Tuesday, 2 March 2010

Just stories

Rasanya, akhir-akhir ini keberuntungan sedang tidak berada di pihak saya.

Rencananya, saya mau nyari buku Cassey yang berjudul "Letters, Stories & Dreams" di Gramedia Manyar. Saya muter-muter mengelilingi rak-rak buku yang sama sampai dua kali, melototin cover buku satu-satu, memastikan nggak ada satupun buku yang terlewat. Sampai akhirnya saya nyerah dan nanya ke customer service.


Begitu berdiri di depan meja CS, si mbaknya langsung dengan ramah bertanya, "Ada yang bisa dibantu, Mbak?". Saya sebutin deh masalah saya dan sedetik kemudian si mbak CS udah ngetik-ngetik di komputernya. Begitu di enter, katanya nggak ada. Trus saya bilang, "Katanya bukunya cuma di sini sama di TP, Mbak..." dan si mbak CS langsung ngetik-ngetik lagi. Jawabannya, "Lagi kosong, Mbak." trus saya nanya, "Kira-kira restock lagi kapan ya, Mbak?" Sekarang si mbak udah nggak pegang komputernya dan fokus sama saya, "Kalau itu kami nggak bisa mastiin, mungkin 3 hari atau seminggu lagi gitu. Ini udah ada 3 orang yang mesen, jadi Mbaknya nulis nama sama nomor telepon aja dulu. Nanti kalau bukunya udah ada, kami hubungi." Saya mengangguk dan disodori buku merah besar yang isinya tabel-tabel. Saya tulis identitas and the bla bla bla sama judul buku yang mau saya pesan. Setelah senyum setengah kecewa dan ucapan 'terima kasih', saya melangkah turun ke lantai satu. Di lantai satu saya sempet disoriented, lupa mau ngapain padahal sebelumnya udah direncanain. Saya keliling-keliling aja dulu ngelihat-lihat map warna-warni dan begitu berbalik, saya lihat papan ungu bertuliskan 'GUNTING' di rak seberang. Serasa mendengar bunyi 'ting!' di kepala, saya berjalan ke arah rak tersebut. Ya, saya butuh beli gunting gara-gara gunting saya yang lama rusak habis dipinjem bu Kos :[

Baru saya sadari kalau gunting itu crucial, tanpa gunting pekerjaan saya jadi tertunda dan ujung-ujungnya numpuk. Kalau udah gitu jadi stres sendiri aja kerjaannya -___-"

Kembali ke topik buku Cassey tadi, penerbit buku itu adalah Terrant Books. Saya jadi teringat novel Sitta Karina yang juga menggunakan penerbit yang sama. Entah kenapa, saya selalu kesulitan mencari buku terbitan Terrant Books ketika novel dikatakan sudah beredar di pasaran. Entah karena saya tinggal di Surabaya yang notabene jauh dari Jakarta atau gimana, yang jelas saya mesti nunggu lama baru buku yang saya cari ada di toko buku. Saya masih ingat, jaman nyari novel Sitta Karina yang judulnya "Titanium". Perjuangan banget tuh nungguin itu novel nongol di toko buku sini. Dulu saya biasa hunting buku-buku Sitta Karina di Toko Gunung Agung, tiap kali dikabarkan terbit saya pasti langsung nyamperin ke sana dan selalu ada. Di Gramedia malah belum ada. Dan karena kata Cassey, di Surabaya bukunya ada di Gramedia Manyar dan Tunjungan Plaza, saya nggak mampir ke Toko Gunung Agung buat hunting. Eh, ternyata saya kehabisan :[

Terpaksa deh nunggu lagi itu buku ada di tangan. Sebelumnya saya udah nyari-nyari di toko buku lain seperti Uranus dan Toga Mas, jauh sebelum Cassey memberitahukan bukunya bisa ditemukan di mana di Surabaya. Lebih tepatnya, ketika diberitahukan bahwa "Letters, Stories & Dreams" beredar di luar Jabodetabek dua minggu setelah launching. Dua minggu setelah launching, saya langsung hunting.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya nggak beli on-line aja di website Terrant Books. Well, nggak peduli ada embel-embel diskon yang menggiurkan, tetap, saya nggak tergoda sama sekali. Karena apa? Harga bukunya mungkin memang jauh lebih murah, tapi ongkos kirimnya? Siapa yang mau nanggung? Secara tempat tinggal saya jauh dari Jakarta, harga buku (sesudah diskon) ditambah ongkir, ya sama aja.

Saya sih cuma menyayangkan proses distribusi buku yang, menurut saya, kurang efektif. Terrant Books kan penerbit besar, jadi saya rasa untuk urusan distribusi seharusnya bukan perkara sulit. Kalau distribusi lama dan jadinya tidak merata di seluruh toko buku kan akhirnya merugikan konsumen (dalam hal ini, pembaca setia buku-buku karangan penulis tertentu yang sudah menunggu-nunggu). Yah, bila tulisan ini dibaca, semoga dijadikan pertimbangan deh buat penerbit :]

Well, saya cuma bisa menghela napas. Bolak-balik ke toko buku dan nggak dapet apa yang saya cari bisa bikin saya bete seharian, kecuali saya lupa ;]

Awas aja sampe buku lo jelek, Cas! Gue minta foto bareng lo sebagai ganti ruginya ;D





-- -- -- -- --

Dan, habis dari Gramedia, saya mampir dulu ke Multiplus. Multiplus menyediakan shipping service dan saya lagi perlu ngirim barang ke June Paski. Karena alamatnya P.O. Box, saya jadi harus ke kantor pos. Rencananya, barang itu udah bisa saya kirim minggu lalu. Tapi karena saya harus ngendon dulu di bank sejam, jadinya saya batal ke kantor pos karena begitu saya sampai sana pasti udah tutup karena kesorean. Mana habis itu long weekend pula, makin sip aja heran! Akhirnya, saya nyoba-nyoba nanya ke Multiplus, bisa kirim ke alamat P.O. Box nggak dan jawabannya 'nggak'. Makin bingung lah saya, kapan bisa ngirim ini barang ke June. Secara saya nggak enak nyimpen barangnya lama-lama, takut si June nungguin kelamaan.

Sejenak kita lupakan dulu perkara di atas dan masuk ke perkara lainnya. Jadwal kuliah udah kayak tren baju aja, gonta-ganti tanpa permisi. Berubahnya jadwal kuliah berimbas pada jadwal magang saya juga, itulah yang bikin saya stres. Saya, bisa dibilang, organized masalah jadwal kegiatan saya sehari-hari. Saya juga merencanakan kegiatan saya yang akan saya lakukan per hari setiap awal minggu. Jadi, begitu jadwal yang sudah settled itu 'diganggu', saya bisa males ngapa-ngapain. Bad mood to the max!

Contohnya, kemarin Senin. Hari pertama kuliah, ada 1 mata kuliah yang akhirnya batal saya ambil karena jadwalnya bentrok. Keluar dari kelas, si Mia ngajakin ngumpul di kantor ngebahas jadwal magang yang baru. Saya cuma bisa lemes melihat jadwal saya yang mendadak berantakan. Utak-atik lagi, pertimbangan lagi, arggghhhh..... benci!!!

Saya nggak nyalahin siapa-siapa. Sekali lagi, yang bisa saya salahin adalah... keadaan. Selalu dia.




-- -- -- -- --

Hari Sabtu kemarin, saya menghadiri acara lamaran salah satu sepupu saya. Ceritanya hari itu saya didapuk jadi sie Dokumentasi sekaligus sie Perlengkapan bareng sepupu-sepupu saya yang lain (termasuk adik sepupu saya yang lagi lamaran). Sekian lama autis sama kehidupan saya sendiri (salahkan kampus dan kantor!), akhirnya saya ngumpul juga sama keluarga besar saya. Rasanya seneng banget!!!

Sehari sebelumnya saya udah repot ngurusin ini-itu perlengkapan yang diperlukan bareng sepupu-sepupu saya. Asyik banget deh kalo jalan sama mereka :D Dan, begitu hari H tiba, saya bertugas jadi fotografer tunggal acara itu karena sepupu saya yang satu lagi sedang menghadiri acara ulang tahun kantornya. Dalam keluarga saya, sie Dokumentasi-nya cuma 2. Saya dan sepupu saya yang lebih senior itu. Sepupu saya itu dari jaman saya masih kecil selalu jadi seksi jeprat-jepret tiap lagi ngumpul-ngumpul keluarga besar, dulu malah pake SLR. Begitu mengenal pocket camera, pindah deh pake kamera yang lebih mungil itu.

Jadi fotografer itu susah-susah gampang, terutama ketika memotret orang-orang yang belum tahu kemampuan kita. Bukan bermaksud sombong, tapi kalau orang udah biasa pegang kamera dan mainannya adalah menjepret-jepret maka kemampuannya nggak perlu diragukan lagi. Saya beli kamera bukan buat punya-punyaan, saya beli karena saya suka fotografi dan pengen berhenti mlongo dan ngiler mulu lihat fotografi bagus. Saya pengen menciptakan fotografi saya sendiri.

Kejadiannya agak nyebelin sebenernya. Yaitu waktu tiba saatnya saya harus motret keluarga besar saya usai acara. Bude-bude saya, bokap sampai ayah sepupu saya yang lagi lamaran yang tentu nggak tahu kerjaan saya dan jelas nggak pernah buka account saya di Deviantart dengan lantangnya nyuruh-nyuruh saya pindah posisi biar motretnya bener. Cih! Belum tau mereka kemampuan si Lou. Yang mereka khawatirkan adalah 1) takut kamera saya tidak menjangkau semuanya, 2) takut saya salah menangkap angle, 3) takut saya tidak memfokuskan jepretan pada objeknya. Capeee dehhh!!!

FYI, Lou merupakan kamera yang dilengkapi dengan fitur wide-angle, jadi bisa menjangkau view yang cukup luas. Masalah menangkap angle yang tepat dan fokus pada objek memang ditentukan oleh saya, dan saya tahu betul objek apa yang akan saya sorot dan angle mana yang bagus untuk diambil. Karena saya banyak latihan (thanks to BLM sista!) dan masih terus latihan sampai tulisan ini dibuat.

Yang paling nyebelin dari memotret mereka adalah ketika mereka udah sok-sokan ngatur saya, tapi saya tetap dengan pendirian saya, saya tunjukin hasilnya dan mereka dengan entengnya bilang, "Yohh... bagus!" Antiklimaks, mestinya saya bangga, senang, bahagia or whatever ketika dibilang begitu. Tapi nggak, saya malah kesel sendiri. Teringat gimana rewelnya mereka sebelum saya menekan tombol kamera.

Beda cerita waktu saya motret sepupu saya yang gaul (\m/) dan pastinya tahu gimana reputasi saya di dunia maya (halah!!!). Merekalah yang mendengarkan arahan saya, bukan sebaliknya. Proses memotret jadi lebih cepat, hasilnya lebih banyak dan tentunya memuaskan :]



-- -- -- -- --

Karena masih dalam tahap photo processing, foto-foto hasil jepretan saya selama acara lamaran itu masih ngendon di laptop. Minggu depan deh saya usahain udah nongol di Deviantart. Stay tune! ;]

No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share