Monday, 12 May 2008

SURVIVAL

Sensasi hangat menerpa wajahku, saat kubuka mata untuk melihat waktu, ternyata pagi sudah menjelang. Sinar matahari pun sudah merayap masuk melalui jendela kamarku. Nyamannya suasana pagi itu terusik oleh suara gaduh di luar rumah, kudengar gemuruh suara yang begitu memekakkan telinga.


Buru-buru kubangkit dari tempat tidur, ketika keluar dari kamar, kulihat ibu dan kedua adikku sibuk menyelamatkan semua makanan yang seharusnya merupakan sarapan kami. Ibu memerintahkan kami untuk bergegas meninggalkan rumah, menyelamatkan diri. Saat kutengok halaman belakang, ternyata Bunny (kelinci putih peliharaanku) masih berkeliaran. Kusuruh adikku yang paling kecil untuk memancingnya masuk dengan makanannya (wortel dan jagung), tapi ibuku berseru "Ayo, kita harus segera meninggalkan rumah!". Kuharap Bunny baik-baik saja.


Dengan pakaian seadanya (hanya pants dan kaos butut), aku meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Di luar, asap menyelimuti hampir semua pandangan di hadapanku. Bau khas yang menyengat terasa menusuk hidung. Kami pun memutuskan untuk berkumpul bersama tetangga yang lain di tempat yang lebih aman.


Ketika keadaan dirasa sudah aman, kami memutuskan kembali ke rumah. Kulihat asap masih mengepul dari dalam rumah, adikku yang paling besar memberanikan diri menerobos masuk dan menyalakan kipas angin untuk mempercepat hilangnya asap. Beberapa saat kemudian, rumah pun sudah mulai tampak isinya (meski di bagian garasi masih gelap tertutup asap). Aku pun langsung berlari ke halaman belakang untuk mencari kelinciku yang tadi masih berkeliaran, ditemani adikku yang paling kecil. Namun hasilnya nihil. Bunny tidak ditemukan! Adikku berasumsi Bunny lari menyelamatkan diri lewat pintu depan yang memang ditinggalkan terbuka ketika asap menyeruak keluar dari dalam rumah. Aku pun memeriksa halaman depan untuk mencari-cari sosok putih berbulu yang menggemaskan itu, tapi hasilnya sama; tidak kutemukan.



Entah kenapa feeling-ku mengatakan Bunny masih ada di halaman belakang. Berkali-kali adikku memanggil namanya sambil mengacung-acungkan wortel di tempat-tempat favoritnya berdiam kala mentari sedang terik-teriknya; di antara gentong air, di bawah pohon bunga hibiscus, di dekat pojok pembakaran sampah (saat itu sedang tidak ada sampah yang dibakar!) dan sudut-sudut yang memungkinkan Bunny bersembunyi. Hingga kegilaanku menguasai akal sehatku, "Masa sembunyi di balik sini?" kataku sambil mengintip di sela daun pintu yang terbuka dan hampir menempel dengan tembok (FYI, ini pintu menuju halaman belakang). Gelap sih, tapi aku bisa melihat ada makhluk yang bergerak-gerak di dalamnya. "Ketemu!" seruku gembira. Adikku pun membuka pintu yang diganjal mepet tembok itu supaya Bunny bisa keluar (karena Bunny punya kebiasaan: bisa masuk, nggak bisa keluar gara-gara ukuran badannya yang obesitas) dengan mudah. "Mungkin dia ketakutan jadi bersembunyi di situ." kata ibuku menimpali.


Oh Bunny, maafkan aku yang sudah ninggalin kamu tadi. Aku jadi merasa bersalah ninggalin Bunny sendirian, ketakutan. Mungkin dalam hati Bunny membatin, "Majikan macam apa kamu ini!" Bunnnnnnnyyyyyyyy I love youuuuuuuuu..........


Oke... Oke... cerita di atas emang sepenuhnya karangan belaka, dramatisasi banget. Keadaan yang sebenarnya adalah di hari Minggu yang cerah saya dibangunkan oleh gemuruh suara yang memekakkan telinga yang asalnya dari alat fogging Demam Berdarah. Yap, waktu itu lagi ada fogging di RW rumah saya :] Tapi soal Bunny hilang dan sembunyi di balik pintu itu, sepenuhnya real nggak ada yang dikarang. It's just for fun anyway :]

No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share