Saturday, 20 September 2014

The Aftermath

Sudah lama ya?

Terakhir saya tulis post di sini awal tahun ini dan belum ada post baru lagi sejak itu. Well, sebenernya ada sih, cuma belum kelar ditulis jadi numpuk-numpuk di list draft hehehe Saya putuskan buat menulis lagi karena kali ini temanya nggak perlu prepare yang gimana-gimana (seperti draft post yang udah saya tulis tapi belum publish juga itu LOL!), tinggal keluarin aja semua yang ada di dalam kepala dan tulis di sini :D

Anyway, saya cuma mau cerita soal sedikit bagian hidup saya belakangan ini. Ini kisah yang terasa surreal karena saya ngerasain keajaiban yang diberikan Allah.

Setelah berbulan-bulan menunda, bergumul dengan pikiran, depresi yang semakin menumpuk dan rasa nggak nyaman yang terus menghantui, akhirnya satu tugas hidup saya berhasil saya lalui; lulus sebagai mahasiswa.


Ya, prosesnya lama sekali memang, kebanyakan adalah proses di mana saya bertarung melawan diri saya sendiri. Melawan rasa malas, rasa takut, rasa ragu dan rasa marah yang terus bergemuruh di dalam hati dan kepala saya. Proses yang lama untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan: Kenapa?

Sidang skripsi udah saya jalani sekitar 2 tahun lalu, sidang yang nggak mudah dan diikuti sidang ulang yang nggak kalah susahnya. Sejak itu mental saya mungkin down, saya merasa bodoh sekali karena harus mengulang sidang sampai lebih dari sekali. Saya merasa memalukan karena udah ngecewain orangtua dan keluarga saya. Saya putuskan buat 'rehat' sejenak dan memulihkan mental. Berharap pula paranoid saya akan kegagalan berulang bisa sirna ketika saya siap kembali suatu saat nanti.

Dalam proses so-called memulihkan mental, saya sibukkan diri dengan mencoba berbagai macam kesempatan dan pengalaman. Saya nggak mau juga lama-lama berduka dan terus-menerus bermuram durja. I need an escape from all of these shits.

Have you ever hit the lowest point of your life? I have. Saya merasa berada pada titik terendah hidup saya pada saat itu, di mana selain udah ngecewain banyak orang, saya juga merasa nggak berguna dan bodoh.

Saya nggak merasa putus asa, tidak sampai nyokap bilang bahwa saya nggak boleh putus asa beberapa bulan sebelum saya maju sidang lagi. Sejak itu saya baru sadar, mungkin selama ini saya udah menyerah, putus asa dan nggak mau lagi menoleh ke belakang    ke kenangan pahit yang menyesakkan hati itu. Memikirkannya aja udah membuat saya lelah luar biasa, setelah saya browsing sana-sini, saya baru tahu kalau ternyata saya mengalami gejala depresi. Ritme tidur yang nggak teratur, rambut rontok di luar batas normal, berat badan turun drastis dan kelelahan yang terus-menerus adalah beberapa simptomnya.

Pada titik ini, saya baru sadar akan kekuatan pikiran: it will drive you to the point you've never expected before. Bukannya lalu saya bernyaman-nyaman dengan kondisi depressed yang mengherankan banyak orang ini, saya selalu berusaha supaya nggak kelihatan susah dengan bersikap biasa aja #ProudVirgo. Kebanyakan, pekerjaan lah yang membuat saya lupa akan permasalahan yang saya hadapi. Call me workaholic, but my jobs are my precious. It is my truly escape.

Dengan bekerja, saya merasa masih berguna, masih bisa menyalurkan apa yang saya bisa. Saya mungkin bodoh, tapi setidaknya saya punya sedikit ilmu yang bisa saya bagikan buat orang banyak. That's my spirit to survive until now, at least.

Hingga beberapa bulan lalu saya putuskan buat pasrah. Seperti ditunjukkan, selama bulan puasa saya suka nonton kisah Wali 9 di Transtv ;) Di situ para Wali selalu menekankan, rasa takut itu hanya ditujukan pada Allah semata, manusia tidak perlu ditakuti. Karena hanya Dia yang Maha Kuasa, kita hanya perlu meminta perlindungan-Nya dan pertolongan-Nya.

Setelah berbulan-bulan gelisah dan ketakutan, saya akhirnya menyerahkan semuanya pada Allah SWT. Saya pasrahkan rasa takut dan keraguan saya pada-Nya untuk diganti dengan keberanian dan kekuatan yang nggak mudah kabur.

Mungkin dulu saya terlalu ambisius, keras kepala, idealis dan banyak maunya. Hingga saya tiba pada titik di mana saya lelah berkeras hati, lelah menyimpan beban kemarahan dan menyerahkan segalanya pada Sang Pencipta.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Kurang lebih 2 tahun saya mencari cara bagaimana menyelesaikan kuliah saya dan mencari jawaban atas pertanyaan "Kenapa?" yang saya tujukan pada-Nya. Tapi Allah menunjukkan jawabannya pada saya dalam kurun waktu kurang dari sebulan, bahkan kalau benar-benar dikalkulasi bisa kurang dari itu. Singkat kan?

Bermula dari telepon dosen wali, saya siapkan naskah skripsi saya yang udah direvisi (jauh hari sebelumnya) dan mengumpulkannya pada tanggal yang ditentukan (sekitar 2 minggu setelahnya). Saya dapat tanggal sidang hari terakhir minggu sidang periode terakhir semester lalu, sekitar 2 minggu sejak tanggal pengumpulan. Entah kenapa saya merasa lebih tenang karena dapat hari terakhir (meski dapet jam pertama jam 8 pagi! -_-"), karena saya jadi bisa mempersiapkan mental dan materi buat sidang sepenuhnya. Meski nggak 100% siap juga pada hari H-nya ;)

Dengan ditemani nyokap yang insist ingin mengantar (juga ada sepupu, keponakan dan adik laki-laki saya. Udah kayak rombongan Haji aja! :D), saya udah nggak banyak komentar lagi. Karena selama ini emang nyokap yang paling bawel ngingetin saya buat nyelesein dan terus-terusan ngomelin buat banyak-banyak beribadah dan berdoa. Jadi, saya pikir, apa salahnya kasih kesempatan beliau terakhir kalinya nemenin ke kampus. Secara kemarin-kemarin pas lagi bimbingan saya nolak ditemenin, tengsin cuy kayak anak TK dianter nyokapnya bahahaha!

Graduation 01_Treasure Bag
Akhirnya, meski saya ngantuk abis dan kepala rasanya berat akibat kurang tidur (maklum bulan puasa), saya dinyatakan lulus, dengan revisi tentunya ;) Beban belum berakhir, saya masih harus memperbaiki bagian-bagian yang salah karena kalau nggak gitu salah satu dosen penguji saya nggak mau tanda tangan -_-*
"Semangat ya, Dek. Bentar lagi selesai."
Pesan singkat inilah yang memberi saya semangat nyelesein revisi. Pesan singkat yang saya terima melalui chat di WhatsApp dari pacar :')

Sekali lagi saya pasrahkan semuanya pada-Nya and it went way smoother than I was expected. Keribetan malah saya temui di pelengkapan berkas kelulusan, macam tes TOEFL, bayar-bayar dan tetek bengeknya gitu lah. 

But then, I was realized that God has His own way to make me remembers my faculty before I really left. Ya, saya bolak-balik ke kampus buat ngurus berkas-berkas kelulusan, bahkan sampai ijin nggak masuk kerja segala. Tadinya saya nggak mau ijin karena lumayan banget kan saya bisa dapet tambahan buat Lebaran #nggakmaurugi. Bahkan selesai sidang aja, sorenya saya masih masuk kerja.
But, I was always told, you can't always get what you want. 
Nggak boleh serakah, salah satu mesti mengalah. Akhirnya saya putuskan ijin nggak masuk kantor beberapa hari dan mondar-mandir di kampus ngurus ini-itu.

Dear Miss Ratih, if somehow you read this post, this is the reason why I was absent several days couple months ago :)

Allah adalah sutradara kehidupan yang sebaik-baiknya. Dalam kurun 2 tahun, saya dikasih kesempatan mewujudkan mimpi-mimpi saya dan mencoba berbagai hal baru. Dalam kurun waktu yang cukup lama itu Allah banyak ngasih saya pelajaran dalam hal bersyukur dan menjaga kepala tetap tertunduk ke bawah melawan jumawa.

Allah udah kasih saya satu kali kegagalan di bidang yang nggak pernah saya (bahkan siapapun di keluarga saya) bayangkan: akademik. Well, to be honest, it was pretty hurt. Ya, selama ini saya nggak pernah bikin susah orangtua gara-gara rapor merah atau nilai ujian akhir yang bikin susah cari sekolah. Selama ini, saya banyak menikmati nyamannya bersekolah; belajar di sekolah-sekolah favorit dan dengan proses pencapaian skor ujian yang cukup aman buat sekedar naik kelas atau masuk ke sekolah yang diinginkan. Agak berbeda dengan kedua adik saya yang... bisa dibilang sempat bikin cemas dan perlu mengeluarkan biaya yang agak besar buat belajar di sekolah yang reputable.

Well, untuk sekali dalam seumur hidup (dan semoga menjadi yang terakhir. Amin!), saya bikin susah orangtua gara-gara skripsi yang sempat tersendat. Anak mana sih yang mau ngerepotin orangtua? Kalau bisa mah semua jalan lancar-lancar aja, ya toh? Tapi Allah berkehendak lain, saya perlu 'sekolah nggak enak' dulu biar menuai ilmu yang sebenarnya: bahwa saya pun bisa gagal. Bahwa saya pun nggak diistimewakan dibanding kedua adik saya, hanya beda momen saja.


I've heard this phrase somewhere before: Success is how high you bounce when you hit bottom. I hope that's what gonna happen to me. I've hit the bottom once, it's time for me to bounce back now.


Have a good day, everyone! :)




No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share