya usai shalat Id saya dan keluarga buru-buru ke rumah eyang supaya tidak ketinggalan sungkeman, kini memilih di rumah saja sekalipun tahu tak akan ada tetangga yang mampir karena semua pada mudik ke kampung masing-masing. Kebetulan, tante saya ada yang hendak berkunjung ke rumah bersama keluarganya. Jadilah kami sekeluarga menetap di rumah sampai sekitar tengah hari karena saya dan nyokap memutuskan untuk pergi ke rumah eyang saya yang sudah tiada itu. Di rumah eyang, hampir semua saudara-saudara nyokap berkumpul. Kecuali satu-satunya pakde saya yang masih di luar pulau (it's in Sumba, NTT anyway), karena pesawat tidak tiap hari ada dan biayanya pun tidak murah. Bahkan bude saya yang biasanya mudik ke kampung halaman suaminya di Jawa Tengah, tahun ini memutuskan untuk stay dan berkumpul bersama saudara yang lain. Tradisi sungkeman memang sudah tidak ada (dimulai dari tahun ini), mengingat eyang kakung saya juga sudah meninggal sekitar 4 tahun yang lalu. Saya memandang ruang tamu yang lengang, tempat di mana eyang saya biasa duduk dan kami semua bersimpuh bergantian mencium tangannya ketika hari kemenangan tiba. Meminta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Sosok itu kini telah tiada, sekali lagi saya meyakinkan diri. Alhasil, hanya tradisi salam-salaman antar saudara yang tersisa. Tak lupa angpao Lebaran dari bude-bude saya yang baik hati hehe. Suasana rumah eyang hari itu bisa dibilang sepi sekali, nyaris tidak ada tamu berkunjung sejak saya datang sampai saya pulang sekitar pukul 4 sore. Mungkin saya melewatkannya pagi tadi, namun ketika eyang saya masih ada, volume tamu yang berkunjung ke rumah bisa sampai malam hari tanpa henti. Sekali lagi, kepergian eyang saya telah membuat perubahan pada Lebaran tahun ini. Hari kedua Lebaran, biasanya diisi dengan berkunjung ke rumah kerabat di luar kota yang tak jauh dari kota tempat saya tinggal. Namun, tahun ini agenda keliling ke rumah kerabat itu mendadak dihapus dan diganti dengan acara nonton bareng "Laskar Pelangi" bareng sepupu dan adik saya. Lebaran hari kedua pun dihabiskan di salah satu mall di Surabaya dengan agenda hari itu: nonton "Laskar Pelangi" yang memang lagi happening banget. Berangkat lumayan pagi supaya kebagian tiket pun dilakoni, bahkan sebelum loket bioskopnya buka. Karena udah kebiasaan beli snack di supermarket di mall itu, kami pun dengan PD-nya menenteng tiga kresek medium yang penuh makanan ringan ke dalam bioskop. Namun buru-buru dicegah petugas yang mengatakan nggak boleh bawa makanan ke dalam bioskop. Sejak kapan? saya bertanya-tanya dalam hati. Lalu saya melirik pengumuman yang berdiri di samping saya. Oh, rupanya sejak kertas pengumuman ini terbentang beberapa waktu lalu karena jelas sekali bahwa pengumuman itu belum lama terpasang. Alhasil, kami hanya berhasil membawa sekantong plastik berisi minuman. Damn! Malamnya, saya pun sibuk menyiapkan minuman buat saudara-saudara saya yang suka datang serombongan ke rumah saya yang tiny, di saat mata saya udah tinggal se-watt dan kaki juga mulai pegel-pegel gara-gara kelamaan ngantri nungguin loket bioskop buka paginya. Tapi itu semua worth it dengan perasaan gembira yang mengantar saya tidur. Kepergian eyang saya memang telah membuat perbedaan--perubahan pada Lebaran tahun ini. Perubahan yang muncul ke permukaan itu memang masih terasa asing, aneh. Namun saya yakin, ke depannya akan mampu mengantar keluarga besar saya menjadi keluarga yang lebih baik. Amin. Good bye, my beloved grandmere. May you get the best place besides Allah. I'm gonna miss you always. I love you, you know that :] Met Lebaran !

Monday, 25 August 2008

Belum Mandi

Hari itu saya visit ke rumah nenek saya, kebetulan beliau baru saja opname dan kondisinya masih sangat lemah. Tanpa terasa langit beranjak petang dan saya yang tidak membawa baju ganti, malas mandi. Kalaupun cuci muka pun saya tidak membawa facial foam yang biasa saya pakai, jadi saya bertahan tidak mandi (hanya cuci kaki-tangan hehe) sampai malam menjelang. Saya juga tidak tahu kapan saya akan pulang karena nyokap nggak menunjukkan tanda-tanda mengajak pulang :[

Sekitar pukul 8 malam, ketiga (dari 5) anak perempuan eyang saya itu berkumpul di kamarnya sambil mijetin tangan ibunya. Nyokap selonjoran di sebelah kanan dan bude saya selonjoran di sisi kiri eyang saya yang berbaring di kasur, saya sendiri duduk bersila sambil mijetin kakinya *bude saya satu lagi baca koran*.

Setahun terakhir ini, eyang saya mengalami kepikunan dan semenjak opname di rumah sakit beberapa waktu lalu membuatnya semakin parah. Lain halnya dengan yang satu ini. Mungkin karena sudah mengendap di dalam LTM*-nya, sehingga ketika hari menjelang sore, setiap kali ada cucu maupun cicitnya yang main ke rumah pasti disuruhnya untuk mandi. Hal itulah yang terjadi pada saya hari itu.

Eyang: "Jam piro saiki?" --Jam berapa sekarang?
Bude saya: "Jam 8"
Eyang: "Wis bengi lho ya...Ayo siramo, Mbak!" --Sudah malam lho ya...Ayo mandi, Mbak!

Mbak di situ maksudnya adalah saya, karena saya adalah satu-satunya cucu berpredikat 'mbak' dalam keluarga. Bude saya dan Nyokap pun tertawa terpingkal-pingkal *saya juga!* mendengarnya. Mengingat satu-satunya orang yang belum mandi adalah moi :]

Bude saya: "Mbah punya radar siapa yang belum mandi." *sambil terkikik geli*
Eyang: "Ayo ndang siram!" --Ayo lekas mandi!
Bude & Nyokap: "Iya, wis budhal areke." --Iya, sudah berangkat anaknya.
Eyang: "Budhal nangdi?" --Berangkat ke mana? *udah pikun sih!*
Nyokap: "Ya nang kamar mandi." --Ya ke kamar mandi.

Eyang pun manggut-manggut mendengar jawaban nyokap, sementara saya masih duduk manis di tempat--mijetin kaki eyang :] Jawaban melegakan memang diperuntukkan bagi eyang saya saat ini, mengingat eyang saya sudah pikun.

Tak lama kemudian...

Eyang: "Siramo lak enak, Mbak..." --Mandi kan enak, Mbak...
Bude saya: "Lho temenan." --Lho beneran. *maksudnya, membenarkan perkataan bude saya tentang eyang saya yang punya radar itu*

Berikutnya saya berdiri karena tak kuat menahan tawa, bude dan nyokap pun tertawa ngakak. Kenapa hanya saya yang disuruh mandi?? *sampe 2 kali* kalaupun emang bau *nggak layau!* saya kan duduknya jauh. Lagipula paginya saya udah semprot pake Paris Dream, so pastinya masih wangi donk! :D

Agak lama setelah ditinggal ngobrol ngalur-ngidul, eyang saya bersuara kembali.

Eyang: "Wis ayo, Het, adhuso!" --Sudah ayo, Het, pergi mandi! *Het itu maksudnya penggalan nama nyokap*
Nyokap: "Wis, Bu." --Sudah, Bu.
Bude & saya: "Hiyaa...kena juga!" *ngakak sepuasnya!*
Eyang: "Eh wis? Ya wis, alhamdulillah." --Eh, sudah? Ya sudah, alhamdulillah.

Beberapa menit kemudian...

Eyang: "Ayo, Mbak, ndang siram!" --Ayo, Mbak, lekas mandi!
Saya: "Hmmffh...Wis, Mbah. Ayuk iku lho durung." --Udah, Mbah. Ayuk itu lho belum.

Ayuk itu adalah panggilan saya ke bude saya, penggalan dari namanya :]
Saya sengaja melempar 'umpan' ke bude saya yang notabene udah mandi, just kidding yanno. Soalnya dari tadi saya mulu yang dijadiin objek *tapi emang bener saya yang belum mandi*. Sayangnya, eyang saya percaya-percaya aja tuh ketika bude saya bilang dia udah mandi. Crap!

Mendadak eyang saya minta duduk, sehingga nyokap dan bude pun membantunya bangun. Lalu bude saya yang satu lagi datang menjenguk ibunya, bersama pakde saya. Di tengah bude saya yang baru datang dan bude saya yang bernama Ayuk tadi asyik ngobrol tentang cincin yang baru dibeli, eyang saya angkat bicara.

Eyang: "Wis ayo, Yuk, ndang adhus!" --Sudah ayo, Yuk, lekas mandi!

YES!! Akhirnya bude saya kena juga ahaha. Kami semua yang ada di kamar itu pun tertawa mendengarnya, termasuk bude dan pakde saya yang baru datang *meski nggak tahu maksudnya apa*

Bude saya: "Wis mari, Bu." --Sudah selesai, Bu.
Eyang: "Lha kok ngguya-ngguyu ae." --Tapi kok ketawa-ketawa aja.
Bude saya: "Mbahe Sara..." --Mbahnya Sara... *sambil geleng-geleng dan ketawa*

Kemudian bude saya itu menjelaskan kepada bude saya yang baru datang apa permasalahannya sampe kita nggak kayak nungguin orang sakit begini *ngakak mulu* dan bude saya yang baru datang tadi malah nanya ke saya, "Lho tapi kamu emang belum mandi?" dengan muka innocent *co cwit!* saya geleng-geleng kepala sambil cengar-cengir bilang, "Belum."

Tak lama kemudian, nyokap ngajakin pulang *akhirnya!*. Saya pun mencium tangan eyang saya yang sudah kembali berbaring karena sudah lelah duduk dan beliau berkata, "Yo wis ndang muliho, adhuso, aku gak kuat ambune." --Ya sudah lekas pulang, lekas mandi, aku nggak tahan baunya. Sontak orang sekamar ngakak mendengarnya, di mana objek perkataan eyang saya tadi adalah gue--cucunya yang paling keren sedunia ini *hehe*. Berdalih membela diri, saya pun berkata meski saya tahu eyang saya mah bodo amat siapa itu Paris Hilton, "Eehhh wangi rek! Wis tak semprot Paris Hilton kok." --Eehhh wangi rek! Udah saya semprot Paris Hilton kok.

Dan...saya pun pulang ke rumah saya yang homey dan setelah cuci muka *akhirnya* saya pun merasakan sensasi kayak bintang iklan facial foam yang saya pake; puber! Berikutnya saya sudah berlayar ke pulau kapuk dan besok paginya saya menulis blog ini :D

* Long Term Memory: tempat penyimpanan memori ingatan kita yang paling dalam

Hari Perpisahan

Kalau ingat hari perpisahan jaman sekolah dulu *kayak uda nenek-nenek aja ni ngomongnya*, saya pasti berasa kangeeeeeeeen banget sama temen-temen jaman bahelula alias temen lama. Hari perpisahan paling berkesan buat saya adalah hari-hari perpisahan jaman SD. Kenapa saya bilang hari-hari perpisahan? karena saya selalu tampil di hari perpisahan kakak kelas saya sejak kelas 1, saya tidak begitu ingat keseluruhan performance yang saya lakukan. Yahh paling-paling juga nari apa gitu. Saya hanya berhasil mengingat performance saya ketika kelas 4 (tari jaranan) dan kelas 5 (nggak tau nama tariannya). Itupun samar-samar :] Saya berhenti jadi pengisi acara ketika hari perpisahan buat saya tiba, wisuda kelulusan saya yang sesungguhnya.

Momen yang paling saya benci adalah perpisahan, because it's always end up with I'm crying or my friends gone. Untungnya waktu SMA saya tidak datang ke hari perpisahan (karena harus belajar buat tes PMDK keesokan harinya), so nobody saw me cry ;] Tapi hari perpisahan yang saya datangi beberapa saat yang lalu tidak membuat saya kehilangan satupun teman. Well, yeah, saya sempat ingin (underlined!) menangis saking harunya, saya jadi terbawa suasana; merasakan perasaan bangga, bahagia sekaligus sedih karena tidak akan bertemu lagi dengan teman-teman dan guru-guru. Saya datang ke acara wisuda kakak kelas adik saya yang masih SD. Saya bahkan nyaris ikutan nangis haru ketika wisudawan menerima medali dan piagam kelulusan kemudian bersalaman dengan guru-guru pengajar yang sudah setia menemani selama masa-masa menjelang ujian.

Acara hiburannya kurang lebih masih sama seperti tahun saya dulu (dan sebelumnya); tari-tarian daerah dengan kostum warna-warni yang mencolok plus lipstik merah menyala, namun bedanya kali ini ada tari-tarian yang penarinya cowok. Jaman saya dulu nyaris semua pengisi acara adalah cewek, sudah emansipasi rupanya :] Ada juga penampilan qasidah yang merupakan bagian dari ekstakurikuler unggulan sekolah dan permainan angklung. Ada juga permainan gamelan lengkap dengan sindennya, waktu melihat mereka bersiap saya berbisik pada nyokap di sebelah, "Ma, mirip sinden gosip extravaganza." dan nyokap pun tergelak, "Ho-oh, mirip. Yang satu Tike, yang satu TJ." Karena saya tidak membawa kacamata, jadi saya tidak bisa melihat jelas bagaimana rupa sinden-sinden cilik yang duduk manis dengan kaki terlipat ke belakang itu. Dari pandangan kabur saya sih, dua cewek itu: satunya agak gendut, satunya kurusan. Bener kata nyokap, mirip banget! Kurang lengkap, nggak ada yang jadi Tora Sudiro :D

Oke, penasaran apa yang saya lakukan -- ato lebih tepatnya adik saya lakukan di wisuda kakak kelasnya? Well, adik saya tampil sebagai salah satu pemain angklung dan saya didaulat menemani nyokap yang menugaskan saya sebagai fotografer dadakan buat adik saya dengan kamera VGA HP-nya. Nasib! Saya was-was kalau pencahayaan bakal minim dan hasil fotonya jelek. Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan hasil fotonya nggak surem kayak foto saya.

Setelah menunggu lumayan lama sampai pantat panas dan perut sempat terganjal roti keju mini dan kacang telor dari kotak kue undangan, akhirnya tiba giliran adik saya tampil. Dia berjalan paling depan dan dari jauh udah kelihatan banget *meski saya nggak pake kacamata*, gara-gara dia pake baju adat Bengkulu yang ikat kepalanya agak ketinggian dan berwarna emas menyala. "Ma, foto sekarang ya?" saya minta izin sama nyokap, meski agak ragu juga soalnya nggak ada orangtua yang maju buat motret seperti performance-performance sebelumnya. Tapi saya PD aja, saya duduk di bangku nomor 2 dari depan yang dekat lorong dan memungkinkan untuk memotret adik saya. Eh, ketika saya menoleh, tiba-tiba segerombolan orang dewasa udah berdiri sejajar dengan saya dengan kamera digital (mulai dari yang layar LCD-nya cuma seukuran 3 jari sampe yang membentang memenuhi bagian belakang kamera) serta handycam di tangan masing-masing. Sedangkan saya, cuma pake kamera HP CDMA nyokap, VGA pula! Agak minder juga sih :[ Tapi apa boleh buat, emang saya nggak punya kamera digital karena bokek hehe.

Buru-buru saya sorot adik saya yang berdiri paling belakang (dari 3 baris), tapi paling pinggir karena dia paling tinggi. Eh masih nggak kelihatan juga mukanya, absurd. Saya zoom deh akhirnya, malah kotak-kotak jadinya. Ampun deh! Saya pun bertekad menabung buat beli kamera titik *doain saya nggak tergoda on-line shopping mulu ya!*. Alhasil, saya jepret adik saya apa adanya. At least nggak pelit cahaya kayak foto saya di Friendster kapan hari. Dua jepret cukup karena saya tidak menemukan angle yang bagus selain posisi saya saat itu. Mau lebih dekat, itu artinya saya harus memamerkan pantat saya yang mirip punya J-Lo ini *tapi bo'ong* ke muka tamu-tamu kehormatan yang duduknya paling depan. So, I decided to just stand where I am. Meski sempet kehalang tiang lampu dan ketutupan mas-mas bagian publikasi yang bawa kamera yang mirip kamera TV. Poor me :[

Begitu balik ke kursi saya semula, saya cek lagi hasil jepretan saya. Nggak jelek-jelek amat kok *membela diri hehe*. Tiba-tiba nyokap bertanya, "Kamera digital berapaan sih, mbak?" dan dengan lagak makelar kamera digital saya menjawab, "Sony yang bagus udah murah kok, 1.2 udah dapet." Nyokap tergelak kaget, "Kirain dibawah sejuta ada." dengan kesal saya menjawab, "Ya mending pake kamera HP aja kalo yang segitu!" Toh, kualitasnya nggak jauh-jauh amat. Kemudian nyokap bercerita kalo pengen beli kamera buat motret adik saya yang paling gede yang rencananya (garis bawahi!) mau ngeband di hari perpisahan sekolahnya.

Saya pun menimpali, "Tahun depan beli kamera yuk, Ma. Buat motret adek pas wisuda." Saya melihat fotografer bagian publikasi melintas, "Tapi kamera SLR aja." Nyokap mengerutkan dahi, "Apa itu?" sambil menunjuk dengan kepala saya berujar, "Kayak yang dibawa Pak yang lewat itu." Nyokap lebih surprised lagi, "Hah? Masa mau gendong-gendong begituan?! Ya Mama nggak mau. Kan berat!" saya tetep insist, "Tapi hasilnya kan bagus, Ma." Toh ujung-ujungnya yang motret saya juga, nyokap mah cuma mau trima jadi doank.

"Kalo kamera itu emang hasilnya bagus, Mbak. Kan kamera wartawan." nyokap seperti menimbang-nimbang sampai akhirnya berkata, "Pinjem Mas Iwan aja, pasti ada!" Saya cuma melengos pasrah, pupus sudah harapan saya memiliki kamera SLR cantik itu. Untung nyokap nggak nanya berapa harganya, bakal lebih jauh lagi chance buat ngedapetin itu barang. FYI, Mas Iwan adalah sepupu saya yang wartawan di sebuah surat kabar ternama di Surabaya (dulu, tapi sekarang lebih sering duduk manis di kursi besarnya yang empuk di kantor daripada meliput di lapangan hehe) dan tiap kali ada acara keluarga, dialah yang mengabadikan setiap momen dengan kameranya yang bikin mupeng. Sebelum jamannya kamera digital yang simple and flexible, dia selalu bawa kamera SLR-nya yang sangar itu.

Tidak sampai penghujung acara, nyokap memutuskan untuk pulang karena sudah mengantuk. Tadi, ketika jam menunjukkan pukul 8 malam dan adik saya belum juga tampil, saya dan nyokap sempat bergurau, "Ma, jangan-jangan adik udah ngantuk nih." Nyokap tertawa, "Iya, adikmu itu ngantukan--suka mengantuk." Saya terbahak, "Ntar main angklungnya ngawur, asal digoyang aja!" Entah kenapa 'impian' saya itu tidak pernah jadi kenyataan. FYI, jam tidur adik saya paling lambat adalah setengah 8 malam. Ha! Aneh emang, padahal dia udah kelas 5 di mana saya dulu udah mulai suka begadang demi nonton film-film bule di Indosiar yang cowoknya cute :]

Ketika sedang menunggu taksi pesanan di luar gedung di mana perpisahan dilaksanakan, saya bilang pada adik saya kalo saya mau beli kamera biar bisa motret dia pas perpisahan ntar. Saya juga cerita kalo saya pengennya kamera SLR dan cerita pendapat nyokap tentang keinginan saya itu. Adik saya menimpali, "Papa kan punya kamera gituan." Well, 'kamera gituan' itu nggak pernah saya lihat nongol di rumah, adikku sayang. Setengah nggak percaya saya ngetes apa adik saya beneran tau bahwa 'kamera gituan' itu bokap juga punya. "Yang Fuji itu?", tanya saya. "Hah? Bukan, itu kan punya Mama. Yang gede item itu lho." Ternyata dia nggak bohong, saya ngetes apa yang dia maksud sebenarnya adalah kamera manual punya nyokap yang udah rusak dan nggak tau sekarang di mana. Saya masih nggak percaya juga, buat apa bokap punya kamera SLR? Apa dulu bokap wartawan juga kayak Mas Iwan? Well, nggak harus wartawan sih yang punya SLR *but anyway bokap kan orangnya functionalist sejati!*. Tapi kenapa nggak pernah cerita kalo punya kamera idaman anaknya itu *desperate gila!*

"Sekarang di mana kameranya, Dek? Kok aku nggak pernah liat." tanyaku penasaran. "Nggak tau." jawab adik saya sambil mengangkat bahu. "Paling juga udah nggak ada, udah lama gitu. Pasti udah rusak." lanjut adik saya. Dengan sotoy-nya saya berkeras, "Kalo ngerawatnya bener, kameranya juga pasti masih bagus sampe sekarang. Kalo dijual bisa ngelebihin Sony kluaran terbaru tuh!" HA! Asli sotoy abis!! DSLR kuno aja saya nggak tau pasarannya berapa, apalagi kualitas DSLR kuno yang masih dirawat. Namanya juga ngibulin anak kecil hehe *membela diri!*

Duh, masih ada nggak ya itu kamera DSLR punya bokap. Huhh...alamat on-line shopping sambil ngempet-ngempet nih buat beli kamera idaman. At least, Kodak CoolPix 10 MP kayak punya Usher :D Doain ye temen-temen... Amin.


LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin