Friday, 12 April 2013

Don't Judge the Cake by its Price

Pernah penasaran kenapa harga kue tertentu begitu mahal padahal teksturnya terasa familiar dan komentar tentang rasa yang bisa terucap cuma "Enaaaakkk banget!"?

Let me tell you a story...


Photo: sweettampa

Mungkin beberapa waktu belakangan booming Macarons, yang warna serta varian rasanya beragam--dan konon populer di kalangan sosialita di Jakarta. Well, di Surabaya sih udah bisa dibeli di toko-toko kue ternama atau di kafe-kafe tertentu di mall. Tapi itu tidak menjadikan kudapan yang satu ini terbatas pada kalangan sosialita di Surabaya, siapa saja bisa menjangkaunya. Cuma memang, ada harga ada rasa. Pun ukurannya: semakin besar ukuran diameternya, semakin mahal harganya.


http://1.bp.blogspot.com/-3TWWNhr1vXQ/T78aFLUHs6I/AAAAAAAABlg/JXUCXGoFl_g/s1600/cheesecake.jpg"/>

Cheesecake mungkin masih terdengar asing di telinga dan tidak sefamiliar cupcake atau jenis-jenis cake lainnya yang lebih merakyat. Harganya per potong pun tidak bisa dibilang murah, sepotong strawberry cheesecake di Breadtalk berkisar Rp 12.000 (kalau saya tidak salah ingat). Bandingkan dengan brownies yang lebih populer dan bisa mendapatkan berpotong-potong brownies dengan uang sebesar Rp 12.000. Saya belum pernah menemukan sendiri cheesecake di toko kue yang dijual per loyang, bukan per potong. Entah berapa harganya saya nggak berani bayangin.


Photo: tumblr

Molten Lava Cake atau bisa disingkat dengan Lava Cake, kue apa lagi itu? Semakin asing saja namanya. Ya, di Surabaya sendiri saya belum pernah tau tapi mungkin restauran fine dining atau hotel-hotel berbintang menghidangkan dessert yang satu ini dalam menunya. Saya kurang tau kisaran harganya, tapi sekali saji, (umumnya) besarnya tidak lebih dari biskuit Oreo. Yah, sedikit lebih besar lah sekian sentimeter. The point is, kue ini tidak pasaran dan tidak bisa sembarangan dibeli di toko kue atau di kafe. Di Jakarta, setau saya sih kafe yang jual cuma Ninotchka punya Sonia Eryka. Kalau di restauran atau di hotel jangan tanya ya, saya sih nggak meragukan lagi. Kue ini sangat eksklusif, baik dari segi pemasaran maupun saat dihidangkan di hadapan pembeli.



Mungkin suatu saat kalian akan mencicipi kue-kue yang saya sebutkan di atas (atau kue lainnya yang harganya sama mencekiknya) dan berujar, "Ah begini aja kenapa mahal banget!". Because I've been there dan cuma kesan "Enak banget!" yang tersisa di lidah. Well, belakangan saya belajar mencicipi sebenar-benarnya, nggak asal hlep-kunyah-telan aja. Tapi dirasakan teksturnya dan mencoba mencicip rasa yang ditawarkan si kue.

Sampai tibalah saya di fase mengenal pembuatan kuenya itu sendiri. Di sinilah inti dari tulisan kali ini, bahwasanya memang mudah menghakimi sesuatu dari apa yang tampak indera tanpa mengetahui bagaimana proses di baliknya. Well, emang sih pembeli nggak mau tau ya gimana prosesnya pokoknya dia suka rasanya ya dia bayar. But still, I think when I get to know the process, I'm getting to appreciate the cake. Why is it exclusive, or for most of us-why is it damn expensive?

Dulu pernah iseng nyobain resep Macarons dari internet karena tergiur gambarnya yang cantik. Beberapa bahan saya ganti dan hasilnya keras banget nggak seperti yang diharapkan padahal keliatannya gampang. Ternyata oh ternyata, apa yang ada di resep jauh berbeda dengan pembuatan Macarons yang sebenarnya. Salah satu sahabat saya, si Cece, yang ambil kuliah Culinary pun lalu menjelaskan 'kesalahan' saya. Bahwa mengocok adonan Macarons ada tekniknya dan bahwa kecepatan mixer sangat berpengaruh, dan yang terpenting bahan-bahan nggak bisa diganti seenaknya. Well, that's my bad :D

Pun waktu saya bikin Chocochip Cookies (untuk yang ini, kafe-kafe atau bakery tertentu menawarkan cookies jenis ini yang rasanya tiada tara. Itulah kenapa saya masukkan ke dalam kategori ini) dan Molten Lava Cake. Mengikuti resep saja belum tentu sukses, harus ada trial and error. Terutama resep-resep dari luar negeri yang entah kenapa saya curiga tepung aja kayaknya beda rasa #pembelaan Soal takaran pun bisa menjadi perkara besar, karena resep dari luar negeri menggunakan satuan "cup" dan bukan "gram" atau "kilogram" maka ketepatan jumlah bahan bisa berpengaruh pada hasilnya ketika kue matang.

Kalau kata nyokap, "Bikin kue itu nggak seperti memasak. Nggak bisa asal campur atau asal kira-kira-seperti menaburkan garam di masakan, semua harus diperhitungkan karena bahan cair dan bahan kering harus seimbang.". Well, ini juga yang jadi bahan analisis nyokap atau bude saya (yang emang jago bikin kue dan cetakannya sering saya pinjem tapi nggak dibalikin) ketika saya bikin kue gagal. Tepungnya seberapa, gulanya seberapa, mentega seberapa, semuanya ditanyain sampai saya ngaduk adonan atau memanggang berapa lama pun ikut diungkit.

Dan dari sekian resep yang sudah saya coba, saya makin mengerti kenapa beberapa kue tertentu mahal harganya. Bukan, bukan karena bahan dan alat yang digunakan memang khusus, top quality and it costs more. Tapi karena yang dijual sebenarnya bukan kuenya, melainkan skill si pembuat. Bayangin aja, kalau si pembuat Macarons nggak jago dan salah atur kecepatan mixer (or simply 'sotoy' like me), pasti hasilnya Macarons bantet alias gagal.

Begitu juga dengan proses pembuatan cheesecake, lava cake hingga chocochip cookies terenak di dunia. Prosesnya nggak semudah yang ditulis di resep-resep (well, or just like I thought it would be). Coba deh iseng browse resep cheesecake berikut tips pembuatannya, nggak usah muluk pake yang Bahasa Inggris yang lokal aja dan bakal jiper duluan deh sebelum belanja bahan-bahannya saking ribetnya proses yang harus dilalui.

Back to basic, semua kembali pada ide. Manusia penciptanya, manusia pula yang mengendalikannya. Kue hanyalah hasil nyata sebuah ide, balik lagi deh semua ke proses. Siapa yang melalui prosesnya? Ya manusia. Karena manusia yang punya skill, dan bahan serta alat hanya fasilitator. Balik lagi, manusia yang mengendalikan kemampuannya. #kokjadifilsafat

Anyway, it's just a random post after I've read a long explanation of how to bake cheesecake and failed on baking Lava Cake (it turns out to be muffin instead) recently. I just wanna share what I thought and I hope you won't judge a cake by its price (or the taste) only anymore, but think about the skill of the baker also. It's priceless :)

Have a good day! :)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share