Tuesday, 13 May 2008

I Love Playing Cops

Ketika sedang enak-enak nonton The Departed di TransTv, tiba-tiba mata saya menangkap sesosok hewan yang merayap anggun ke bawah meja komputer di dekat saya (waktu itu lagi tiduran di bawah). Sekilas saya lihat hewan itu datang dari kerajaan semut, hanya ukurannya lebih besar 5 kali lipat, seukuran kecoa cuma kecilan dikit. Karena sebelumnya saya pernah dikejutkan oleh kepala ular yang tiba-tiba nongol di tempat yang sama dan situasi yang sama, tidak ingin menambah trauma--bangkitlah saya dari posisi ter-PW sepanjang masa tadi.

Saya pun langsung mengambil semprotan baygon dan langsung memberondong tembakan ke bawah meja komputer di mana hewan itu bersembunyi. Tidak ada reaksi, yang ada malah bau busuk yang tiba-tiba menguap di sekeliling situ. Artinya, si hewan sedang melakukan aksi balasan dengan mengeluarkan gas busuk dari badannya (mirip kutu busuk deh ini semut!). Oke, saya pun tak mau kalah, tembakan diluncurkan untuk kedua kali. Baunya sudah mulai mereda, mungkin si semut udah KO jadi nggak kuat ngeluarin serangan balasan (baca: bau busuk).

Mengira keadaan aman, saya pun kembali duduk menikmati aksi 2 cowok ganteng di film The Departed (Matt Damon dan Leonardo D'Caprio, serasa beli 1 dapat 2 hehe). Eh, tiba-tiba di bawah karpet yang saya duduki terdengar bunyi krasak-krusuk. Sepertinya ada yang bergerak-gerak di bawah karpet. Apakah gerangan?

Ternyata si semut masih hidup sodara-sodara! Dia menyelinap keluar kolong meja dan masuk tepi karpet yang agak melengkung sehingga ada celah kosong yang bisa dimasukin. Rupanya si semut memilih perang gerilya. Oke, saya jabanin!

Saya pikir amunisi baygon masih kurang ampuh, jadilah saya mengambil senjata tradisional yang sudah terkenal sejagad persilatan, Touya sakti Sun Go Kong alias sapu rumah. Belajar dari semua film action dan film-film polisi yang sudah pernah saya tonton, berlindung di balik dinding sebelum mendobrak pintu yang terkunci adalah kunci aman dari serangan lawan. So, I did it.

Saya buka karpet dari arah berlawanan dengan arah masuknya si semut bau, dengan kaki. Si semut masih berjalan anggun layaknya Lady Di kawinan. Oh, semut ini bernyawa 10 rupanya! Baygon yang ditelen manusia aja bisa menyebabkan kematian, eh konsumen utamanya justru nggak mati (pesan buat produsen baygon: ramuannya perlu dikaji ulang, jangan ngecewain konsumen donk!).

Awalnya, saya pikir tembakan di awal tadi mungkin meleset, jadi saya menembaknya (maksudnya, menyemprot) sekali lagi dengan baygon. Hadirin sekalian, si semut masih kayak Lady Di! Dia hidup! Dia masih hidup!! Oh anakku... (Loh??). Karena nggak mati juga pake baygon, langsung aja saya gunakan kehebatan jurus Touya sakti warisan Sun Go Kong yang saya kuasai. Jebret! Matilah si semut dengan 2 kali tebas (yang sekali, kakinya masih gerak-gerak).
Setelah dilihat lebih teliti (layaknya ilmuwan biologi), ternyata si semut merupakan semut indo alias hasil perkawinan silang. Antara apa dan apa? Semut vs Laba-laba. Kaki si semut banyak bulunya kayak laba-laba dan jumlahnya lebih dari 4 pasang. Mungkin emaknya dulu juga selingkuh sama Om Kaki Seribu (Jangan ditiru ya adik-adik di rumah!).

Well, setelah si semut bau (oh ya, bau busuk turunan dari siapa ya? Hmmm...) ko-it, saya pun mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya secara terhormat layaknya serangga-serangga pada umumnya. Saya seret itu semut pake sapu dan layaknya pegolf profesional, saya pukul si semut keluar lewat lubang kecil di bawah pintu (pura-puranya ini lubang golf-nya) --tentunya pake sapu.

Demikianlah kisah perjuangan agen rahasia 007 memberantas kejahatan. Selamat jalan semut indo, semoga perjuanganmu bisa dikenang oleh anak-cucumu kelak. Berdoa selesai.

No comments:

Post a Comment

I'd love to read all your sweet comments.
Please leave it on the box below and I'll reply as soon as I can :)
Have a nice day! x

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin

Share