Monday, 10 November 2008

Hidden treasure

Mengingat KTP saya sudah expired, saya pun memutuskan untuk mengisi form yang dikasih nyokap. Itu form pembuatan KTP; baru, perpanjangan maupun penggantian. Lho bukannya bikin KTP itu di kelurahan? Iya, pegawai kelurahannya itu teman kantor bokap-nyokap saya. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri, jadi ya pegawainya yang nyamperin pemohon haha.

Pas sampe di bagian pengisian No.KK alias nomor kartu keluarga, saya nanya ke nyokap.

Saya : Ma, no.KK itu maksudnya nomor kartu keluarga?
Nyokap : Iya. KK-nya ada di lemari Mama.
Saya : Di laci?

Saya bergegas ke kamar di mana lemari nyokap berada, sampe nggak denger apa jawaban nyokap saking yakinnya saya kalau KK ada di laci lemari nyokap. Soalnya biasanya sih surat-surat ada di situ. Eh ternyata waktu saya buka lemari yang kebanyakan isinya korden, jilbab lama nyokap, koper-koper sama kain batik itu tidak saya temukan satupun benda yang sekiranya mirip Kartu Keluarga. Saya malah menemukan sebuah amplop coklat medium yang ada stempel Air Mail-nya berikut stiker nama yang cukup familiar buat saya. Itu kiriman surat dari Bude saya yang tinggal di Florida, USA. Saya raba, tebal juga isinya. Waktu mau saya buka, penutupnya ada perekatnya. Karena takut sobek, saya pun urung membuka satu-satunya surat dari Bude saya yang belum pernah saya lihat itu. Meskipun penasaran setengah mati!

Karena nggak nemuin yang saya cari, saya tutup itu lemari kayu raksasa yang sekompartemen sama lemari bokap. Saya pun ke kamar saya sendiri dan membuka laci di lemari baju. Ada map oranye yang awalnya saya kira berisi Kartu Keluarga ketika melihat plastik biru yang nongol keluar di sisi map. Setelah saya buka, ternyata isinya ijazah SD adik saya yang gede sama ijazah TK-nya. Di luar plastik biru, saya menemukan fotokopi ijazah nyokap waktu SD dan SMP, bahkan ada rapornya juga! Fotokopi ijazahnya aja udah coklat persis kayak perkamen kuno. Foto nyokap juga asli oldies banget, rambutnya masih potongan cepak model Lady Di dan sama sekali nggak mirip saya ahaha. Saya sempat mengamati daftar nilai ujian akhir nyokap waktu SMP and trust me nilai-nilainya masih bagusan saya dulu hehe. Waktu mau buka rapor-rapornya, eh kertasnya malah keriting dan lengket satu sama lain. Karena saya lagi buru-buru mau nyari Kartu Keluarga, saya memutuskan menunda membuka buku rapor kuno punya nyokap itu. Mungkin next time kalau udah nggak sibuk dan nggak ada orang di rumah (ntar bisa disetrap nyokap gara-gara membuka 'arsip' lamanya) hehe.

Nggak nemuin di kamar saya, saya konfirmasi ke nyokap.

Saya : Ma, kok nggak ada?
Nyokap : Di lemari, di dalam kresek Elizabeth*. Di map batik itu lho, Mbak.
Saya : Di bawah?
Nyokap : Iya, di tas-tas itu.

Saya ingat baik-baik kata kuncinya: map batik, kresek Elizabeth*. Saya buka lagi lemari kayu raksasa tempat baju-baju bokap dan nyokap disimpan. Setelah bongkar sana-sini, saya nggak nemu itu map batik tapi saya nemuin kresek Elizabeth* bening yang dari luar pun jelas kelihatan kalo isinya bukan map batik tapi tumpukan jilbab lama nyokap. Saya frustasi, jadi saya memutuskan untuk menyudahi pencarian ini dan berasumsi kalau nyokap saya lupa naruh atau udah mindahin ke tempat lain.

Saya pun membereskan form yang tadinya saya tinggal di ruang tamu, di mana nyokap saya lagi baca koran Minggu pagi.

Saya : Mama lupa naruh paling. Yang ada di lemari itu kresek Elizabeth* isinya jilbab, nggak ada map batik.
Nyokap : Kamu nyarinya di lemari mana?
Saya : Di kamar sini kan?? (nunjuk ke kamar di samping ruang tamu)
Nyokap : Lemari yang mana?
Saya : Lemari coklat itu kan??
Nyokap : Lemari Mama masa yang itu?! Bajunya Mama masa ditaruh di situ?

Saya bungkam. Saya memutuskan buru-buru berlalu sebelum sempat mendengar nyokap ngomel gara-gara kesalahan saya ini ada hubungannya dengan kesukaan saya make earphone. Maksudnya, saya jadi nggak denger apa yang nyokap katakan dengan baik. I'm not deaf and it has nothing to do with I-like-listening-music-with-my-PMP. Karena saya dengar dengan SANGAT baik kalau nyokap mengatakan bahwa kartu keluarga disimpan di 'Lemari Mama' dan yang saya tahu 'Lemari Mama' itu ya lemari kayu gede yang ada di kamar bokap-nyokap. Saya akui saya salah, tapi bukan karena masalah pendengaran. Tapi nalar saya. Hmm kali ini nalar saya nggak bekerja karena keterbatasan pengetahuan. It used to be my moms' closet. She bought a new closet because her old closet is too small for her clothes.

Mana ada surat penting dipisah dari surat-surat lainnya?! Ditaruh di lemari baru pula dan nggak disimpan di laci. Saya buka lemari yang letaknya persis di depan lemari kayu gede yang udah saya buka-tutup beberapa kali tadi. Bukan hadap-hadapan tapi lemari Mama yang sebenarnya ini menyamping di depan lemari kayu gede karena keterbatasan space di kamar. So you have to push it away if you wanna open the wooden closet's door. Lemarinya nggak terlalu besar dan mirip lemari penyimpanan baju sewaan, bedanya lemari nyokap kacanya gelap. Yap, dengan superpower persis seperti punya Jessica dalam HEROES, saya dorong itu lemari yang lumayan berat karena padat berisi baju nyokap (terima kasih pada ilmuwan-siapalah yang sudah menciptakan gaya gesek sehingga terciptalah benda ajaib bernama roda).

Dan akhirnya pencarian saya berakhir sudah, kresek Elizabeth* yang dimaksud nyokap ternyata teronggok di dasar lemari dan yah di dalamnya ada map batik (yang juga udah nyokap sebutin).

Map batik itu lumayan berat karena isinya juga lumayan banyak. Saya serasa membuka buku sihir kuno punya Harry, karena isi map batik itu semuanya adalah file-file yang kertasnya berwarna coklat karena sudah dimakan usia. Mulai akte kelahiran nyokap, saya, adik-adik saya (punya bokap ada di map lain karena file bokap sendiri aja lebih banyak dari semua file yang ada di map batik), ijazah nyokap (file asli), surat-surat pengangkatan nyokap jadi PNS dsb. Lucunya, saya juga nemuin daftar nama peserta tes Psikologi (IQ dan intelegensi) jaman saya kelas 5 SD dulu. Hasil tes itu menentukan apakah murid peserta tes tersebut layak masuk kelas Unggulan (istilahnya sih gitu) di SD saya dan menurut hasil tes itu saya dinyatakan layak. Malah tanpa disangka saya memiliki IQ paling tinggi nomor dua satu kelas! Di lembar kedua, saya lihat rincian kriteria kemampuan yang menandakan saya memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Lucunya lagi, kemampuan berhitung saya saat itu mencapai skala 9 0f 10. Gila nggak?! Kalau sekarang disuruh tes ulang, tentu aja cuma 4 of 10 atau lebih parah lagi mengingat saya langsung alergi sama yang namanya itung-itungan sejak masuk SMP.

Ada juga penjelasan mengenai kepribadian saya, motivasi, kreativitas dan social life. Yah sedikit banyak menggambarkan saya yang sekarang ini, which means kalo saya nggak begitu banyak berubah sekalipun saya merasa saya sudah jauh berubah sekarang. Ouw...khusus bagian kreativitas. Di situ dituliskan kalau perlu bimbingan supaya lebih terarah dan sebagainya. Ya, sejak masuk SD kesukaan saya pada seni (menggambar) memang menurun. I was better when I was in kindergarten. Tapi lepas SD, saya kembali menemukan sense of art saya lagi. Terutama sekarang :]]

Oh, ada juga yang lucu. Di bagian social life, dikatakan bahwa I tend to make people happy. Well, do I? Saya juga nggak tahu, mengingat saya bukan altruistik and I don't talk to people that much. So, I don't know how the psychologist interpreted me like that.

Saya juga nemuin lembar hasil tes psikologi dari lembaga yang sama (dengan urutan perincian yang juga sama) punya adik saya yang paling kecil (well, SD kita sama). Lucu aja membaca hasil tes Psikologi adik saya yang diambil 5 tahun yang lalu itu, karena memang dia banget ahaha. Dibandingkan saya, adik saya itu dikategorikan ke dalam kecerdasan rata-rata (110-119). Saya nggak tahu tepatnya berapa, tapi itu sudah membuktikan sekalipun dalam satu keluarga, belum tentu IQ-nya sama.

Yah, itu kan masa lalu. IQ dan tingkat kecerdasan seseorang berubah seiring bertambahnya waktu dan intensitas stimulus yang mendukung perubahan tersebut. Apalagi IQ saya itu tergolong IQ anak-anak dan IQ anak-anak berbeda dengan IQ orang dewasa. Terakhir saya cek, waktu kelas XII, pas lagi seru-serunya milih jurusan buat kuliah. Di mana berdasarkan hasil tes Psikologi (yang saya kerjakan sungguh-sungguh dan saya dalam kondisi sehat wal afiat) saya masih memiliki tingkat IQ yang sama. Berdasarkan hasil tes itu pula, pilihan jurusan kuliah yang disarankan adalah:
1. Perpajakan
2. Arsitektur
3. Teknologi Informasi

Saya diharuskan menuliskan pilihan jurusan yang saya inginkan terlebih dahulu di mana urutannya seharusnya ialah:
1. Hubungan Internasional
2. Teknologi Informasi
3. Arsitektur

Jadi, jurusan Perpajakan itu saya tidak tahu ditentukan berdasarkan kemampuan saya yang belah mana karena setau saya, saya nggak suka ngerjain hal-hal berbau akuntansi atau yang menghitung keuangan dalam suatu tabel berbanding (debit-kredit) and I'm terrible at counting. Yah, nggak parah-parah amat sih emang tapi I'd better say no for counting. Everything!

Lucunya, bokap saya itu sarjana ekonomi jurusan akuntansi yang pekerjaannya ya berhubungan sama hitung menghitung duit. Parah lah pokoknya, ngurusin daftar simpan-pinjam duit di bank yang kebetulan direkturnya itu bokap saya. Ngebayanginnya aja bikin kepala saya pusing! So, it has nothing to do with genes factor.

Dari bongkar-bongkar arsip lama di 3 lemari, I feel like just revealed something. I feel like finding a hidden treasure. Masih banyak lagi yang saya temuin di 'map batik' yang bikin saya sama nyokap sempat ngotot-ngototan itu. Masih banyak lagi surat-surat yang bikin saya senyum-senyum sendiri waktu membacanya. Untung nggak kegeb nyokap! hehe


1 comment:

  1. hUa..
    pertamaxXx nih
    moga gk ada surat2 kita ya disana...
    kita?...hehee
    ktp nya dah lewat, akU punya kenalan pak lurah ny...(sok jadi calo)...wualah..
    hidden treasure....hide..hide..
    Yup !

    ReplyDelete

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share