Saturday, 9 February 2013

When English is really that scary. And difficult. (part 2)

Langsung aja yah, berikut adalah kelanjutan dari post sebelumnya:

3. FILM

you know you can see a candy eyes like this on 'bule' movies, right? 

       Banyak yang bilang belajar bahasa Inggris melalui film sebaiknya menggunakan film kartun atau animasi. Nggak ada salahnya sih, karena emang film kartun/animasi dialognya sederhana, ngomongnya nggak terlalu cepet dan pengucapannya lumayan jelas. cuma jaman saya dulu animasi yang lagi booming adalah Doraemon, Detective Conan dan Shinchan. Orangtua saya pun bukan tipe orangtua yang menuntut anaknya jago bahasa asing sampai dibela-belain beli VCD/DVD film kartun asing. Slow aja deh :) Toh jaman SD dulu saya juga nggak suka (tapi nggak sampai benci kok) bahasa Inggris karena hapalannya banyak (belum ketemu Biologi, masih lugu). Jadi nggak ngoyo-ngoyo amat buat bisa bahasa Inggris, yang secukupnya aja dari sekolah.
      Saya justru belajar bahasa Inggris melalui film anak-anak (atau semi-remaja yaa?) yang biasanya diputer pas liburan di RCTI, SCTV atau Indosiar (cuma malam Minggu aja dulu kayaknya, jarang pula). Lagian buat yang baru mau niat belajar bahasa Inggris dan harus nonton kartun kan ya males toh. film Film favorit saya jaman dulu (dan sampai sekarang) adalah trilogi Mighty Ducks (yup, bukan Home Alone karena #imho McCulay Culkin itu nggak cakep. Not even cute, sorry). Masih inget banget dulu saya belajar kata "Actually" dan "Absolutely" (yang nggak akan pernah ada di buku pelajaran manapun) dari film itu. 
        Nggak usah muluk dulu nonton tanpa teks terjemahan (subtitle), saya pun awalnya belajar dengan menggunakan teks terjemahan berbahasa Indonesia. Tahap ini untuk memperkaya kosa kata sekaligus listening; dengarkan apa yang diucapkan si aktor (jadi tau pengucapannya meski nggak tau penulisannya, belajar penulisan bisa didapat ketika membaca buku) lalu cocokkan dengan teks yang muncul di bawah layar. Karena saya tergolong pembaca cepat *setdah*, saya baca dulu teks-nya sampai habis baru saya dengarkan si aktor untuk kata-kata yang saya tidak tau versinya dalam bahasa Inggris.
Contoh:
  • SubtitleAku yakin ini akan menjadi pengalaman kedekatan yang nyata. Suatu hari nanti, mungkin salah satu dari kalian akan menuliskannya di dalam penjara.
  • Dialog aktor: I'm sure this will be a real bonding experience. One day, maybe one of you will write a book about it in jail. (IMDB)
Ketika bagian subtitle muncul (yang biasanya lebih cepat sekian detik sebelum sang aktor berbicara), langsung baca skimming atau cepat. Saya nggak tau bahasa Inggris-nya "kedekatan" (saat itu), maka saya akan pasang kuping ketika kata "bonding" diucapkan (tentu saya nggak tau kapan akan diucapkan dan seberapa jelas, kan bule ngomongnya cepet yah). Tapi dari situ secara nggak langsung kosa kata baru akan didapat. Anggaplah kita sama-sama nggak ngerti bahasa Inggris, maka metode "dengarkan lalu cocokkan" adalah cara yang tepat untuk menambah kosakata baru dan mengasah ketajaman telinga (sekaligus membuat kuping familiar dengan kata asing). Setelah terbiasa pake subtitle Indonesia, tingkatkan dengan pake subtitle Inggris lalu tanpa bantuan subtitle sama sekali. Ingat, bertahap yaa jangan drastis!
      Sampai sekarang sih saya masih suka nambah kosakata baru (yang nggak banyak juga, tapi at least ada peningkatan). Udah nggak melalui film-film remaja, tapi lebih ke film series yang bersambung. Karena selain saya suka nontonnya atau ceritanya menarik, saya juga jadi tau kosakata tertentu yang digunakan sehari-hari (ya, termasuk slang). Belum lagi, kalau series yang bertema tertentu (seperti Newsroom yang menceritakan kehidupan seorang pembawa berita di TV dan aktivitasnya di tempat kerja, buat yang suka kisah kriminal bisa ikutin CSI (kota manapun deh) atau kisah kedokteran macam Grey's Anatomy dan sejenisnya) bisa menambah  koleksi kosakata dengan lebih spesifik sesuai ranah film yang ditonton (kriminal, jurnalistik, fashion, kedokteran dll.). 
     Saya pribadi sih suka nonton yang banyak fashion-nya (seperti Jane by Design, Pretty Little Liars, Glee, The Carrie Diaries), ceritanya nggak berbelit-belit (seperti GIRLS, Parenthood), dan lucu (seperti Modern Family, The Big Bang Theory, Suburgatory). Jangan maksain nonton film yang saya suka kalau kamu emang nggak suka yaa. Ingat, kita belajar di sini dengan cara yang fun! ;)
      Melalui film ini juga saya jadi paham bahwa orang bule itu punya ungkapan-ungkapan tertentu yang nggak kita punya, meskipun kalau diartikan masih bisa. Begitu pula sebaliknya. Selain belajar bahasa, mau nggak mau kita juga belajar budaya orang asing :)

4. KURSUS


mungkin kalau bulenya model begini ga bikin jiper duluan yah? hehee

    Sejujurnya saya merasa udah bisa bahasa Inggris meski buta grammar dari jaman SMP, hingga bikin saya males les karena pede banget ngerasa bisa dan nggak ngerasa perlu (padahal kosakata pas-pasan dan conversation aja masih malu nggak ketulungan). Dulu semasa SMP, teman sebangku saya jago banget bahasa Inggris. Nggak cuma secara tertulis, tapi juga ngomongnya cas-cis-cus dan nggak malu. Ternyata dia les di salah satu lembaga kursus ternama di Surabaya yang pengajarnya bule. Sampai saya lulus SMP pun les bahasa Inggris nggak pernah kepikiran di kepala.
     Memasuki SMA pun saya masih jumawa #dirajam dan males banget kalau harus ikutan les bahasa Inggris. Padahal guru bahasa Inggris saya waktu itu orangnya fluent banget ngomong bahasa Inggris yang bikin saya jiper (faktor orang dewasa yang lebih jago akhirnya saya ketahui bikin saya jadi sedikit nggak jumawa lagi). Akhirnya kelas XI saya diajakin temen buat les di lembaga kursus yang pengajarnya bule (saingan tempat kursus temen sebangku SMP saya dulu hehe). Awalnya saya jelas males, tapi temen saya bilang biar ada yang nyontekin pas placement test -___-" Saya ijin bokap dulu karena image les bahasa Inggris dengan pengajar bule buat saya hanya untuk golongan menengah ke atas, which I'm not. Biaya kursusnya dalam satuan "juta" dan ngomong sama bule tentu beda takutnya ketika ngomong sama orang kita sendiri (sejujurnya pertemuan pertama, level pertama di tempat saya les saya langsung dapat bule Amerika yang ngomongnya cuepet banget bikin saya jiper lebih parah daripada guru SMA saya). Ternyata bokap malah mendukung penuh 1000% :D Dalam hati sejujurnya saya masih ragu, tapi iseng buat mengukur kemampuan dan didukung penuh akhirnya saya join juga.


apalagi yang gurunya ganteng begini, saya pasti rajin dateng! ;)

    Singkat cerita, ikutan kursus itu pun harus pilih-pilih. Mungkin alesan saya males ikut les bahasa Inggris (tadinya) adalah saya nggak mau terjebak duduk-mendengarkan tutor ngoceh yang pastinya ngebosenin karena sama kayak di sekolah. Nah, les yang fun menurut saya adalah yang kebalikan dari itu, yang banyak conversation-nya dan sedikit spoiler grammar buat bekal waktu ngobrol. Tutor bule pun ada plus-nya, ngobrol sama bule itu #imho jadi jaminan karena mereka nggak akan ngetawain kita kalau salah, justru mereka bakal sabar dengerin maunya kita ngomong apa meski buat saya pasti ngeselin dan capek #dasargasabaran. Tutor bule bisa jadi tempat latihan listening dan speaking sekaligus karena mereka ngomongnya nggak secepet aktor-aktor di film. Minus-nya, karena ngira si bule nggak akan ngerti kita ngomong apa dalam bahasa Indonesia/bahasa daerah (terutama bule yang baru dateng ke Indonesia), jadi kita suka curi-curi ngomong bahasa non-Inggris yang mana nggak akan membantu perbaikan kualitas bahasa Inggris kita sendiri. Jadi pikir lagi deh, udah bayar mahal-mahal tapi ujung-ujungnya ngomong bahasa Indonesia (atau bahasa daerah) juga di kelas kan percuma. Kelas les bahasa Inggris adalah tempat di mana kamu bisa puas-puasin deh salah ucap, gagap sampai jadi jago ngomong bahasa Inggris. Nah, nanti di luar kelas kamu bisa pamer kebolehanmu ngomong, baca atau dengerin dialog berbahasa Inggris ;) 
   Grammar is boring! Maka dari itu kursus yang baik adalah kursus yang mengajarkan grammar secara nggak sadar. Maksudnya? Sampai sekarang saya nggak pernah hapal rumus atau jenis-jenis grammar yang menurut adek saya yang ambil kelas mantan RSBI ada 16 macam itu. Tempat kursus saya mengajarkan (saya sadari belakangan) waktu penggunaannya, meski nama jenis grammar juga disebut tapi bukan itu kan yang jadi poin penting belajar grammar. Kalau tau nama jenisnya dan hapal rumusnya tapi nggak tau kapan penggunaannya bukannya nanti akan bernasib sama dengan rumus-rumus Fisika? #eaaa Seingat saya, kita cuma belajar rumus di awal dan itu singkat bin cepet banget lalu langsung masuk ke praktek mulai writing, listening sampai speaking (untuk level yang lebih tinggi). Proses ini berlangsung berulang-ulang (repetitif) sampai kita paham waktu penggunaan grammar tersebut.
     Kursus bisa jadi basic saat kita mau belajar dengan media yang lain. Saat nonton film, baca buku atau dengerin lagu kita bisa tau kalau di momen yang seperti apa grammar jenis tertentu banyak digunakan. Dari sini, nanti kita bisa tau kapan penggunaannya saat mau ngomong atau menulis sesuatu dalam bahasa Inggris :) Intinya, buat belajar grammar, saya lebih suka melalui kursus (yang fun yaa tapi) karena kalau belajar sendiri nggak akan bisa-bisa hehee (baca: males). Biarlah orang lain yang ngajarin dan paham seluk-beluk grammar yang penting saya cukup tau waktu penggunaannya aja #nggakmaususah.



I think that's all I can share with you, guys. Kalau ada yang mau menambahkan atau tanya-tanya langsung aja nulis di link doodles (comment) di bawah post ini yah ;)

Saya juga pengen nggak cuma orang dewasa aja yang bisa belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Di kelanjutan post ini nanti, saya juga akan menambahkan tips belajar bahasa Inggris buat anak-anak. Kali aja pembaca saya ada yang udah punya 'ekor' dan pengen anaknya lebih jago daripada bapak-ibunya, bisa belajar bareng deh sama anak-anaknya. Khusus poin no.3, mungkin film-film belajar buat anak-anaknya dibedain ya sama yang buat bapak-ibunya. Masa iya mau nonton James Bond bareng? Jangan yah! :))

When English is really that scary. And difficult. (part 1)

Setinggi apapun tingkat bahasa Inggris-mu, pasti ngerti kan maksudnya judul di atas. Well, di sini saya cuma mau berbagi cara belajar bahasa Inggris, in a FUN way. Kalau nggak fun, garansi uang kembali mungkin kamu bisa nambahin cara yang lebih menyenangkan dari saya? ;)

Okay, let's start!

Ada beberapa cara dan media dalam belajar bahasa Inggris, daftar di bawah ini saya buat berdasarkan pengalaman saya belajar bahasa Inggris sejak SD hingga sekarang sudah punya penghasilan sendiri *cailah*. Semoga bisa mengurangi rasa takut dan parno buat yang selama ini nggak suka atau bahkan sampai benci belajar bahasa Inggris. Sejujurnya, menghapalkan kata baru terkadang bisa berujung membosankan dan akhirnya nggak ada yang nyantol. Untuk itu, nggak usah repot-repot menghapalkan kata baru. Kosakata bahasa Inggris saya selalu bertambah tidak setiap hari, bahkan bisa jadi cuma 2 minggu sekali. Yuk, langsung aja tengok daftar di bawah ini:

1. BUKU


Belajar itu dari hal yang sederhana dan mudah, bacalah buku bahasa Inggris yang ringan dulu.

       Nggak bisa dipungkiri lagi, kali pertama kita mengenal bahasa Inggris pasti melalui buku pelajaran di sekolah. Apalagi sekarang TK aja kosakata bahasa Inggris-nya udah melebihi yang kelas 1 SMP. Melalui buku, saya memang belajar bahasa Inggris, tapi bukan buku pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Semenarik apapun bukunya, saya tetap tidak tertarik.             
       Saya pecinta buku cerita, dulu saya rajin dibawa bokap ke Gramedia setiap akhir pekan (sekarang sih pergi-pergi aja sendiri nggak usah ditemenin bokap segala, bayar juga sendiri lah pastinya!). Buku cerita berbahasa Inggris yang kali pertama saya punya adalah buku cerita tentang baby Daisy (pacarnya Donald Duck), kertasnya tebal seperti karton, halamannya sedikit dan kalimatnya pun singkat-singkat. Karena memang itu buku buat anak-anak usia belajar membaca, sedangkan saat itu saya sudah pertengahan tahun SD (sekitar kelas 3 atau 4, saya juga agak lupa). Alasan saya beli buku itu sebenarnya pun sederhana; gambarnya bagus. #mentalvisual #yeahIjudgethecoverfirst Saya bisa baca buku itu berulang-ulang sampai saya hapal kalimat-kalimat di dalamnya hanya karena saya suka melihat gambarnya. 
        Intinya sih, belilah buku yang memang kamu sukai dan yang pastinya bakal dibaca. Nggak perlu muluk beli The Casual Vacancy edisi bahasa Inggris lah, saya aja males baca versi bahasa Indonesia-nya ;) Mulai dari yang sederhana dulu, kalau langsung ke yang susah ya berat bebanya bray! Setelah buku baby Daisy, saya nggak mendadak gila beli buku-buku bahasa Inggris kok. Pernah sekali nengok Harry Potter #5 punya kakak temen yang beli di Amerika, dan liat tebelnya jadi nggak tertarik baca. Gimana-gimana kosakata saya waktu itu nggak tinggi-tinggi amat dan pasti pusing lah ya baca buku setebel itu dan harus dikit-dikit buka kamus. To be honest, saya buka kamus seperlunya aja. Sisanya saya lebih suka nonton film buat cari arti sebuah kata, sooner or later pasti tau artinya. Kalau urgent banget ya mentok buka kamus atau cari di internet.

2. LAGU


Hayoo tebak ini lagu siapa? ;)

     Jaman saya SD, Westlife dan Backstreet Boys itu bak Super Junior dan Koboi Junior jaman sekarang. Semua anak cewek pasti nggak mau ketinggalan gosip dan merchandise terbaru hasil bonus majalah dan tabloid. Including me ;) Sejujurnya saya nggak hapal lagu-lagu boyband idola saya tersebut, saya cuma nyanyi sedengernya aja. Lirik salah mah sebodo amat, tapi dari situ saya jadi familiar dengan kata-kata tertentu yang sering banget disebutkan di lagu-lagu. Meski nggak tau artinya, membuat telinga familiar dengan kata asing bisa membantu dalam Listening yang sering jadi master momok dalam belajar bahasa Inggris.
       Beranjak SMP, Avril Lavigne dan Linkin Park menjadi teman saya belajar bahasa Inggris, bersama dengan Britney Spears, Christina Aguilera, Vanessa Carlton dan Michele Branch. Believe me or not, Avril Lavigne adalah penyanyi dengan pronunciation alias pengucapan terjelas menurut saya. Meskipun di lirik lagu-lagunya ada beberapa kata yang "tidak untuk di bawah umur", tapi justru dari situ saya jadi tau bahasa gaul atau slang Amerika. Masalah arti, bisa dicek di kamus atau internet ;) 
      Begini cara saya belajar kosa kata baru sekaligus menguji ketajaman telinga; (saya ambil contoh pengalaman saya) booming single Avril berjudul "Complicated" langsung bikin saya nyoba dengerin lagunya, tanpa menengok teks lirik yang tersedia di kertas di dalam kaset (duh, jadul amat yee!). Beberapa bagian saya sudah familiar dengan kata-katanya dan bisa hapal liriknya (sebagian). Biar keren, saya juga pengen hapal keseluruhan dan bisa nyanyi bareng temen-temen. Akhirnya saya tengok teks lirik dan yah, emang ada beberapa bagian yang saya salah dengar tapi sebagian besar udah benar. Karena ngerasa kerjaan itu menantang dan menguji bener/engga-nya saya mendengar, saya jadi ketagihan. Lanjut lagu berikutnya! :D #sampaisealbumkhatam
     Tingkat uji bener/engga dengerin lagu tanpa nengok teks lirik ini udah sampai di tahap lagu-lagu yang dinyanyikan dengan cepat (termasuk lagu rap). Nah, challenge ditingkatkan dengan menulis sendiri lirik lagu (tanpa nengok contekan teks lirik) yang lagi didengerin. Saya lakukan ini pada lagu-lagu kesukaan saya, dulu awal memulai tantangan ini dengan lagu-lagu Rihanna yang meski nggak terlalu jelas pengucapannya at least saya masih familiar dan tempo lagunya pun nggak terlalu cepat. Saya bisa 3-5 kali dengerin lagunya cuma buat nulis 1 lirik lagu; 3 kali nulis acak (sedengernya aja), ke-4 melengkapi kata-kata yang nggak sempet ketulis dan ke-5 mengecek ulang mulai awal lagu sampai akhir.
       Mungkin nggak semua orang senganggur saya sampai iseng banget nulis lirik lagu sendiri :D tapi tantangan itu sebenernya sih buat treatment saya sendiri biar nggak malas listening atau mencermati kata-kata dalam bahasa Inggris dan nggak bergantung melulu pada teks lagu. Listening itu perkara familiar atau tidak, dengerin yang berbahasa Inggris aja udah males gimana mau koleksi kata bahasa Inggris bertambah? Gimana mau sukses di ujian listening? #prang

Karena takut kepanjangan dan bikin pembaca tidur di tengah-tengah, tulisan ini saya belah manggis menjadi dua bagian. Bagian ke-2 bisa dibaca di sini.

Wednesday, 2 January 2013

I don't believe in new year's resolution

As you read above, on the title, I guess you could understand why I don't embrace new year as most people do. For me, new year's resolution is a freakin myth that people made up so we can start an impossible list we wanna do before a new year coming and leave it the other day after the first day of new year. Yeah, it's that bitter. 

And for me, start a resolution can be anytime, it doesn't have to be on New Year's Eve. Anytime, like when you suddenly have an idea about developing driving skill right after lunch, then start make a plan right after to achieve it. Don't wait until a new year coming, it's too late, you're getting too old by then or have another goal already.

I have a dreams list, not a new year's resolution. I add some if I want to, like I said above, anytime. And I don't have pressures to achieve it in a certain period, well, unless you're that kinda person who is really really strict about time and deadline then it's another story. I let it there alone, check it when I want to, give a tick sign when it's accomplished or done. That's it, that's all. Maybe it seems all the same but it's not, all you gonna do is just let your dreams arouse as it should be. Don't give any pressure on it or it would never happen. Let God do the rest :)

Anyway, since it's a new year, let's celebrate it with something fun. I discover some excellent new singers on Youtube. Well, maybe they're not new on Youtube, but they're new in my Youtubers' list ;) So, check them out! 

Alex G
She might not new in my list since she works with Tyler Ward. She has that amazing voice, like a girl next door :)


Jess Moskaluke
So, I 'found' her accidentally on the suggestion tab on Youtube, it was Red by Taylor Swift cover. I was searching for ones and found her video. Her voice is that powerful high range voice that I really really wanna have someday. I wish she cover more songs though :)


Sara Niemietz
I saw her performance on Jake Coco's collaboration project of the song "Some Nights" (fun. cover). Her voice there was, if I may say, crunchy and makes me wanna listen to some more :D Almost sounds like Joss Stone but lighter.

Those whom I've mentioned before on the previous list are still producing more cover videos, but some are kinda slow of making ones. Christina Grimmie for instance, since she was doing tour and start performing on TV, her cover videos increased in a slow period. If it's new, it's not a hit song like she used to sing before. This phenomena happened as well to Mike Tompkins and Gamaliel & Audrey. More Youtube singers growing on Youtube (like those who I just discovered), if they left the point where they were at the first place, I think they will lose their fans. Well, that's just my silly opinion ;)

Speaking of which, I guess I only can give you those three, I will not stop discovering some more and I will share it with you some day.

Here's a bonus. A super little girl with big voice, Connie Talbot, singing Give Your Heart A Break by Demi Lovato. A little rough and couldn't catch up with the lyric in some parts but she is awesome. Enjoy! :)




Happy new year, everybody! :D



P.S.: well, I do believe in this kinda resolution ;)

Friday, 28 December 2012

A super cheap getaway in an oh-so-pricey-world!

Perjalanan ini direncanakan sekitar seminggu sebelumnya, waktu itu penentuan hari pun masih di awang-awang. Satu hal yang pasti, kami akan berlibur ke pantai liburan ini, dengan bujet yang sangat rendah. Mengingat saya harus menabung buat beli 'sesuatu', jadi liburan pun harus pelit begini. Meh :/

Setelah tanya sana-sini, memastikan rute, tiket masuk pantai dan biaya parkir, serta mencari hari baik fixed sudah. Kami berangkat ke pantai yang letaknya masih satu kota di tempat saya dilahirkan, Gresik. Nama pantainya adalah Pantai Delegan, lokasinya ada di Desa Delegan, Kecamatan Panceng. Kalau dari pusat kota Gresik sih sekitar 60 menit perjalanan (dari rumah saya sekitar 45 menit), mau dari Surabaya juga bisa lewat tol Manyar. Dari Tuban malah lebih cepet lagi, mungkin sekitar 30 menit perjalanan kalo dari daerah Paciran :)

Wait a sec, dari tadi bilang 'kami', emang yang berangkat siapa aja? Well, I went there with my boyfriend,  my little brother and Bo :D Ya, kami berangkat berempat, karena Bo harus di-grooming gara-gara kabur beberapa hari lalu dan kehujanan kayak kucing kecemplung got :| 

Kami berangkat pukul 10.30 dan nyampe sana sekitar 11.30 gitu deh. Diiringi awan mendung dan sempet kecipratan hujan rintik-rintik dalam perjalanan, kami optimis di pantai akan terang-terang aja. Well, optimisme mungkin perlu sedikit realistis karena ternyata di pantai pun langit masih kelabu. Suasana pantai yang biasanya terang benderah, cerah ceria jadi gloomy galau nggak semarak kayak biasanya. Belum lagi hari itu bersamaan dengan hari libur anak sekolah se-Indonesia, jadilah pantai (nyaris) kayak cendol saking banyaknya yang nyebur ke laut. Sekitar 5 menit nyampe dan duduk menikmati angin pantai, tiba-tiba ada yang netes dari atas. Awalnya sekali-dua kali, eh kok lama-lama makin banyak dan agak deras. Masa iya saya kecipratan air laut dari anak-anak yang main air? Apparently it was raining. Kali pertama nih ke pantai kehujanan, nggak asik deh :|


Click1130 copy

Akhirnya lari-larian deh nyari tempat teduh di bawah pohon, iyee tau hari hujan nggak disaranin berteduh di bawah pohon. Habisnya tempat tunggu-nya udah 'di-booked' sama para keluarga yang piknik dan berasa di rumah sendiri dengan gelar tiker dan jejer-jejerin makanan.

Untung hujannya nggak lama, begitu terang, langsung balik lagi deh ke pinggir pantai. Kali ini pengen nyobain masuk ke airnya. Honestly, pantai Delegan nggak seindah bayangan saya. Bitter to say but it's not a virgin beach I've been imagined. Pengelolaan pantai memang sudah diatur oleh Pemkab jadi nggak ada tuh yang namanya preman malakin di dalem lokasi wisata, karcis parkir (mobil Rp 6000,-) dan karcis pengunjung (dewasa Rp 6000,-) pun terpisah kayak masuk objek wisata pada umumnya. Di sekitar pantai pun banyak lapak-lapak penjual souvenir dan makanan layaknya objek wisata kondang. Satu hal yang sesuai sama bayangan saya ya pasirnya yang berwarna putih, that's it that's all. Sisanya, udah kayak main ke Kenjeran Surabaya aja. Airnya agak keruh (mungkin dampak pasir di bawahnya) dan nggak berwarna turqoise seperti yang saya bayangkan, warna itu justru kelihatan di kejauhan. Jauh setelah tiang pembatas area aman untuk berenang. 

Suasana pantai selain hiruk pikuk pengunjung yang bermain air, juga riuh karena pengelola depot makan lokal memutar lagu dangdut karaoke kenceng banget pake speaker yang buat kondangan itu. Bener-bener nggak bisa duduk santai menikmati pantai bak private beach. Mana di sudut-sudut tertentu banyak muda-mudi yang lagi mojok sama pacarnya. Duh, di sini banyak anak-anak woy! -___-" 

Waktu masukin kaki ke air pun saya nggak bisa leluasa jalan ke sana ke mari tanpa harus terantuk batu kecil-kecil di dalamnya, belum lagi pecahan karang-karang dan serpihan cangkang kerang yang berserakan di tepi pantai. Duh, saya trauma nih nginjek yang begituan di pantai sejak kejadian kaki bolong dulu itu. Pacar pun ngingetin buat nggak usah lepas sandal meski sejujurnya lebih enak nyeker di medan terjal kayak gini. Mestinya, yang begitu dibersihin karena bahaya banget kalau sampe ada yang nusuk ke kulit kaki, bisa infeksi dan terpaksa harus dibedah deh kayak saya *bukan curhat*. Toh, ada biaya retribusi, kan termasuk biaya kebersihan pantai, bukan?

Nyemplung bentar udah pengen naik lagi ke darat, ombak hari itu lagi tinggi-tingginya, volume air pun jelas keliatan lebih dari semestinya. Penjaga pantai (bukan... bukan kayak yang di Baywatch) berkali-kali mengingatkan pengunjung yang berenang pake pengeras suara buat stay di area yang udah ada batasannya, nggak lebih dari itu. Karena air laut sedang pasang, bahkan sekitar sejam kemudian peringatan itu ditambah; pengunjung diminta untuk berenang di area dengan tiang batasan paling dekat dengan daratan (sekitar 50 meter dari bibir pantai).

Visiting beach that day was a mistake, langit mendung, air pasang, pas liburan anak sekolah = nggak matched. Satu-satunya yang bisa dinikmatin adalah duduk-duduk santai di bangku panjang dari bambu sambil minum es kelapa muda langsung dari buahnya. Sekitar 20 menit saya, pacar dan adek saya duduk di bangku itu ngobrol ngalor-ngidul, ngomentari orang-orang lewat dan suasana pantai. Quite relaxing, to be honest. Just me and two of my favorite men in the world chit-chatting :D


Click1131 copy

Anyway, nggak lama emang saya stay di pantai karena ya itu tadi, crowded beach is just not my kinda beach. Kami pulang dan nyari makan siang mengingat perut mulai meraung-raung minta diisi.
Click1133 copy
pemandangan sepanjang perjalanan pulang, iyaa itu ada bayangan dalem mobil -__-" 

Sepanjang perjalanan mikirin enaknya makan apa yang unik atau belum dicobain sekaligus kenyang #banyakmaunya. Setelah ambil ATM dulu pun masih bingung mau makan apa, akhirnya diputuskan nyobain Otto Bento yang ada di Mal Gresik (iya, 'L'-nya cuma satu, nggak percaya? ke sana aja!). Menunya sih mirip-mirip Hoka-hoka Bento, dari segi rasa... lumayan lah. Bisa dibilang KW1-nya HokBen deh, secara HokBen belum ada di Gresik. 


Click1134 copy
paket irrito 2 :D

Saya yang penggemar berat egg chicken roll HokBen langsung girang begitu liat menu itu di daftar yang ada di Otto Bento, nggak pake mikir langsung mesen deh. Dari segi harga juga nggak jauh beda, harga di Otto Bento udah include tax jadi nggak akan ngerasa 'ditipu' harga yang terpasang di gambar. Kenyang, kenyang deh makan di sana. Satu yang saya sesali, saya lupa nanya bisa delivery ke rumah nggak yaa :(

Overall, I had some fun, so does my brother and my boyfie. Well, I hope Bo had his own little fun too :D It was a super fun journey with both of them, even my little brother caught some of his school friends visiting the same beach as he did.


Kami berangkat berempat, pulang pun berempat. Setelah jemput Bo di pet shop, we're heading our home :)



P.S.: sorry for the bad captures, my mom borrowed Lou so I used my cellphone camera instead. Besides, there weren't so many objects to put my lens on. So, you know ;)

Wednesday, 26 December 2012

#buydesignpaybook 2012



#buydesignpaybook 2012

TERM & CONDITION:
1. This is a single promo, cannot be included with any other packages.
2. If you want to order both promo, you still have to pay based on the 'currency' that mentioned above.
3. Books you have to pay me have to be NEW and physical book; NO secondhand or ebook.
4. If you have further questions (or anything that I haven't mentioned here), you can simply contact me via:


WHAT ARE YOU WAITING FOR? New year, new style in your 'home' ;)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin