Tuesday, 1 March 2011

KKN #5: Extended

Tinggal di desa yang jauh dari modernitas tentu merupakan suatu pengalaman baru buat saya. Apalagi tinggal serumah bareng 21 orang yang hampir semuanya baru saya kenal kurang dari 3 bulan.

Sampang, sejatinya masih memiliki alam yang masih belum terjamah. Terutama di desa tempat saya KKN, desa Aengsareh. Dari 6 dusun yang ada, semuanya masih hidup dengan mengandalkan fasilitas seadanya. Hal ini membuat saya lalu membayangkan suatu tempat yang semuanya serba mudah karena teknologi merupakan tools utama yang digunakan sehari-hari. Melihat keadaan di desa tempat saya KKN ini, membuat saya lalu membayangkan Jakarta. Teringat bagaimana tidak seimbangnya pembangunan di negeri ini.

Listrik di rumah yang saya tempati, berbagi dengan rumah di sebelahnya. Jadi setiap kali penggunaan listrik di rumah kontrakan yang kami tempati berlebihan, akan memadamkan listrik di dua rumah sekaligus. Buat kami yang terbiasa hidup menggunakan listrik tak berbatas, tentu hal tersebut lumayan merepotkan. Sampai akhirnya penggunaan sejumlah barang elektronik harus dijadwal dan dibatasi supaya nggak bolak-balik jeglek (listrik mati).

Waktu melihat kondisi sekolah (SD), sebagian besar gedungnya sih lumayan memadai, nggak sampai yang reyot-reyot banget. Hanya saja kondisi lapangan yang masih belum berpaving membuat sekolah tampak tidak terawat dengan rumput-rumput liar yang tumbuh di mana-mana. Hebatnya lagi, dalam satu desa itu hanya ada 1 TK yang kelihatan lumayan mewah seperti TK-TK di kota. Yang mencengangkan, justru pendidikan anak usia dini (PAUD) banyak berkembang di sana. Meski dengan fasilitas yang seadanya, menggunakan mushola atau ruangan sempit pun jadilah sebuah PAUD. Saya salut dengan semangat warga sekitar yang berinisiatif mendidik anak-anak di usia yang masih sangat kecil. Nggak gampang lho mengajar anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan awal. Harus sabar, harus telaten. Konon saya dengar, guru yang mengajar tidak mendapatkan insentif apa-apa. Semakin salut! Rupanya semangat Bu Muslimah nggak cuma ada di Bangka-Belitong. Yah, semoga nanti ada yang berbaik hati mendanai sekolah-sekolah kecil itu supaya pendidikan di sana lebih baik :]

Selain kondisi sekolah, jalur untuk menuju sekolah juga beberapa tidak mudah. Ada 1 sekolah yang letaknya di atas bukit, untuk naik ke sana jalannya sebagian besar sudah beraspal tapi rusak berat. Alhasil, waktu saya ke sana, rasanya kayak lagi off-road naik motor. Belum lagi jalannya menanjak mulu, ngeri man! Waktu lomba mewarnai, kendala yang saya alami adalah salah satu sekolah tidak bisa ikut berpartisipasi karena jauhnya lokasi tempat siswa tinggal dengan sekolah yang dijadikan lokasi perlombaan. Yang baru saya sadari, di sana transportasi juga minim. Kalau nggak ada motor atau mobil, ya nggak bisa jauh-jauh perginya. Angkutan kota yang saya lihat pun nyaris tidak ada, dan ngerinya, kendaraan yang lalu lalang pada suka nyetir dengan kecepatan tinggi. Sepertinya haram buat nyetir dengan range speed 40-60 km/h -_____-"

Tinggal jauh dari modernitas dan orangtua juga membuat saya banyak belajar. Kalau mau makan nggak bisa tinggal buka tutup saji trus ambil lauk, harus masak dulu, bangun pagi (dalam kamus saya jam 9 itu pagi lho :p), belanja ke pasar, motong-motong bahan. Waktu sudah mateng, apetite bisa-bisa udah hilang duluan karena kelamaan nunggu. Jadi waktu makan, nggak begitu habis banyak. Tapi lama-lama setelah udah mengenal kota Sampang, tahu tempat-tempat terdekat yang jual makanan enak, agenda masak-masak di pagi hari dihapuskan diganti dengan belanja nasi bungkus buat sarapan di kota :D

Bareng2
Cowok
nasi
Malam terakhir di Sampang, makan bareng ala OSPEK

Oh anyway, soal makanan, alhamdulillah makanan yang saya makan selama di Sampang nggak jauh beda sama di Surabaya. Dan mengingat Sampang atau Madura pada umumnya terkenal dengan bebek gorengnya, alhasil saya pun bisa makan menu bebek goreng 2-3 kali dalam seminggu. Padahal kalau di Surabaya saya harus menahan diri kalau nggak mau dijewer nyokap gara-gara kandungan kolesterolnya yang tinggi ;] Nggak ada menu khas sih di sana, paling juga bebek songkem. Itupun saya nggak nyobain karena nggak suka. Selebihnya makanannya hampir sama kayak di Surabaya.

Well, tempat saya KKN mungkin masih minim fasilitas modern seperti di kota. Tapi justru itulah yang bikin desa itu tetap seperti desa yang sudah kita kenal selama ini: hidup sederhana, bertani, masyarakat yang ramah. Mungkin dengan jauhnya dari jamahan tangan-tangan yang tak bertanggungjawab, Aengsareh bisa mempertahankan keasliannya, mempertahankan alamnya.

Oh ya, di postingan sebelumnya saya sempat menyebutkan tentang Pulau Mandangin. Ada kisah unik di balik nama Mandangin itu sendiri. Di desa tempat saya KKN juga ada dusun yang namanya Mandangin dan kata penduduk sekitar, dulunya pulau itu terbentuk karena ditendang oleh Semar sehingga terpisah dari daratan utama. Entah kenapa saya lalu membayangkan Tangkuban Perahu ;D

Kalau ditanya, "Betah nggak sih tinggal di sana?" saya bilang 'betah' atau 'lumayan'. Karena desa tempat saya KKN itu alhamdulillah nggak parah-parah banget primitifnya, makanan juga masih layak, air bersih bukan masalah, listrik juga ada meski terbatas, masih dekat Indomart dan Alfamart, jarak dari kota sekitar 10-15 menit naik motor. Jadi bisa dibilang desa Aengsareh masih tergolong desa yang modern, meski penduduknya memutuskan hidup dengan kondisi yang seadanya. Beda banget sama anak-anak KKN yang sehari bisa 5-6 kali ke Indomart beli cemilan :D

Bonusnya, meski dekat dengan kota tapi kita bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa. Okelah saya ngaku emang nggak pernah ke desa (kedua orangtua saya besar di kota jadi, saya nggak pernah mudik hehe). Jadi lihat sawah terhampar yang hijau itu overwhelming. Tapi siapa sih yang nggak menahan napas waktu lihat pemandangan dari atas bukit, apalagi yang di bawahnya selain ada sawah juga ada lautan? Itu semua cuma ada di Sampang sodara-sodara, tepatnya di desa Aengsareh ;]

Dari pengalaman KKN ini saya juga jadi menyadari, bahwa negara kita ini masih agraris, nggak semuanya mengusung budaya urban dengan membangun mall gila-gilaan. Masih ada yang mengandalkan ladang dan sawah buat bertahan hidup, masih ada yang nggak pingsan karena nggak bisa update status FB. Inilah Indonesia, dengan kelebihan dan kekurangannya. Saya sempat tanya sama Ema yang emang asli Malaysia, dia bilang di negaranya nggak ada tempat yang desa banget kayak tempat kita KKN. Entah kenapa saya malah bangga, itu artinya negara kita masih alami. Masih mendukung kelestarian alam dengan nggak membabat habis hutan dan sawah buat pemukiman. Bangga dong punya negara yang masih hijau :] Mungkin kelestarian ini hanya perlu diimbangi dengan fasilitas yang selayaknya diterima oleh masyarakatnya.

Alright, mungkin sampai di sini dulu tulisan saya tentang hari-hari saya selama KKN (atau tentang holiday ya ini? hehe). Banyak yang sebenarnya ingin dituliskan tapi rasanya lebih seru kalau merasakan sendiri ;] Jadi, nggak ada salahnya kalau holiday trip nanti dijadwalkan buat mengunjungi pedesaan-pedesaan di negara kita. Mengunjungi pulau-pulau virgin yang masih belum terjamah tangan-tangan usil dan tentunya nggak kalau memukau dibanding pulau-pulau di Karibia or even St.Bartz :]




Have a nice day, people!






No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share