Tuesday, 31 May 2011

Ketika yang punya Kuro sakit

Jadi ceritanya seminggu lalu itu saya tepar tak berdaya gara-gara kena tifus.

Kenanya tepat sehari setelah pulang dari Lombang, awalnya kirain cuma kumat biasa. Pusing-pusing gitu, udah minum si permen merah tapi pusingnya nggak ilang-ilang juga. Bahkan sampai keesokan harinya, keesokan harinya dan besoknya lagi.

Dulu udah pernah sih kena, tapi cuma sebatas gejala yang untungnya langsung sembuh. Kali ini saya bener-bener nggak nyangka bakal kena lagi, secara gejala yang saya alami beda banget sama yang dulu.

Karena pusing, mau muntah dan lemes yang nggak kunjung sembuh, pergilah saya ke dokter dianter bokap. Sebelumnya saya sempet googling dan nemuin gejala-gejala serupa yang ternyata dialami oleh penyakit yang berbeda-beda. Mulai dari maag ringan, kanker otak sampai hamil. Nah lho!

Daripada parno sendiri, mendingan langsung ke dukunnya, eh maksudnya ke dokternya aja deh.

Waktu diperiksa, dokternya bilang ada yang nggak beres sama lambung saya. Waktu saya tanya itu maag atau bukan, dokternya bilang nggak bisa mastiin langsung sebelum cek darah dulu. Dia bilang takutnya saya kena thypoos. Oh man.

Cek darah deh saya ke laboratorium yang ada di gedung yang sama dengan praktik dokternya. Kirain bakal disobek kecil gitu ujung jari saya, ternyata saya disuntik booookkk!!! Yah meskipun nggak sakit-sakit banget tapi saya anti banget sama yang namanya jarum suntik dan saya nggak ngira bakal disuntik buat cek darah. Untung petugas labnya baik banget, nenangin saya sampai bilang bismillah dulu (baca: khusyuk banget kayak mau ngaji) sebelum nusukin itu jarum ke kulit saya. Masukinnya juga ternyata nggak dalem-dalem banget kayak suntik hepatitis atau apalah itu suntik jaman SD dulu, bentar banget nggak kayak lagi diambil darahnya. Mungkin proses waktu jarumnya nusuk itu yang bikin sakit. Anyway, kelar cek darah, saya disuruh nunggu buat mengetahui hasilnya ntar.

Nggak lama kemudian, hasilnya keluar. Saya bawa deh itu kertas hasil cek darah ke dokter yang tadi meriksa saya. Kali ini dokternya minta bokap buat ikutan masuk buat denger vonis penyakit saya (serem amat ya kedengerannya -____-"). Daaaaaannn ternyata saya kena tifus sodara-sodara!

And you know what, nggak cuma vonisnya aja yang bikin spot jantung. Tapi juga pantangan-pantangan yang dikasih sama dokternya.

Dokter: Sementara jauhi serat dulu ya, sayur-sayuran atau buah gitu nggak boleh.
Saya: (ngangguk)
Dokter: Makannya yang agak lembek dulu ya, nasinya ditim aja.
Saya: Iyaa (nasi tim itu sesodara sama nasi goreng bukan? *mikir)
Dokter: Santan juga nggak boleh (sambil nulis resep obat)
Saya: (ngangguk) (mulai mikir makan apa yang nggak pake santen)
Dokter: Goreng-gorengan juga jangan dulu ya.
Saya: Hmm...
Dokter: Susu juga jangan dulu ya.
Saya: *nyoss
Bokap: Oh susu juga nggak boleh, Dok?
Dokter: Iya, takutnya lambungnya nggak kuat.
Bokap: Ohh...
Dokter: Jangan jajan dulu ya.
Saya: *mampus! (bye-bye Takoyaki, Gei dan Jai, pentol Ubaya hikss I'm gonna miss youuuu)

Saya nggak begitu dengerin waktu si dokter jelasin obat-obat yang harus diminum ke bokap. Satu-satunya yang ada di kepala saya waktu itu adalah "Terus gue makan apa coba????"

Sebelum saya mutusin buat lari ke hutan dan tinggal di gua aja, saya tanya lagi ke dokternya.

Saya: Kalau roti boleh, Dok?
Dokter: Nggak apa-apa.
Saya: (ngelap keringet di dahi)

Opsi pertama yang melintas di kepala adalah bubur. But, please, bubur adalah salah satu makanan yang paling saya hindarin. Saya nggak doyan bubur, ngeliat penampakannya aja udah ogah.

Soal nasi yang agak lembek, bukannya saya pengen dikhususin di rumah, tapi itu bisa diakalin. Saya bisa ngunyah nasinya lebih lama, jadi lebih halus kan, nggak masalah. Soal lauknya nih yang bikin orang serumah bingung harus ngasih makan saya apa. Satu-satunya makanan yang 'halal' saya telen cuma roti, tapi roti tanpa susu itu jayus banget. Nggak asik dan bikin bosen, rasanya kayak ada yang kurang. Apalagi saya addict banget sama susu coklat dingin, kalo di rumah sehari minimal saya pasti bikin segelas tumblr. Kadang bisa lebih. Dan dokter itu berani-beraninya ngelarang saya minum susu coklat enak yang nggak ada duanya itu. Itu rasanya kesiksa banget, beneran.

Mau makan itu, salah. Mau minum ini, salah. Jalan ke sana ketemu roti, belok dikit ada roti lagi. Arrrggghhh! Sori roti, kamu emang makanan pokok saya tapi tanpa sahabatmu si susu coklat dingin, I can't eat you that much :[

Penderitaan belum berakhir. Selain soal topik pantangan makanan, saya juga mendapat keharusan buat istirahat total alias bedrest.

Dokter: Banyak istirahat. Jangan ngelakuin pekerjaan yang berat-berat dulu ya.
Saya: (sebenernya mau nanya, "ngerjain skripsi termasuk nggak, Dok?" tapi di sebelah ada bokap, takut dijewer)
Dokter: Sebenernya kalau begini, biasanya saya sarankan buat opname, Pak. (noleh ke saya) Tapi buat kamu, saya coba dulu bedrest aja. Kamu ngerasa sakit banget nggak?
Saya: Maksudnya 'sakit banget', Dok?
Dokter: Ya, masih bisa nahan nggak?

Karena opname itu bakal membunuh saya karena satu penyakit yang lebih parah bernama kebosanan, maka saya bilang ke dokternya,

Saya: Bisa kok, Dok.

And yes, meskipun beberapa kali agak kesusahan bangun dari kasur (karena kepala berputar-putar dan bawaannya lemes banget), but I survive, man! Berkat bantuan perawat pribadi saya yang super super baiknya, si adek saya tercinta :D Dia nggak cuma nolongin saya kalau saya butuh sesuatu tapi juga jadi badut dadakan (well, actually that's his natural habit) yang ngehibur saya biar nggak lesu terus. Yah, meski waktu dia lagi di sekolah saya bener-bener mati gaya, bosen nggak ketulungan sampai yang jadi korban ada nilai pulsa yang saya habisin selama nggak sampai seminggu itu membengkak total. Gara-garanya saya twitter-an, cek facebook sampai googling dan download game buat membunuh kebosanan saya.

For your info, di rumah saya banyaknya sendirian, kebanyakan waktu saya dihabiskan di kasur and I tell you, that's freakin booooorrrriiiinggg! Guling ke kanan, mentok tembok. Guling ke kiri, ngeliatin lemari. Bosen kan?

Nonton TV? Oh, saya bukan penggemar setia televisi lokal kita. Jadi daripada saya malah muntah, mending saya stay di kamar aja tiduran.

Ketika yang punya Kuro sakit

Sesungguhnya sakit ini emang teguran dari Yang di Atas. Saya diingetin buat jaga kesehatan. Pola tidur saya akhir-akhir ini emang berantakan banget, kayak kelelawar, adek saya bilang. Habis gimana lagi dong, seringnya inspirasi itu datengnya pas malem-malem pas rumah sepi baru saya bisa kerja on fire. Salahin itu datengnya wangsit! -________-"

Bokap sama nyokap juga bilang hal yang sama, waktu tidur saya jadi nggak normal. Bangun nyaris tengah hari, tidurnya udah lebih dari jam yang seharusnya. Kata bokap, pola tidur kayak gitu itu bikin nggak sehat. Sejujurnya, saya juga pengen lho punya jam tidur kayak jaman sekolah dulu. Teratur dan meski bangunnya sambil ngomel-ngomel (because I hate being woken up in the morning by alarm), but it feels good somehow.

Yah, mungkin saya bakalan nyoba tidur lebih teratur lagi. Tapi jangan salahin kalo tugas dan kerjaan datang bertubi-tubi dan bikin jam tidur saya berantakan lagi. Salahin yang ngasih tugas nohh!

Oke, temen-temen jaga kesehatan yaa. Tidur cukup itu penting lho, saya pernah baca artikel kalau tidur kurang dari 6-7 jam resiko penyakit jantungnya tinggi. Ngeri kan? Trus, hati-hati juga kalau beli makanan. Terutama yang doyan jajan, bakteri yang terkandung dalam makanan yang nggak bersih (yang biasanya dijual di pinggir jalan) bisa menginfeksi lambung yang ujungnya bisa jadi tifus kayak saya. Sekarang saya jadi mikir-mikir lagi kalau mau jajan, kapok deh disuruh tiduran mulu di kasur, kapooookk nggak boleh makan ini-itu.

Oh yang paling penting, minum air putih yang banyak. Pesen bokap saya dari dulu nggak peduli saya lagi sakit atau nggak, yang saya rasain sendiri manfaatnya :]

Sehat itu mahal lho!





P.S.: thank you very much for all your supports and prayers, my dear friends. From the bottom of my heart, thank you :]

Monday, 30 May 2011

Happened

Time flies so fast, don't you think? It's midyear already. Next month is June and I still have bunch of burdens to be solve. Ok, time to change the topics.

It hits me when couple weeks ago I came to my bestfriends' graduation ceremony. Yes, 3 of my besties has graduated from the faculty I've been studying so far. Yeah, some people wanna live their life faster than the other. That's fine, I'm okay with my self.

But it really makes me realize, it's been 4 years going. I was a junior back then and now I am the seniors who are prepared to be kicked out from college. Ok, that's sarcastic. But unfortunately true.
So does my other life, I mean, I'm not only having one thing like college in my life. That would be pathetic, to be honest. Ok, so I have friends, boyfie, school, dreams, family... and it's all changing in a way that I don't even have a chance to see it. Life has changed me, for real. People around me, the way I'm thinking, my feeling, my dreams (for a greater one), and almost everything.

wisuda 01wisuda 02

plus Yuri, but I lost the picture Cece's sent me :'[

Friends come and go. They came, have fun with me, be there when I'm in need, and then come a moment when they have to leave to pursue their dreams. But we're still remain friends. I will always have you here, my dear bestfriends :]


rosedate

It was a year ago (and more when this post written). Never thought we could get this far, never thought I could be this far. A year is not only a number, it has changed me during that range. And I realized that. Change everything, my thought, my feeling. Maybe God have something for me, through him. I don't know what but I think I need to go deeper to figure it out.

campus parking lot
And the last thing is my college. I met more of my juniors than people in my year or older. It means what? It means that my friends are getting focus on their thesis so they spent less of their time on campus. Sometimes I feel lonely when I see the place we used to hanging out is filled with people I don't know. What about me? Well, I did, sometimes. But also, there are so many things I can't leave behind. I just can't.

Like I said on my posting about this year. This is the year of responsibility, I'm responsible to more than one thing only. So it's not easy, to be honest, to handle everything by my self. Sometimes I need a time to do one thing so the others might need to be wait behind. That is hard, honestly.
But I know, once again, God always keeps me good. God always gives me His best way, and I trust Him.

I'd like to say I'm sorry if I've done something out of control in the past, something that might be not my habit, something that might be hard to tolerate. I'm struggling to reach my dreams and my responsibility at once, and I'm telling you, it's not as easy as flipping out you palm hand. And the only support I have, right now, the biggest one, comes from God.

I hope you understand :]




P.S.: this one is dedicated to my BLM sistas, Pudika, Sinta, Yustin, my soulsister; Anty, and the boyfie "Onyet". My life would suck without you :D

Oh I hit it again!

It's been a while, huh?

Yah, udah lama juga nggak posting travel journal lagi ya. Kali ini saya mau nulis tentang perjalanan saya lagi. Destinasi yang jadi target saya adalah Pantai Lombang, Sumenep yang ada di Pulau Madura.

Oh kenapa mendadak pengen ke sana?

Berawal dari foto yang saya lihat di galeri punya mbak Titis setahun lalu, pada bagian caption ada keterangan tentang lokasi pemotretan yang ternyata ada di Lombang, Sumenep. Di foto, pantainya berpasir putih dan kelihatan cantik sekali. Saya tanya deh sama mbak Anty, secara dia udah sering banget ke Madura. Ternyata dia juga tau pantai itu dan tanpa babibu kita rencanain trip ke Lombang dalam waktu dekat. Err... 'waktu dekat' ini sebenarnya adalah Desember tahun 2010 lalu, tapi karena kesibukan dan jadwal kuliah yang nggak bisa ditawar, akhirnya rencana ini baru bisa terlaksana tahun ini.

Mungkin saya perlu berterima kasih pada pemerintah yang udah ngasih hari libur tambahan pada tanggal 16 Mei kemarin. Begitu ngeliat tanggal merah yang berderet, mbak Anty ngajakin jalan-jalan. Awalnya mau ke baby zoo karena saya udah lama ngidam ke sana, tapi ngebayangin wahana liburan di long weekend pasti bakalan kayak es dawet saking ramenya. Saya ogah kalo harus desak-desakan dan ujungnya nggak bisa nikmatin suguhan hiburan yang disajikan. Tercetuslah Lombang sebagai tujuan jalan-jalan kita akhirnya. "Mumpung libur panjang", kata mbak Anty.

Ada benernya juga, pikir saya. Rencana sih berangkat hari Senin, tapi ternyata si pacar ada urusan dan mbak Anty juga jadinya diundur hari Selasa-nya. Hari itu sekaligus hari besar buat saya dan si pacar ;]

Anyway, hari demi hari berlalu, jumlah anggota yang berangkat bolak-balik berubah dan akhirnya kurang sehari mbak Anty mutusin batal ikut karena urusan keluarga. Saya sempat mau ngebatalin buat nggak berangkat aja, karena nggak tau jalan ke sana sama sekali. Tapi si pacar minta buat berangkat aja, alasannya udah terlanjur ngajak banyak orang. Berbekal nekat, kita berangkat deh ke Sumenep dengan pengetahuan tentang rute yang pas-pasan (baca: cuma pacar doang yang tau jalan). Oh and FYI, saya jadi Sanchai sehari gara-gara formasi yang ikut adalah 4 cowok dan saya satu-satunya yang paling cantik :p

Perjalanan memakan waktu 4 jam lebih 30 menit, karena kita harus nanya-nanya dulu waktu mendekati area Lombang dan itu lumayan memakan waktu sekitar setengah jam. Memasuki area wisata, kami disambut gerbang khas dengan bilik karcis di tengahnya. Biaya masuknya cukup murah lho, Rp 3000,00 per orang dan Rp 5000,00 untuk satu mobil.

Setelah bayar karcis, masuklah kita ke dalam area yang ternyata bener-bener masih virgin. Kanan-kiri masih berupa tanah kosong dengan hutan cemara udang yang membentang luas, tempat ini indah dengan kealamiannya. Meskipun ini tempat wisata dengan pantai yang tersohor karena keindahannya namun area sekitarnya nggak dirawat seperti selayaknya. Sampah, tanaman-tanaman kering dan tumpukan bebatuan di beberapa sudut bisa kita temui di sana.

Waktu masuk, asumsi saya bakalan rame karena ini hari libur. Begitu liat area parkiran, beberapa mobil yang berjejer membuat saya berpikir ulang. Mungkin di dalam nggak seramai yang saya pikirin. And it was! Meskipun ada sejumlah motor dengan jumlah yang lumayan banyak yang juga diparkir di area yang lebih dekat dengan pantai, tapi suasana pantainya sepi banget. Tenang dan berasa pantai pribadi! :D

Begitu datang, kita berlima langsung duduk menikmati semilir angin di bangku yang menghadap pantai (oh dan di depan kita juga ada seekor kuda yang lagi parkir). Itung-itung ngelurusin kaki setelah 4,5 jam penuh duduk dengan kaki nekuk. Oh it feels like heaven!

feet vs water
Kaki udah nggak sabar aja pengen segera lari ke pantai, main air, ngerasain pasir pantai. Tapi semua itu harus saya tahan karena si pacar pengen istirahat dulu, saya maklum dia pasti capek setelah nyetir nonstop. Alhasil saya temani dia dulu sebentar sebelum lari ke laut :D

yayy
watersteps
Karena males cebur-ceburan sama pengunjung yang lain, saya jalan ke sebelah barat pantai yang cenderung lebih sepi dan view-nya ternyata lebih alami. Bukannya warung-warung penjual makanan, di balik bagian pantai yang saya datangi adalah bukit pasir berwarna putih pucat, sedikit berbeda dengan pasir yang ada di bibir pantai. Ngeliat pasir cantik nganggur, saya ajak si pacar main pasir dan pendem kakinya sama scrub muka sekalian. Itung-itung spa gratis, iya ga? :D

Oh dan untuk kali pertama saya ngerasain sun-bathing, it feels pretty good. Terutama karena pemandangan air laut torquise sejauh mata memandang terbentang di hadapan saya, desir-desir ombak di bawah kaki dan hembusan lembut angin menyentuh kulit wajah. Oh seandainya saya bisa berada di kondisi itu setiap hari...

Bosan sun-bathing, saya jalan sedikit masuk ke air dan refleks yang kita rasain begitu masuk air pasti.... main air!!! :D Waktu jalan dengan kaki terendam air, saya juga sempat melihat anak-anak ikan berenang gesit sekali menjauhi tangkapan saya. Mungkin ikan-ikan kecil itu terbawa ombak, bukannya anak-anak ikan suka berenang di sekitar terumbu karang dan rumput laut? Sedangkan di pantai yang saya datangi, nggak ada tuh karang-karang atau padang rumput laut. Atau mungkin saya kurang jauh ke tengah laut? Hmm, maybe.

oh helloww
Capek main air dan kulit rasanya udah kepanasan, saya ngadem deh di atas bukit pasir putih dan duduk di atasnya dengan beralaskan rerumputan liar. Ngeliat Agus beli kelapa muda, saya jadi pengen. Saya ajak pacar buat beli itu kelapa muda buat diminum bareng karena porsinya gede banget, satu buah kelapa muda dihargai Rp 3500,00. Murah banget gelaakk! Di Surabaya yang kayak gitu nggak boleh tuh segitu.

Usai minum kelapa muda langsung dari buahnya, kami berlima mutusin buat balik ke Surabaya. Lagipula perut juga udah krucuk-krucuk minta diisi. Atas saran salah satu temen kuliah kita yang pribumi situ, Halida, mampir deh makan di rujak Madura "Bu Sri" yang tempatnya nyempil banget kayak upil. Masuk-masuk gang gitu, jalannya belok-belok, tapi lokasinya di tengah kota. Kata Halida, kuliner enak di Sumenep ada di tengah kota tapi lokasinya nyempil. Mungkin biar resepnya nggak ditiru kali ya? hehe

rujak madura
Rujak Madura, di lidah saya, serupa macam gado-gado dan tahu telor. Bedanya krupuk yang ada di gado-gado atau tahu telor diganti dengan semacam krupuk melinjo yang lebar-lebar, selain itu ada potongan singkong rebusnya juga. Overall sih enak buat pengganjal perut :D

Perjalanan hari itu bener-bener menyenangkan, santai and I enjoy it. Satu hal sih sebenernya yang bikin agak kesel, waktu mau masuk mobil seorang pria mendekati si pacar minta upah. Tadinya sih bilangnya buat uang parkir. Tapi kemudian pacar saya bilang udah bayar, eh si mas-masnya malah berdalih buat biaya pemeliharaan sama kebersihan. Dan nggak tanggung-tanggung, mintanya Rp 10.000,00! Itu 3x lipat dari harga tiket masuknya for God's sake!!!

Menurut saya sih ngeselin banget. Anggaplah saya mau traveling hemat, semua pengeluaran udah diperhitungin eh mendadak ada pajak parkir asal-asalan kayak gitu. Mana mintanya juga nggak sopan, nominal yang diminta juga nggak kecil. Kalau di pintu gerbang udah dimintain karcis (yang mana uang yang dibayarin sesuai sama harga yang tertera di karcis), kenapa di dalam masih ditarik uang lagi? FYI, karcis yang diberikan di pintu masuk itu ada tulisannya "Karcis Parkir" lho.

Bukannya saya nggak peduli sama pemeliharaan lingkungan, tapi seharusnya kalau memang beban pemeliharaan dan kebersihan ditanggung pengunjung, ya lakukan dengan resmi. Seperti dimasukkan dalam karcis retribusi misalnya, bukannya dengan parkir liar kayak gitu dong. Dan hey pemerintah daerah, setahu saya ada anggaran kan buat pemeliharaan lingkungan. Apalagi ini tempat wisata yang (di internet sih) sering dikunjungi wisatawan asing, dan keindahannya masih terjaga. Kenapa nggak berusaha mengangkat potensi wisata sendiri daripada didiemin aja duitnya di brankas?

Selama perjalanan ke Lombang, saya sempat browsing mengenai lokasi wisata itu. Beberapa link mengarahkan saya pada berita mengenai kasus sengketa tanah antara pemerintah daerah dan penduduk lokal terkait dengan pantai Lombang. Ini juga nih biang keladinya, mungkin konflik ini belum kelar sehingga pihak kedua pun memberlakukan 'pajak' tersendiri pada pengunjung. Sebelum menginjak pantai pun saya sempat melihat papan yang berdiri di tengah jalan yang menunjukkan kepemilikan tanah oleh seorang penduduk lokal. Allah aja ngasih kita pantai indah nggak minta pajak apa-apa lho :]

Yah, semoga duit Rp 10.000,00 itu bener-bener difungsikan buat pemeliharaan lingkungan dan kebersihan yang emang beneran dibutuhin (kalau pemerintah emang nggak ngucurin dana buat itu).

Well, kalau ditanya capek atau nggak? Saya bilang sih nggak (iyalah, kan nggak ikut nyetir hehe). Masih lebih capek waktu ke Sempu dulu, karena emang harus trekking dulu. Yang ini, begitu parkir mobil, tinggal jalan sekitar 100 meter aja udah nyampe. Meski demikian, pemandangannya juga nggak kalah cantik lho. Pasir pantainya juga lebih lembut, menyerupai tepung, saya sampai mau ambil spons lho buat bedakan :D

Yang bikin saya suka di pantai ini adalah suasananya nggak terlalu ramai jadi saya bisa bebas lari-larian dan main air tanpa takut dikira gila or worse, nabrak anak orang. Selain itu, suasana yang tenang bisa bikin pikiran relax dan badan pun jadi santai. Like those people used to say, "Santai... kayak di pantai..."

Jadi, daripada jauh-jauh ke Sentosa Island atau malah ke Kuba, di Sumenep, Madura juga ada kok pantai yang bisa buat gulung-gulung atau sekedar melepas penat dengan menikmati pemandangan cantik :]

Oh ya, waktu googling, ada yang bilang di Lombang bisa snorkling. Waktu di sana sih saya nggak nemuin area yang diperuntukkan untuk itu. Snorkling-nya independen atau ada jasa guide yang bakal nemenin gitu nggak sih? Kan nggak lucu aja kalau mau nekat snorkling trus mendadak harus meeting sama om-om hiu putih. Or worse, kegulung ombak ganas sampai Raja Ampat. Should I be thankful or regret, in this case? ;]

Yah, karena saya nggak tau kondisi laut di pantai Lombang seperti apa (juga pantai manapun di negara ini), jadi alangkah baiknya kalau waktu snorkling (atau diving pun) ada guide yang menemani. Karena ini menyangkut keselamatan diri sendiri. Lagipula, kita bukan penguasa air, we're nothing under water. It'd be wise if we trust somebody who capable to guide us down there.

Akhir kata, 4 jam perjalanan dari Surabaya rasanya bukan apa-apa begitu melihat pemandangan di pantai cantik itu. Just go there and see it yourself! :D





See you on my next trip!





P.S.: more pictures, hit it here!

Sunday, 1 May 2011

Ketika Kuro sakit

Sudah nyaris sebulan lebih ya blog ini nggak update, kali ini bukan karena waktu yang bikin saya nggak nulis. Tapi masalah teknis yang bikin keadaan makin menyedihkan.

Suatu hari saya download dari Torrent, file-nya berformat .rar. Kelar download, saya buka, eh di dalamnya ada folder yang judulnya Extras. Waktu diklik, nggak respon apa-apa. Saya klik bolak-balik dan hasilnya sama. Tapi, ternyata absennya respon itu hanyalah kamuflase. Bak pembunuh berdarah dingin yang membiarkan korbannya merasa aman terlebih dahulu, si file asing itu memang tidak menunjukkan perubahan beberapa menit awal. Namun beberapa saat kemudian, muncul window-window aneh yang menuntut konfirmasi dari user. Saya panik, saya sudah lupa apa saja yang saya lakuin waktu itu. Begitu sistem kembali stabil, I found it that the virus has already infected my laptop. Tepatnya di bagian removable drive, jadi setiap flashdisk yang terkoneksi ke laptop saya bakal terinfeksi dan bentuknya adalah merubah semua file yang ada menjadi shortcut serta memasukkan shortcut-shortcut familiar macam MyMusic, MyVideo seperti yang biasa ditemui di My Document tapi yang ini virus. File aslinya dihidden beserta root virusnya. Kalau saya biarin, laptop bakal terisolasi dari perpindahan data. Saya nggak mau ngerugiin orang lain dengan nyebarin malware sialan ini, alhasil saya menghindari flashdisk manapun buat nancep ke si Kuro.

If you ask me about antivirus? Saya pakai Kapersky dan SMADAV, tapi kedua antivirus itu nggak detect sama sekali. SMADAV sempet detect file yang dihidden, tapi nggak bisa dihapus atau di-unhidden. Lalu saya nyoba googling dan ternyata virus jenis ini udah termasuk virus kuno (herannya saya masih bisa kena) karena udah ada beberapa tahun lalu. Anehnya, antivirus mentereng pun nggak berhasil menghapusnya. Dari hasil googling, saya temuin satu link (yang udah dipost beberapa tahun lalu) di mana di dalamnya ada antivirus khusus malware shortcut seperti yang menjangkit laptop saya. Sebelumnya saya sempet nemuin cara dengan menghapusnya pake cara manual, run cmd, tapi ternyata virusnya jauh lebih lihai dari itu. Upaya saya itu udah terlalu ketinggalan jaman rupanya. Alhasil, saya bergantung sepenuhnya pada si antivirus lokal itu.

Karena wifi fakultas ngeblokir situs-situs tertentu, di mana situs tempat penyimpanan si antivirus termasuk di dalamnya, akhirnya saya harus nyari wifi di tempat lain. Belum selesai di situ aja, waktu download si antivirus juga rumitnya nggak ketulungan. Banyak mirror yang menyertai, link-link nggak jelas sampai akhirnya laptop mulai lemot dan bekerja nggak kayak biasanya. Saya makin panik. Tugas-tugas lagi banyak, kerjaan juga nggak bisa ditinggal. Bagian terburuknya adalah ketika halaman log on nggak bisa diakses, saya nggak bisa masuk Windows. Mampus! Tanpa nunggu lama, saya lari ke tukang servis. Entah pake cara apa, si mas-mas tukang servisnya berhasil buka driver-nya dan back-up data-data penting saya. Dan Kuro pun kembali seperti semula.

Eh, beberapa hari kemudian ada window asing yang muncul minta dikonfimasi terus menerus meski udah ditutup. Agak nyebelin tapi karena nggak ganggu sistem, saya biarin. Sampai suatu hari waktu mau ngerjain paper, Kuro nggak mau log on lagi. Tanpa nunggu lama, hari itu juga saya lariin dia ke tukang servis. Karena yang dulu lagi tutup, saya ke tempat lain, kata mas-masnya Kuro kena virus (yang katanya banyak banget) dan perlu diinstal ulang. Oh My.

Sekali lagi data diback-up (sampai sekarang saya masih nggak ngerti caranya buka drive tanpa log on) dengan bantuan CD Booting (atau CD Booter gitu saya juga lupa hehe). Alhasil, selama sekitar 2 mingguan Kuro nggak bisa dipake. Kenapa saya nggak langsung instal ulang? Karena beberapa hal saya akhirnya baru bisa ke tukang servis lagi buat instal ulang 2 minggu kemudian. Sementara itu, waktu ada job dadakan atau tugas darurat, saya minjem laptop sana-sini sampai ngerjain di komputer kampus yang sejujurnya nggak nyaman banget. Saya kangen kerja sama Kuro, di laptop saya sendiri, di mana semua yang saya butuhin ada di dalamnya.

Belum lagi waktu need buat kerja lagi tinggi-tingginya, sampai mati gaya saya ngalihin need itu ke mana. Mau baca buku juga nggak pengen-pengen banget, nonton TV malah bikin stres, mau jalan-jalan nggak punya duit. Bener-bener 2 minggu yang bikin frustasi.

Tapi sekarang, keadaan sudah kembali seperti semula. It's even better :]

Yang perlu saya khawatirin sekarang adalah nabung duit secepat mungkin biar bisa beli hardisk eksternal yang harganya juga nggak murah. Atas saran si mas-mas tukang servisnya, saya perlu hardisk eksternal buat memuat data-data yang bikin hardware-nya sampai bunyi (a.k.a bengek) tiap kali mesin bekerja. Ya, si Kuro keberatan memori.

Eh, kenapa nggak minta ortu aja beliin? Well, saya sadar saya udah dewasa dan udah waktunya cari duit sendiri. Jadi saya pun nggak mau terus-terusan minta ini-itu ke ortu, apalagi hardisk eksternal harganya nggak kayak beli flatshoes atau tas vintage yang saya kadang masih minta dibeliin nyokap. Beda cerita kalau ortu saya dua-duanya pejabat, mungkin hardisk eksternal udah ada jauh sebelum si Kuro keberatan memori -____________-"

Pelajaran yang bisa saya dapat adalah selalu hati-hati tiap kali download apapun. Waktu saya re-download file yang sama (karena emang saya perlu) yang memuat virus shortcut itu, saya juga re-check apakah di dalamnya ada folder mencurigakan. Selain itu, sekarang saya lebih sensitif sama flashdisk yang keluar masuk laptop saya. Atas saran mas-mas yang nyaranin si Kuro buat diinstal ulang, baiknya saya pake Avira karena ampuh membasmi virus. Begitu ada yang mencurigakan, sistem akan langsung memblokirnya. Well, I think he got the point.

Pelajaran juga buat yang lainnya, hati-hati tiap mau download, bahkan dari link yang terpercaya sekalipun. Aktifin firewall-nya, antivirus juga harus selalu update dan harus jeli memilih antivirus. Hal paling mendasar adalah pastikan laptop pake antivirus, jangan biarin laptop tanpa perlindungan sama sekali kalau nggak mau kebobolan yang akhirnya dapat ngerugiin diri sendiri.

Have a nice day! :]

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share