Tuesday, 17 February 2009

A Holy Temple: Books

If you hate reading books, I suggest you to leave this post right now because I'm sure you're gonna thrown up. Haha. Seriously. I've warned you already okay.

Kalau ada beberapa temen yang suka minjem koleksi buku saya dan mereka tertawa melihat warning sign yang selalu saya tempel di setiap sampul dalam koleksi buku saya, it's because they don't love books like I do.

Sebelumnya, cara saya menghargai buku mungkin berbeda dengan orang lain. I know that and I appreciate the differences.

Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan buku, dan bukannya main piano atau menyanyi karena di keluarga saya nggak ada yang keturunan musisi. Bokap saya maniak baca dan ada satu rak buku yang penuh buku dengan berbagai macam bidang, kebanyakan sih ekonomi perbankan sama politik. Tapi justru dari situlah saya jadi kuliah tanpa beli buku, karena beberapa buku kuliah saya ternyata ada di koleksi buku bokap. Lumayan, hemat :]]

Kalo ditanya 'tempat hangout favorit?', tanpa pikir panjang saya bakal langsung jawab 'toko buku'. Di toko buku saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa saya sadari, bahkan beberapa temen saya suka males nemenin kalo saya mulai nongkrong di toko buku. Ada juga yang menganggap saya anak nerd gara-gara rajin ke Gramed tiap kali ke mall, padahal yang dibeli ya novel :]

Toko buku seperti perpustakaan raksasa buat saya, buku apa aja ada. Menurut saya, perpustakaan kota yang ada terkadang tidak menyediakan buku-buku tebal yang mahal dan pastinya berkualitas (yang paling penting lagi, memenuhi selera saya). Kalo di toko buku, saya bisa baca buku apa aja (yang segelnya terbuka of course) serta beli buku yang menarik dan tentunya bagus.

Hangout di toko buku itu bagi saya seperti surfing di internet, banyak kejutannya. Setiap jalan di rak-rak novel, saya pasti menemukan novel-novel baru yang cover-nya bagus atau ceritanya gokil (yang so-so juga banyak sih). Trus kalo jalan lagi ke rak IT, saya bakal nemuin kitab-kitab sihir yang bikin saya menganga takjub. Pastinya saya juga mampir ke rak komik, sekedar melengkapi koleksi komik serial saya atau survey komik baru yang layak dikoleksi. Kalo iseng, biasanya saya juga mampir ke rak yang ada buku Psikologi-nya. Sebenernya sih saya kurang tertarik baca buku kisah-kisah macam Chicken Soup, Mars and Venus, dkk. tapi saya interest baca buku-buku tentang membaca kepribadian lewat gestur dsb. Unik aja, sekaligus mendukung apa yang sudah saya pelajari di mata kuliah Psikologi Kepribadian I :] Kalo lagi banyak waktu, biasanya saya jelajahi semua sudut toko buku sampai saya hampir hapal buku-buku apa aja yang disimpan di rak-raknya :D

Bagian favorit saya adalah rak majalah dan buku import. Di kedua rak itu paling banyak kejutannya. Apalagi di rak buku import, I always adore everything from outside this country. I mean, the information, the culture, everything. Rasanya saya seperti melihat sesuatu di luar lingkungan saya and that's interesting for me. Serunya lagi kalo jalan ke Periplus. Yah sekalipun saya jarang beli di toko khusus buku import itu tapi saya betah banget melototin buku-buku yang ada di rak dan kadang juga baca yang segelnya udah kebuka. Hangout di toko buku itu seperti memuaskan dahaga karena keterbatasan buku import yang dijual di toko buku biasa. Yah, sekali lagi, meski saya nggak tentu beli sesuatu di situ.

Mengenai kegilaan saya untuk menjaga keutuhan buku koleksi saya, saya rasa masih wajar. Karena setiap orang pasti punya sesuatu yang dijaga bener-bener dan buat saya itu adalah buku koleksi saya. Buku-buku yang saya beli itu nggak asal beli, saya harus lihat review sana-sini sebelum memutuskan untuk membeli. Kecuali buku-buku yang sudah jaminan penulisnya oke kayak Meg Cabot atau Sitta Karina, saya pasti beli karya mereka. Terkadang buku yang saya beli juga buku-buku yang limited dan nyarinya susah atau malah sudah nggak diterbitin lagi. Karena itulah saya overprotected sama koleksi buku saya.

Koleksi buku punya saya haruslah masih kelihatan baru sampai kapanpun karena saya maniak tidiness. Kalaupun kertasnya mulai kecoklatan, paling nggak bentuknya masih rapi dan nggak menggulung di ujung-ujungnya. Kertasnya juga nggak boleh ada bekas lipatannya (untuk itulah diciptakan pembatas buku, sodara-sodara) atau bahkan keriting karena kena ludah (eww...) atau ketumpahan air dan tentunya ada konsekuensi kalau buku kesayangan saya sampai rusak. Selain disampul mika, buku-buku koleksi saya juga nggak boleh dibuka terlalu lebar untuk menjaga supaya kertasnya tetap awet nempel di perekatnya.

Itulah cara saya menghargai arti buku sebagai koleksi pribadi saya. Selain bentuk fisiknya harus terjaga, isi kandungan buku tentunya juga merupakan salah satu pertimbangan saya kenapa buku itu harus dijaga keutuhannya :]]


No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share